Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Berita Wonogiri Terbaru

Asal-usul Warga Dusun Poro Giritontro Tak Berani Pakai Kayu Jati, Ternyata Ada Kisah Menyayat Hati

Asal-usul warga Dusun Poro, Desa Tlogosari, Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri tak berani pakai kayu jati memiliki sejarah panjang.

Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Asep Abdullah Rowi
TRIBUNSOLOTRAVEL.COM/AGIL TRI
ILUSTRASI : Pohon 

Kemudian ia berpesan kepada keluarga sebelum berangkat perang.

Baca juga: Kejadian Aneh di Makam Ki Ageng Sutawijaya di Majasto Sukoharjo : Orang Baru Sering Diputar-putarkan

Baca juga: Misteri Aneh Batu Lingga Yoni di Sragen : Sore Dijatuhkan dari Bukit, Pagi Kembali ke Tempat Semula

Jikalau serban tersebut kembali dalam keadaan berlumuran bercak darah, maka dipastikan Citrowongso gugur.

Namun apabila kembali dalam keadaan bersih, Citrowongso berarti memenangi peperangan yang diikutinya.

Singkat cerita, kata Wakino, Citrowongso memenangi perang itu dan mengutus serban dari Mbah Bayan untuk pulang terlebih dahulu.

Namun diperjalanan pulang, serban itu bergesekan dengan pupus daun jati yang mengakibatkan banyak noda warna merah.

Hal itu yang membuat Mbah Bayan dan istri Citrowongso sedih kala teringat pesan yang disampaikan sebelum berangkat perang.

Karena lama tak kunjung pulang dan menganggap Citrowongso meninggal, akhirnya istri Citrowongso dinikahkan kembali dengan resepsi besar dan menggelar wayangan.

"Citrowongso yang saat itu sampai di Poro kemudian tanya ke Mbok Rondho yang rumahnya di dekat acara resepsi," aku dia.

"Kemudian oleh Mbok Rondho dijelaskan bahwa itu acara resepsi anak Mbah Bayan," ucapnya.

Citrowongso kemudian menemui dalang dalam acara wayangan itu dan meminta izin untuk menjadi dalang.

Setelah diizinkan, Citrowongso kemudian mendalang dengan menceritakan perjalanan hidupnya. Saat itu, barulah semua sadar bahwa Citrowongso masih hidup.

"Mbah Bayan kemudian berujar bahwa ia melarang anak cucunya yang menempati Dusun Poro dilarang menggunakan kayu jati," jelasnya.

Hingga saat ini, pantangan tersebut masih dipatuhi masyarakat Dusun Poro, tak ada yang berani melanggar.

"Kepercayaan masyarakat di sana apabila melanggar, akan ada musibah yang menimpa mereka," aku dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved