Berita Sragen Terbaru
Kisah Kegigihan Sertu Bambang Awak Kapal KRI Nanggala : Sebelum di TNI AL, Pernah Daftar AU dan AD
Di balik sosok Sertu Bambang Prianto, ada semangat kegigihan yang membara sejak muda.
Penulis: Fristin Intan Sulistyowati | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Fristin Intan Sulistyowati
TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Di balik sosok Sertu Bambang Prianto, ada semangat kegigihan yang membara sejak muda.
Bagaimana tidak, sebelum diterima di TNI AL, warga asli Kampung Ngadirejo RT 30 RW 42, Kelurahan Kroyo, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen pernah mencoba lainnya.
Kakak Kandung Bambang, Paniyem menerangkan, adiknya pernah mencoba mendaftar Angkatan Udara (AU) hingga Angkatan Darat (AD) tetapi tidak lulus.
"Semua sudah dicoba, yang terakhir ketiga daftar AL, diterima saking gigihnya," ungkap dia saat ditemui TribunSolo.com, Sabtu (24/4/2021).
Baca juga: Keluarga Awak KRI Nanggala Asal Sragen Temui Istri Sertu Bambang : Tunggu Kabar Bersama di Surabaya
Baca juga: Viral Seorang Personel KRI Nanggala Dikunci Anak di Kamar Sebelum Bertugas, Ternyata Begini Faktanya
Karena kegigihan yang ditunjukkan adiknya dan keinginannya menjadi prajurit TNI, pihak keluarga tetap mendukungnya.
"Dianya pengen banget, jadi pihak keluarga ya dukung sepenuhnya," ungkapnya.
Masuknya Bambang di TNI AL membuat bangg ibunya yang baru 100 hari meninggal dunia.
Terlebih jerih payah ibundaya sebagai pedagang ayam di Pasar Sragen, memicu Setu Bamban memberikan yang terbaik dalam karirnya.
Bambang merupakan anak terakhir dari enam bersaudara.
Adapun dua kakaknya juga berprofesi sebagai aparat negara di Indonesia.
"Ada kakaknya nomer tiga polisi dan nomer lima ada TNI tapi bagian kesehatan jadi perawat di Jogja," ungkapnya.
Sisi lain Bambang, kala masih muda juga energik karena memiliki hobi memodifikasi sepeda motor.
"Dulu itu pas SMA, hobinya modif-modif sepeda motor itu di samping rumah," ungkapnya
Berangkat ke Surabaya
Keluarga awak KRI Nanggala-402 terus menunggu kabar pencarian kapal selam tersebut.
Di antaranya keluarga Sertu Bambang Prianto (40) awak kapal berasal dari Kampung Ngadirejo RT 30 RW 42, Kelurahan Kroyo, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.
Kakak kandung Bambang, Sri Rahayu mengatakan, keluarga di Sragen berencana berangkat ke Surabaya sore ini.
Mengingat semenjak jadi prajurit TNI AL, Sertu Bambang pindah ke Surabaya.
"Sore ini berangkat ke Surabaya," ungkap kepada TribunSolo.com, Sabtu (24/4/2021).
Baca juga: 4 Fakta Awak KRI Nanggala-402 Asal Sragen : Keluarga Doa Bersama,Sertu Bambang Sosok Prajurit Sejati
Baca juga: Nekat Mudik ke Sragen? Warga Masaran Bisa Dijebloskan Jalani Karantina di Rumah yang Dikenal Angker
Sri Rahayu menjelaskan nantinya akan langsung ke rumah Sertu Bambang Prianto di Surabaya.
"Langsung ke rumah, semua akan nunggu kabar di rumah Surabaya," ungkapnya.
Untuk itu, kegiatan doa bersama hari ini di rumah Sragen ditiadakan.
"Tapi tadi di rumah Surabaya ada doa bersama di pandu dari sini," kata dia.
Keluarga yang di Surabaya yakni istri Bambang, Heppy dan ketiga anaknya saat ini masih menunggu kabar dari TNI AL
"Istrinya sama anaknya nunggu di rumah semua, katanya kalau ada kabar baru diberitahu sama pihak pusat," jelasnya.
Namun sampai hari Sabtu ini, anak dari Bambang belum yang pertama belum diberi kabar.
"Anaknya yang pertama belum di kasih kabar, dia lagi di pesantren lagi ujian," terang dia.
"Tapi hari ini mau dijemput langsung, pas selesai ujian," akunya
Selain itu kakak Bambang lainnya, Paniyem masih belum percaya akan kabar hilang kotak kapal selam tersebut.
"Kemaren pas pulang 100 hari meninggal ibu sempat ngater saya ke bank dan masih di nikahan keponakan," ungkapnya.
"Mohon doanya semua, semoga cepat di temukan," lanjutnya.
Paniyem juga menyebutkan setiap pulang pasti sama istri dan ketiga anaknya.
"Karena ibu awal tahun ini sakit, jadi Bambang pasti pulang nengok ibu, ngater berobat juga," jelas dia.
4 fakta awak KRI Nanggala asal Sragen tersebut :
Baca juga: 72 Jam Berlalu, KRI Nanggala-402 Belum Juga Ditemukan, Cadangan Oksigen Cuma Bertahan Tiga Hari
Baca juga: KRI Nanggala 402 Hilang Kontak di Perairan Bali, Keluarga di Sragen Gelar Doa Bersama
1. Keluarga Sempat Kaget
Sertu Bambang Prianto (40) sempat pulang ke Sragen pada Maret 2021 kemarin.
Kepulangan tersebut untuk mengikuti kegiatan memperingati 100 hari meninggalnya sang ibu.
"Saya terakhir ketemu dengan dia pada 18 Maret 2021," jelas kakak kandung Bambang, Sri Rahayu kepada TribunSolo.com, Jumat (23/4/2021).
Bahkan mendengar kabar hilangnya KRI Nanggala yang di dalamnya ternyata ada adik kesayangannya itu, membuatnya kaget.
Dia berharap supaya ada keajaiban untuk semua orang yang ada di KRI Nanggala-402.
"Saya berharap semuanya selamat dan segera ditemukan. Termasuk adik kandung saya Mas Bambang," kata dia.
Ia menuturkan, selama ini adiknya tersebut tinggal di Surabaya.
"Setelah diterima jadi anggota TNI AL, dia tidak lagi tinggal di Sragen. Langsung pindah ke Surabaya," paparnya.
2. Gelar Doa Bersama
Keluarga Sertu Bambang Prianto (40) menggelar doa bersama di rumah orang tuanya di Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.
Pantauan TribunSolo.com, doa bersama dilakukan Jumat (23/4/2021) pada pukul 16.30 WIB.
Adapun yang ikut mendoakan adalah tetangga sekitar berjumlah 15 sampai 20 orang.
"Kami gelar doa bersama supaya ada keajaiban dan semua bisa ditemukan dalam keadaan selamat," tutur kakak kandung Bambang, Sri Rahayu.
Baca juga: Oksigen KRI Nanggala-402 Kian Menipis, Tim Pencari Sempat Deteksi Pergerakan 2,5 Knots lalu Hilang
Baca juga: Sosok Sertu Bambang Prianto di Mata Tetangga Sragen: Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
Ia optimistis adiknya bisa berkumpul lagi dengan keluarganya di Sragen.
"Tetap optimistis ada kabar baik tentang adik saya. Jadi kami bisa kumpul lagi," katanya.
3. Tentara Adalah Jiwanya
Perjuangan Sertu Bambang Prianto menjadi seorang tentara ternyata tidak mudah.
Dia tidak langsung diterima saat mendaftar, karena tiga kali mengikuti ujian baru diterima.
Sosok Sertu Bambang Prianto anggota TNI Angkatan Laut (AL) di mata keluarga adalah orang yang keras.
"Tapi kerasnya untuk kebaikan," ucap kakak kandungnya, Sri Rahayu.
Dijelaskannya, Sertu Bambang Prianto adalah anak ke enam dari enam bersaudara.
"Karena dia anak bungsu maka paling disayang oleh orang tuanya."
"Sehingga kami kakak-kakaknya juga ikut sayang dengan dia," terangnya.
Menurut dia, adiknya itu setelah lulus dari SMA memang bercita-cita jadi tentara.
Bahkan tentara menjadi jiwanya karena sejak kecil bercita-cita di TNI sehingga dia menilai adinya menjadi prajurit sejati.
"Ayahnya dulu sudah menawarkan untuk kuliah tapi ditolak. Dia lebih memilih jadi tentara," katanya.
Baca juga: Sempat Pulang ke Sragen, Keluarga Kaget Dapat Kabar Sertu Bambang Kini Hilang Kontak
Baca juga: Sempat Pulang ke Sragen, Keluarga Kaget Dapat Kabar Sertu Bambang Kini Hilang Kontak
Namun upayanya untuk menjadi anggota TNI AL tidak berjalan mulus.
"Dia tiga kali mendaftar jadi tentara. Pendaftaran yang pertama dan kedua dia enggak diterima."
"Baru di pendaftaran ketiga dia diterima jadi TNI AL," imbuhnya.
4. Dikenal Ramah
Sertu Bambang Prianto yang ada di kapal selam KRI Nanggala-402 di mata tetangganya adalah sosok yang baik.
"Selain baik, dia orangnya juga ramah dan mudah bergaul," kata tetangganya, Yusmanto.
Dia mengaku kaget kala mendengar bahwa tetangganya termasuk dalam awak KRI Nanggala-402 yang hilang kontak di Perairan Bali bagian utara pada Rabu (21/4/2021) kemarin.
"Saya kaget waktu tahu ada kabar itu. Pertama ada beritanya kan rabu, kamis itu baru saya sadar ada warga sini di kapal selam tersebut," ucapnya.
Baca juga: Kisah Sertu Bambang, Awak KRI Nanggala Asal Sragen, Tiga Kali Daftar Tentara Baru Diterima
Baca juga: Berpotensi Timbulkan Kerumunan dan Tularkan Covid-19, MUI Imbau Salat Idul Fitri di Rumah
Dia berharap semua orang yang ada di kapal selam itu segera ditemukan mengingat batas waktu ketersediaan oksigen yang diperkirakan sampai Sabtu (24/4/2021) pagi.
"Kabarnya pasokan oksigen cuma sampai besok, semoga lekas ditemukan," ujar dia.
Lebih-lebih, berdasarkan proses pencarian, KRI-Nanggala diperkirakan ada di kedalaman 600 hingga 800 meter di dasar laut.
"Itu kan dalam sekali. Yang terbaik lah untuk proses evakuasinya," katanya. (*)