Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Berita Boyolali Terbaru

Semarak Upacara HUT ke-77 RI di Boyolali : 360 Siswa SMA Pentaskan Legenda Desa Simo

Ratusan siswa kelas X SMA N 1 Simo bakal mementaskan teatrikal legenda terbentuknya Desa Simo menjelang upacara penurunan bendera HUT ke-77 Indonesia.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Adi Surya Samodra
TribunSolo.com / Tri Widodo
Siswa dan guru SMA N 1 Simo menggelar Gladi bersih Teaterikal Legenda Simo, di Lapangan Simo, Selasa (16/8/2022) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Ratusan siswa kelas X SMA N 1 Simo bakal mementaskan teatrikal legenda terbentuknya Desa Simo menjelang upacara penurunan bendera saat peringatan HUT ke-77 Republik Indonesia.

Pentas teaterikal ini selain sebagai bentuk implementasi kurikulum merdeka belajar, juga sekaligus untuk memeriahkan acara upacara 17-an.

Kepala SMA N 1 Simo, Jumadi mengatakan pentas teaterikal legenda Simo ini merupakan implementasi kurikulum merdeka belajar, yakni projek penguatan profil pelajar Pancasila.

“ Adapaun yang mau ditampilkan, kita mengangkat legenda Simo, dalam bentuk teaterikal, ada tarian, olah raga pencak silat,” jelasnya usai Gladi bersih di Lapangan Simo, Boyolali, Selasa (16/8/2022).

Teaterikal Legenda Simo ini melibatkan seluruh siswa kelas X, sebanyak 360 siswa.

Tak hanya siswa saja yang dilibatkan projec ini, puluhan guru juga terlibat langsung dalam pagelaran teaterikal kolosal ini.

Baca juga: Hasil Piala Kasad Liga Santri 2022 Boyolali, Ponpes Nurul Quran Simo Sabet Juara 1 

Baca juga: Melihat Proses Daur Ulang Sampah Plastik di Simo Boyolali, Botol Bekas Jadi Bernilai Tinggi  

Sementara itu, Guru Sejarah, R. Surojo mengatakan legenda terbentuknya Simo berawal dari Kerajaan Demak yang mau menyerang Pengging.

Saat itu, Adipati Pengging, Kebo Kenongo yang tak mau tunduk ke kerajaan Demak berbuntut panjang.

“ Akhirnya Sunan Kudus membawa prajurit ke Pengging dengan membawa Pusaka Bende Kyai Bancak,” katanya.

Sebelum sampai di Pengging, pasukan yang dibawa Sunan Kudus istirahat di Tambak Segaran   yang saat ini menjadi nama sebuah dukuh.

Pasukan Kerjaaan, kemudian dilatih di kali Tempuran.

Saat berlatih itu, Sunan Kudus di Desa Walen ada seorang tokoh wali, Ki Ageng Singoprono yang namanya sangat tersohor akan keilmuannya.

Sunan Kudus pun berniat untuk ‘menguji’ dan meminta petunjuk Ki Ageng Singoprono itu dengan menyamar sebagai seorang pengemis.

“Namun penyamaran Sunan Kudus langsung diketahui Ki Ageng Singoprono. Sunan Kudus pun diminta memukul Bende Kyai Bancak. Jika Suaranya menggema, maka Pasukan Sunan Kudus akan menang melawan Ki Kebo Kenogo. Sebaliknya jika dipukul tidak menggema, akan kalah,”  tambahnya.

Sunan Kudus yang kembali ke Tempuran langsung memukul bende Kyai Bancak yang menimbulkan suara menggema seperti suara Harimau.

“ Masyarkat Tambak Segaran langsung geger mendengar suara itu. Tapi itu bukan Suara Harimau, tapi suara Bende Kyai Bancak. Harimau dalam bahasa Jawa Simo,” pungkasnya.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved