Berita Sragen Terbaru
Jaring Bibit Potensial Atlet Silat, PSHT Gelar PSHT Cup II Sragen, 127 Pesilat Bertanding
Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) wilayah barat Sragen menggelar kejuaraan pencak silat PSHT Cup II di gedung Balai Desa Sidoharjo Sragen.
Penulis: Rahmat Jiwandono | Editor: Adi Surya Samodra
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Rahmat Jiwandono
TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) wilayah barat Kabupaten Sragen menggelar kejuaraan pencak silat PSHT Cup II di gedung Balai Desa Sidoharjo, Kecamatan Sidoharjo, Sragen.
Kejuaraan ini diadakan selama dua hari mulai Sabtu (3/4/2021) hingga Minggu (4/4/2021).
Ketua Panitia PSHT Cup II, Nano Suyatno mengatakan, total jumlah peserta yang ikut bertanding pada kejuaraan ini ada 127 orang.
"127 peserta ini berasal dari delapan ranting yang ada di wilayah barat Sragen," ungkapnya saat ditemui TribunSolo.com, Minggu (4/4/2021).
Dijelaskannya, delapan ranting yang berpartisipasi pada kejuaraan PSHT Cup II seperti Sidoharjo, Masaran, Tanon, Plupuh, Sumberlawang, Gemolong, Kalijambe, dan Miri.
Baca juga: Meski Jadwal Kejuaraan 2021 Belum Pasti, Atlet dari 6 Cabor Asal Karanganyar Tetap Panasi Mesin
Baca juga: Akibat Virus Corona, Pelari Lalu Muhammad Zohri Batal Ikut Kejuaraan Atletik di China
"Masing-masing dari delapan ranting itu mendaftarkan muridnya mulai dari SD sampai SMA," paparnya.
Menurut Nano, tujuan digelarnya acara tersebut guna menjaring bibit atlet pencak silat.
"Khususnya untuk penjaringan bibit atlet pencak silat dari wilayah barat Sragen," katanya.
Adapun jumlah juri yang didatangkan sebanyak 14 orang.
"Juri-juri tersebut yang menilai teknik pukulan, tendangan, dan jatuhan," jelasnya.
Bikin Kagum
Sebelumnya, Pembukaan Pasar Budaya Sangiran juga menyajikan keahlian pencak silat khas lokal.
Ada yang berbeda, tidak hanya warga lokal datang menyaksikan prosesi demi prosesi di Dusun Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada Jumat (13/11/2020).
Tetapi ternyata ada turis asal Belanda bernama Altriana.
Dia mengaku kagum dengan pertunjukkan seni bela diri pencak silat dalam pembukaan pasar budaya.
Baca juga: Tema Sangiran Mantu Diangkat saat Pembukaan Pasar Budaya di Sragen, Ini Kisahnya
Baca juga: Beli di Pasar Budaya Sangiran Sragen Harus Tukar Rupiah dengan Koin,Sensasi Tempo Dulu Begitu Terasa
Menurutnya, dia tidak pernah melihat aksi memecahkan batako dengan kepala manusia.
"Saya kagum kepala mereka tidak ada yang luka sama sekali saat memecahkan batakonya," ujarnya kepada TribunSolo.com.
Saat ditanya apakah ia percaya jika dalam aksi itu ada unsur supranatural, dia mempercayainya.
"Sebab berdasarkan observasi saya selama tinggal di sini hal seperti itu (supernatural) ada," katanya.
Ia menambahkan, acara yang punya unsur budaya seperti ini perlu terus dilestarikan.
"Karena kalau aku lihat banyak anak muda yang tidak tertarik," tutur perempuan asal Rotterdam itu.
Cerita Wiro Sangir dan Dewi
Tema 'Sangiran Mantu' diangkat dalam acara pembukaan Pasar Budaya di Dusun Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
"Sesuai dengan cerita rakyat dari sini yaitu bertemunya Wiro Sangir dengan Dewi Sangir yang menjadi legenda," kata Lurah Pasar Budaya Sangiran, Putut Ari Wibowo kepada TribunSolo.com, Jumat (13/11/2020).
Tema itu dipilih karena sangat melekat pada masyarakat sekitar.
"Cerita itu kami kisahkan dalam kehidupan nyata," kata dia.
Baca juga: Beli di Pasar Budaya Sangiran Sragen Harus Tukar Rupiah dengan Koin,Sensasi Tempo Dulu Begitu Terasa
Baca juga: Letak Museum Purbakala Ada di Daerah Lain, Warga Asli Sangiran Ungkap Tak Kena Dampak Ekonominya
Ia menyampaikan, pembukaan pasar budaya diawali dengan kirab di Sungai Cemara.
Di sungai itu sudah ada sebuah getek yang dinaiki calon mempelai pria dan didampingi dua orang menggunakan baju lurik khas Jawa.
Dua pria yang mendampingi berada di depan dan belakang si mempelai pria.
Mereka membawa dua bilah bambu berukuran panjang untuk mendayung getek.
Lalu di kiri dan kanan sungai, masing-masing ada 20 orang yang mengiringi dengan pakaian adat Jawa di antaranya lurik.
"Ada bregada, mereka berasal dari padepokan silat di sini," paparnya.
Sekitar pukul 14.34 WIB, kedua orang tadi pelan-pelan mulai mendayung getek.
"Geteknya berjalan kurang lebih 500 meter," katanya.
Mereka mengantarkan si mempelai pria untuk bertemu dengan mempelai perempuan yang sudah menunggu di ujung sungai.
"Kurang lebih ceritanya sangiran mantu seperti itu. Pengantin itu cuma simbolis saja, tidak menikah betulan," tambahanya.
Tukar Koin Kuno
Pembukaan Pasar Budaya Sangiran di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen menawarkan kuliner serta kerajinan asli Sangiran.
Namun untuk bisa membeli makanan ataupun kerajinan, pengunjung harus menukarkan mata uang rupiah dengan koin kuno terlebih dahulu.
"Cukup dengan uang Rp 2.500 bisa menukarkan koin," ujar salah satu pengurus, Paryanti saat ditemui di lokasi pada Jumat (13/11/2020).
Ia mengatakan, satu keping koin yang dibeli dengan harga Rp 2.500, tapi ketika dibelanjakan nominalnya hanya Rp 2.000.
Baca juga: Warga Dusun Sangiran Sragen Bangkit di Tengah Pandemi, Buat Pasar Budaya Demi Jadi Desa Wisata
Baca juga: Letak Museum Purbakala Ada di Daerah Lain, Warga Asli Sangiran Ungkap Tak Kena Dampak Ekonominya
Adapun yang dijual dalam pasar budaya tersebut adalah hasil bumi.
"Ada yang jual umbi dan pisang hasil dari tanaman warga sini," kata dia.
Selain itu, untuk kerajinan tangan yang dijual ialah di antaranya dari pohon bambu hingga batu.
"Bambunya diubah menjadi wakul, besek, caping, dan tampah," jelasnya.
Lurah Pasar Budaya Sangiran, Putut Ari Wibowo menambahkan, setidaknya ada 30 penjual yang tergabung dalam pasar budaya tersebut.
"Yang utama dijual ya kuliner asli Sangiran dan kerajinan," katanya.
Ingin Jadi Desa Wisata
Sebelumnya, warga di Dusun Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen menggagas pasar budaya.
Pasar budaya akan mulai dibuka hingga sampai Minggu (15/11/2020).
Lurah Pasar Budaya Sangiran, Putut Ari Wibowo menjelaskan, tujuan dari adanya pasar budaya adalah untuk menjadikan Dusun Sangiran sebagai desa budaya.
"Kami ingin membuat desa budaya Sangiran," paparnya saat pembukaan, Jumat (13/11/2020).
Baca juga: Letak Museum Purbakala Ada di Daerah Lain, Warga Asli Sangiran Ungkap Tak Kena Dampak Ekonominya
Baca juga: Sejarah PG Gondang Baru Klaten : Didirikan Belanda 1860, Berhenti Operasi 2017 karena Kalah Bersaing
Ke depannya, ia mentargetkan dari desa budaya menjadi desa wisata.
Diakuinya, gagasan ini sudah ada sejak lama namun karena belum menemukan konsep pasar budaya yang berbeda dengan lainnya maka sempat tertunda.
"Sekarang baru bisa terealisasi," ujarnya.
"Sebenarnya sudah mau membuat acara seperti ini sejak 2016 lalu," katanya.
Warga Sangiran, Paryanti mengatakan, pasar budaya kali baru pertama kali dibuat.
Jika acara ini sukses maka akan diselenggarakan setiap 35 hari sekali.
"Ini baru pertama kali dibuat," tuturnya.
Tak Dongkrak
Keberadaan Museum Purbakala Sangiran ternyata tidak memberi dampak ekonomi terhadap warga sekitar.
Kenapa begitu?
Ya, menurut penuturan warga, museum tersebut ternyata berada di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.
Bukan di Padukuhan Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
"Nama Sangarin, tapi letaknya di daerah lain," kata Paryanti warga Padukuhan Sangiran saat pembukaan pasar budaya, Jumat (13/11).
Baca juga: Kpw BI Solo Gulirkan Rencana Pengembangan Sistem Non Tunai di Umbul Ponggok dan Sangiran
Baca juga: PG Gondang Baru Bangkit dari Kubur Jadi Pusat Agrikultur, Tol Solo-Jogja Bisa Mendukung Lalu Lintas
Paryanti mengungkapkan, selama ini nama besar Sangiran tidak berdampak pada perekonomian warga sekitar.
"Nama Sangiran itu tidak membawa income untuk warga, karena letaknya di daerah lain," katanya.
Menurut dia, nama Sangiran adalah tempat ia tinggal.
"Yang asli nama Sangiran itu ya di sini," tuturnya.
Oleh karena itu, warga setempat berinisiatif untuk mengadakan festival desa budaya.
Harapannya mampu mengudang wisatawan untuk berkunjung ke Padukuhan Sangiran yang asli.
"Kami ingin ada penghasilan tambahan bagi warga sekitar," kata dia.
"Khususnya untuk para pedagang," tambahnya.
Luas Sangiran
Situs Manusia Purba Museum Sangiran memiliki luas 59,2 kilometer persegi.
Di dalamnya, juga terdapat hunian hingga 100 ribu lebih warga yang mendiami kawasan yang masuk dalam empat kecamatan dari Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar.
Warga pun mendapat kesempatan mencari fosil di kawasan situs untuk menambah koleksi purbakala Museum Sangiran.
Demikian disampaikan oleh Kepala Seksi Pemanfaatan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Museum Sangiran (BPSMP), Iwan Setiawan Bimas, dalam kunjungan peserta pelatihan Tribun Editorial Development Programme (TEDP) Batch V di Museum Sangiran, Sragen, Kamis (1/11/2018) siang.
• Ini Alasan Cucu Pendiri NU Bergabung Jadi Juru Bicara Pasangan Prabowo-Sandiaga
Dalam kesempatan itu, Iwan menerangkan, sudah sejak lama masyarakat dilibatkan dalam proses pencarian fosil.
"Pencarian (fosil, Red) melibatkan masyaralat setempat," jelasnya.
"Kita juga melakukan upaya-upaya agar masyarakat berpartisipasi menunjang pelestarian situs Sangiran."
Hal tersebut, kata dia, juga sejalan dengan status yang disandang Sangiran sebagai situs warisan dunia alias World Heritage Unesco pada 1996.
Di lokasi seluas 59,2 kilometer persegi itu, warga juga tak boleh sembarangan mendirikan bangunan.
• Best Western Premier Solo Baru Raih Certificate Excellent dari TripAdvisor
Karena seluruh area berstatus situs fan diduga menyimpan segala fosil yang dapat diungkap seluk-beluknya.
Justru, Pemerintah menggaet masyarakat untuk menjadi honorer serta peneliti dan pencari fosil sebagai upaya pelestarian situs Sangiran.
Adapun, kunjungan 48 calon editor perwakilan Tribun se-Indonesia itu dipimpin oleh General Manager Tribunnews Solo, Vovo Susatyo.
Para peserta pelatihan mendapat kesempatan menonton film pendek awal mula situs Sangiran ditemukan hingga ditetapkan sebagai situs serta lokasi penelitiam benda purbakala.
• Dinas Perdagangan Solo Kunci Data Pedagang Pasar Legi Demi Hindari Pedagang Siluman
Setelah mengikuti pemaparan dan sesi tanya jawab dengan pengelola museum, peserta pelatihan berkeliling melihat koleksi museum.
Terdapat ratusan fosil, satu di antaranya adalah fosil Homo Erectus, sebagai penemuan fosil terlengkap di situs Sangiran.
Sebagai informasi, Museum Sangiran berada di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
Dari Kota Solo, Museum Sangiran dapat ditempuh sekitar 30 menit melalui Jalan Solo-Purwodari.
Atau berkisar 20 menit jika ditemouh via Jl Ngemplak, Boyolali. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/psht-cup.jpg)