Berita Solo Terbaru
Perahu Gethek Masih Jadi Pilihan Warga Solo & Sukoharjo Seberangi Bengawan Solo, Cuma Rp2 Ribu
Warga Solo maupun warga Mojoloban, Sukoharjo ternyata memiliki cara alternatif untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo di Kelurahan Kampung Sewu
Penulis: Tara Wahyu Nor Vitriani | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tara Wahyu NV
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Warga Solo maupun warga Mojoloban, Sukoharjo ternyata memiliki cara alternatif untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo di kawasan Kelurahan Kampung Sewu, Solo.
Mereka tak memanfaatkan Jembatan Mojo yang sudah berdiri kokoh.
Justru mereka memanfaatkan perahu gethek untuk menyeberang dari Kelurahan Kampung Sewu, Solo ke Mojolaban, Sukoharjo.
Baca juga: Siap-siap & Cermat Pilih Jalan Agar Tak Terjebak Macet di Solo : Ada 4 Proyek Dibangun Bersamaan
Baca juga: Saat Langkah Wanita Ini Gagal Naik Haji : Sudah di Embarkasi Solo Tapi Dipulangkan,Gegara Hamil Muda
Dari pantauan TribunSolo.com, masih banyak masyarakat yang memanfaatkan jasa penyeberangan via perahu gethek itu.
Masyarakat yang menggunakan sepeda, sepeda motor maupun berjalan kaki masih memanfaatkan perahu penyeberangan yang dioperasikan dua orang itu.
Satu orang bertugas untuk menarik tali yang sudah terpasang di dua titik yang menghubungkan Solo dan Mojolaban.
Sedangkan satu orang lagi bertugas mengayuh perahu dengan kayu yang dibawa.
Orang ini juga bertugas menambatkan perahu gethek ketika sudah mencapai daratan lagi.
Salah seorang warga Mojoloban, Ari (38) mengaku sudah bertahun-tahun memilih menyeberang menggunakan perahu gethek ketimbang melewati jembatan Mojo.
Baca juga: Pamerkan Kebudayaan & Kesenian Lokal di Paris Prancis, Gibran : Solo Tidak Kalah dengan Bali
Baca juga: Capaian Vaksinasi Booster di Solo Baru 55 Persen,Wakil Wali Kota Klaim Jadi yang Tertinggi di Jateng
"Kalau lewat jembatan harus muter masih juga ramai," katanya, Selasa (7/6/2022).
Dirinya mengaku selalu memanfaatkan perahu gethek untuk menyeberang setiap pagi saat berangkat kerja dan sore hari sepulang kerja.
Lantaran sudah bertahun-tahun menyeberang via gethek tersebut, Ari mengaku tidak takut atau was-was.
"Udah lama banget, enggak takut. Biasanya pagi jam 8 berangkat kerja dan sore jam 5 pulang kerja," terangnya.
Sementara itu, pengayuh perahu gethek yang kebetulan juga bernama Ari (28) mengaku masyarakat dikenai tarif berbeda untuk menyeberang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Perahu-gethek-yang-masih-dimanfaatkan-untuk-menyeberang-warga-Solo-maupun-warga-Mojoloban-Sukoharjo.jpg)