Berita Wonogiri Terbaru
Cabuk Wijen Hitam Khas Wonogiri, Melegenda hingga ke Luar Kota
Kabupaten Wonogiri memiliki berbagai makanan tradisional yang melegenda hingga saat ini. Seperti Cabuk Wijen.
Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Agil Trisetiawan
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima Sakti
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Kabupaten Wonogiri memiliki berbagai makanan tradisional yang melegenda hingga saat ini. Seperti Cabuk Wijen.
Berbeda dengan yang lain, Cabuk Wijen khas Wonogiri ini memiliki warna hitam.
Bagi masyarakat yang belum pernah melihatnya, pasti akan merasa heran.
Menurut salah satu pengrajin Cabuk Wijen Hitam yang masih eksis hingga saat ini adalah Samin, warga Dusun Pengkol RT 2 RW 1, Desa Pokoh Kidul, Kecamatan/kabupaten Wonogiri.
Ia menuturkan, Cabuk ini terbuat dari biji wijen yang dihaluskan yang kemudian dikukus.
Setelah dikukus, biji wijen yang sudah halus tersebut di-press untuk memisahkan dari minyaknya.
"Untuk mendapatkan warna hitam, biji wijen tersebut kemudian diberi pewarna yang berasal dari arang batang padi," katanya, Minggu (1/8/2021).
Baca juga: Tips Lolos Pendaftaran Bantuan UMKM di Wonogiri Tahap 3, Perhatikan Hal Ini
Baca juga: 5 Formasi Dokter Spesialis CPNS di Wonogiri Sepi Peminat, Pemkab Siapkan Langkah Antisipasi
Baca juga: Rekor Pernikahan di Nguntoronadi Wonogiri, Sehari Ada 15 Pasangan yang Menikah
Baca juga: Wonogiri Sabet Penghargaan Kota Layak Anak, Wakil Bupati Setyo: Tanggung Jawab Besar
Ya, warna hitam itu didapatkan dari pewarna alami yang masih aman untuk dikonsumsi.
Harga Cabuk Wijen Hitam khas Wonogiri ini sangat terjangkau.
Perkilogramnya, hanya dijual seharga Rp50 ribu.
Bisnis Turun-temurun
Samin mengatakan, produksi Cabuk Wijen Hitam khas Wonogiri yang digelutinya merupakan bisnis keluarga, yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Resep khusus selama puluhan tahun masih dipertahankan, sehingga pembelinya masih setia.
"Ini sudah generasi keempat yang menekuni bisnis ini," ujarnya.
Artinya, bisnin ini sudah dilakukan dari nenek buyut Samin.
"Saya meneruskan dari ibu saya karena sudah sepuh (tua)," ujarnya.
"Sebelumnya ibu meneruskan dari nenek," imbuhnya.
Biasanya, Samin bisa menjual 25-30 kilogram Cabuk Wijen Hitam per harinya.
"Tapi sejak pandemi sudah berkurang banyak," terangnya.
Pembeli hingga Luar Kota
Kelezatan Cabuk Wijen Hitam khas Wonogiri ini tak hanya disukai oleh warga Wonogiri saja.
Namun, warga di Solo Raya rela jauh-jauh ke Wonogiri untuk membeli Cabuk Wijen Hitam khas Wonogiri ini.
"Pelanggan saya itu bukan hanya Wonogiri saja, bahkan ada yang dari Kota Solo dan Karanganyar." imbuhnya.
Biasanya pelanggan cabuk Wonogiri Samin membeli cabuknya untuk dijual kembali di daerah asalnya.
Baca juga: Cerita Kades Bantul Minta Anaknya Kembalikan BLT Rp600 Ribu, Curhat: Mosok Anake Pak Lurah Oleh BLT?
Harus Dimasak Dulu
Cabuk Wijen Hitam yang dibeli dari Samin tidak bisa langsung dikonsumsi.
Harus melalui proses dimasak lagi terlebih dahulu.
"Jadi cabuk ini seperti tempe, kalau beli tempe kan harus dimasak dulu, cabuk ini ya sama," paparnya.
Biasanya, olahan cabuk ini dipepes. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/cabuk-wijen-hitam-khas-wonogiri-2335.jpg)