Berita Solo Terbaru
Kuota PPDB SMA/SMK Jateng Sisa 1.638 Kursi, Ganjar Bakal Prioritaskan untuk Keluarga Miskin
Ganjar Pranowo memastikan 1.683 kursi kuota PPDB SMA/SMK di Jawa Tengah yang masih kosong bakal diprioritaskan bagi keluarga miskin atau tak mampu
Penulis: Tara Wahyu Nor Vitriani | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tara Wahyu NV
TRIBUNSOLO.COM , SOLO - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memastikan kuota Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK di Jawa Tengah yang masih kosong bakal diisi untuk keluarga miskin atau tidak mampu.
"Yang kurang murid bisa kita isi ya, makanya kita ingatkan agar beberapa daerah melakukan itu," kata Ganjar, kepada TribunSolo.com, Kamis (14/7/2022).
Baca juga: Sosok Gibran di Mata Ganjar Pranowo : Kepala Daerah yang Kreatif, Tapi Sedikit Mbeling
Baca juga: Namanya Tertinggi dalam Survei Capres PPI, Ganjar Pranowo Pilih Urusi Inflasi, Bawang dan Cabai
Meski begitu, Ganjar mengaku bahwa jumlah sekolah yang tidak terpenuhi tidaklah banyak.
"Tidak terlalu banyak, rata-rata 90 persen kok, apalagi dalam kota," ungkapnya.
Saat ini jumlah lulusan SMP/MTS di Jawa Tengah mencapai 522.295.
Adapun daya tampung SMA/SMK Negeri di kawasan Jawa Tengah mencapai 217.745.
Baca juga: Jadi Pelanggan Sate Kambing Tali Roso Klaten, Ganjar Sempat Telepon Pemilik saat Tak Bisa Mampir
Sedangkan yang telah diterima hingga saat ini tercatat ada 216.107 peserta didik.
Sehingga sisa kursi kosong hanya terdapat 1.638 kursi saja.
"Yang kosong-kosong itu kita prioritaskan untuk mohon maaf yang tidak mampu, kalau mereka keluarga yang agak miskin kita prioritaskan," kata Ganjar.
Selain itu, Ganjar juga memberikan ospi sekolah swasta bagi orang tua siswa yang berkecukupan ataupun mampu.
Baca juga: Potret Hari Terakhir PPDB SMA/SMK di Solo : 200 Siswa Gigit Jari Tak Masuk ke SMK N 6
Baca juga: Puluhan Akun PPDB SMKN 9 Surakarta Hilang Misterius, Disdikbud Sebut Baru Pertama Kali Terjadi
Menurutnya, saat ini rata-rata sekolah swasta cukup bagus.
"Banyaklah sekolah swasta yang bagus-bagus, apalagi yang di kota. Itu bisa diisi, karena semua tidak bisa tertampung di sekolah negeri," terangnya.
(*)