Pembukaan Pasar Budaya Sangiran

Tema 'Sangiran Mantu' Diangkat saat Pembukaan Pasar Budaya di Sragen, Ini Kisahnya

"Sesuai dengan cerita rakyat dari sini yaitu bertemunya Wiro Sangir dengan Dewi Sangir yang menjadi legenda," kata Lurah Pasar Budaya Sangiran.

Tayang:
Penulis: Rahmat Jiwandono | Editor: Asep Abdullah Rowi
TribunSolo.com/Rahmat Jiwandono
Mempelai pria berperan sebagai Wiro Sangir yang naik getek untuk bertemu Dewi Sangir saat pembukaan Pasar Budaya Sangiran di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jumat (13/11/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Rahmat Jiwandono 

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Tema 'Sangiran Mantu' diangkat dalam acara pembukaan Pasar Budaya di Dusun Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

"Sesuai dengan cerita rakyat dari sini yaitu bertemunya Wiro Sangir dengan Dewi Sangir yang menjadi legenda," kata Lurah Pasar Budaya Sangiran, Putut Ari Wibowo kepada TribunSolo.com, Jumat (13/11/2020). 

Tema itu dipilih karena sangat melekat pada masyarakat sekitar. 

"Cerita itu kami kisahkan dalam kehidupan nyata," kata dia. 

Baca juga: Beli di Pasar Budaya Sangiran Sragen Harus Tukar Rupiah dengan Koin,Sensasi Tempo Dulu Begitu Terasa

Baca juga: Letak Museum Purbakala Ada di Daerah Lain, Warga Asli Sangiran Ungkap Tak Kena Dampak Ekonominya

Ia menyampaikan, pembukaan pasar budaya diawali dengan kirab di Sungai Cemara. 

Di sungai itu sudah ada sebuah getek yang dinaiki calon mempelai pria dan didampingi dua orang menggunakan baju lurik khas Jawa. 

Dua pria yang mendampingi berada di depan dan belakang si mempelai pria. 

Mereka membawa dua bilah bambu berukuran panjang untuk mendayung getek. 

Lalu di kiri dan kanan sungai, masing-masing ada 20 orang yang mengiringi dengan pakaian adat Jawa di antaranya lurik.

"Ada bregada, mereka berasal dari padepokan silat di sini," paparnya. 

Sekitar pukul 14.34 WIB, kedua orang tadi pelan-pelan mulai mendayung getek. 

"Geteknya berjalan kurang lebih 500 meter," katanya. 

Mereka mengantarkan si mempelai pria untuk bertemu dengan mempelai perempuan yang sudah menunggu di ujung sungai. 

"Kurang lebih ceritanya sangiran mantu seperti itu. Pengantin itu cuma simbolis saja, tidak menikah betulan," tambahanya.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved