Berita Boyolali Terbaru
Banyak yang Gadaikan Barang karena Cekikan Pandemi,Bikin Omzet Pegadaian Boyolali Capai Rp 49 Miliar
Pemimpin Cabang Pegadaian Boyolali, Utari menyebut selama 2021 ini, omzet Pegadaian Cabang Boyolali mencapai Rp 49, 7 miliar.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Asep Abdullah Rowi
Perajin gamelan di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo masih bertahan di tengah gempuran pandemi Covid-19.
Berbagai cara dilakukan, agar usaha gamelan ini tidak gulung tikar.
Seperti yang dilakukan Kristianto, pemilik rumah produksi gamelan Agong Rejeki.
Dia terpaksa menggadaikan alat gamelannya untuk menggaji karyawan.
"Ya awal-awal itu digadaikan ke penggadaian, untuk bayar gaji karyawan," katanya kepada TribunSolo.com, Senin (23/8/2021).
Baca juga: Satpol PP Wonogiri soal Selebaran Wabah Sesungguhnya Adalah Kelaparan : Tak Akan Dicari,Tak Diusut
Baca juga: Pemkab Karanganyar Beli Gamelan Ki Manteb Soedharsono, Juliyatmono : Untuk Cagar Budaya
Alat gamelan yang ia gadaikan merupakan stok saat awal-awal pandemi Covid-19 lalu, karena pandemi Covid-19, galerinya sempat sepi pesanan.
Padahal, dia memiliki 20 karyawan, yang biasa membatunya dalam membuat berbagai alat musik gamelan.
"Kita gadaikan dan tidak bisa membayar, akhirnya saya ambil, lalu saya jual selakunya," ujarnya.
Selama sepi pesanan, karyawannya sempat bekerja serabutan.
Agong Rejeki sempat berhenti produksi selama satu tahun lebih, karena tak ada pesanan.
"Ada yang jadi kuli bangunan, ada yang ngamen, macem-macem," katanya.
Kristianto mengatakan, kondisi itu tak hanya dirasakan di rumah produksinya saja. Namun juga pengrajin lain di Desa Wirun.
Di Desa Wirun sendiri ada 9 pengrajin gamalen jawa, yang produksi terdampak karena pandemi covid-19.
Sempat Mati Suri
Usaha pembuatan gamelan inu sempat mati suri, karena sepinya orderan.