Sidowarno Kampung Wayang, Memoles 'Mutiara Terpendam' di Pinggir Sungai Bengawan

Medapat julukan pusat produksi wayang, Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Klaten membenahi regenerasi perajin hingga kampung wisata.

Penulis: Asep Abdullah Rowi | Editor: Asep Abdullah Rowi
TribunSolo.com/Asep Abdullah
Wayang yang sudah siap diambil pemesan dari berbagai daerah di Indonsia di pusat tatah sungging di Dukuh Butuh, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 

Melalui kelompok yang beranggotakan puluhan perajin atau penatah itu, Saleh berharap Kube Bima tidak hanya menjadi wadah.

Tetapi menjadi bagian penting dalam usaha membangkitkan minat generasi muda untuk mulai berbondong-bondong belajar tatah sungging seperti leluhurnya.

"Kalau bukan anak-anak muda siapa lagi? Saya sudah mewarisi sejak zaman orang tua," jelas dia.

Cerita Dalang Cilik Sukoharjo, Terinspirasi dari Ayah hingga Kini Mahir Bawakan Cerita Pewayangan

Kisah Kakek La Ode Wisuda di Usia 85 Tahun Jadi Sarjana Sastra, Semasa Kuliah Diajari Murid SMP-nya

Dipesan Dalam dan Luar

Bendahara Kube Bima, Pendi Istakanudin menjelaskan, usaha sekuat tenaga dilakukan di dalam kelompoknya untuk melestarikan warisan leluhur menjadi penatah wayang sejak tahun 1955.

Awalnya Dukuh Butuh bisa menjadi pusat pembuatan wayang ada sejumlah leluhurnya belajar teknik tatah sungging tidak jauh dari kampungnya yakni di Kelurahan Sonorejo, Kabupaten Sukoharjo.

Namun seiring berjalannya waktu justru Dukuh Butuh yang justru berkembang pesat dan menjadi pusat tatah sungging terbesar karena hampir mayoritas warganya menggelutih tatah sungging, hingga mencapai 200-300 perajin.

Hanya saja saat ini tinggal ada 70 perajin.

Puncak kemerosotan saat terhantam krisis moneter 1998.

“Yang tergolong muda berusia 20-35 tahun ada 10 orang, sisanya 60 orang berumur 35 tahun ke atas,” ungkapnya.

Maka dari itu, tidak ada kata lelah untuk membangkitkan minat anak-anak muda dalam mempelajari kerajinan tatah sungging yang sudah turun temurun menjadi ikon di Dukuh Butuh.

"Bahkan kita satu-satunya di Klaten yang satu dukuh/kampung menggeluti tatah sungging," jelas dia.

"Kita harus akui jika dulu ada ratusan perajin, terhedonis dengan lingkungan, kemudian menyusut jumlahnya," harapnya.

Disebutkannya, banyak di antara anak-anak muda yakni putra dari para perajin yang lebih memilih merantau ke kota baik Solo, Semarang hingga Jakarta, kerja di pabrik atau karyawan perusahaan tertentu.

"Makanya kami berusaha membangkitkan minat anak-anak muda dalam beberapa tahun ini," tutur dia.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved