Viral

Ahli Digital Forensik Komentari Aksi Hacker Bjorka, Sebut Data Tak Berkualitas, Hanya Tabel Database

Ahli Digital Forensik Ruby Alamsyah menyebut data yang disebar Bjorka kurang, sehingga semua pihak yang ada dalam dokumen bisa mudah membantah.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNNEWS.COM
Hacker dengan inisial Bjorka menjual data pendaftaran SIM card telepon seluler Indonesia. Jumlah data pendaftar SIM Card yang bocor dan dijual di sebuah forum di internet mencapai 1,3 miliar data. 

TRIBUNSOLO.COM -- Ahli Digital Forensik Ruby Alamsyah turut mengomentari soal hacker Bjorka yang belakangan bikin heboh media sosial.

Soal aksi hacker yang menamakan diri Bjorka, Ruby Alamsyah justru meyakini data surat atau dokumen untuk Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang diretas di situs breached.to tidak ada.

Ia menyebut, dokumen yang disebar Bjorka merupakan tabel dari sebuah database yang berisi informasi. 

Baca juga: Hacker Bjorka Kembali Bikin Heboh, Kali Ini Bagikan Data Diduga Milik Puan Maharani & Denny Siregar

Antara lain isinya nomor induk pegawai, ada sebuah topik dan keterangan.

"Jadi bukan dokumen konten sebuah surat Presiden, ini konten sebuah tabel database, misalnya kalau admin menulis ini surat mau ditujukan ke siapa, perihalnya apa. Jadi buat dokumentasi di internalnya. Tetapi isi masing-masing itu tidak ada yang dibocorkan," ujarnya di program Kompas Petang KOMPAS TV, Sabtu (10/9/2022).

Ruby juga melanjutkan, berbahayanya data yang tersebar di publik tergantung dari kualitasnya. 

Ia menyebut data yang disebar Bjorka kurang, sehingga semua pihak yang ada dalam dokumen bisa dengan mudah membantah lantaran data tidak lengkap.

Baca juga: Dokumen Rahasia Milik Jokowi Dikabarkan Diretas oleh Hacker Bjorka, Pihak Istana Membantah

"Terkesan tidak berkualitas, karena enggak tahu ini data apa. Klaimnya dokumen-dokumen (surat rahasia presiden) padahal itu tabel database berisi topik isi masing-masing surat. Isi suratnya itu sendiri enggak ada," ujarnya. 

Diberitakan sebelumnya, peretas dengan identitas Bjorka melalui grup Telegram mengeklaim telah meretas surat menyurat milik Presiden Jokowi, termasuk surat dari BIN.

Klaim dari Bjorka tersebut kemudian diunggah oleh salah satu akun Twitter "DarkTracer : DarkWeb Criminal Intelligence", yang kemudian viral dan sempat menjadi salah satu topik pembahasan terpopuler di Twitter hingga Sabtu pagi.

Total, ada 679.180 transaksi surat dan dokumen rahasia Presiden Republik Indonesia (RI) diduga bocor.

Baca juga: Posting soal Elon Musk, Hacker Sempat Bobol Instagram UIN Raden Mas Said Solo, Begini Penampakannya

Bjorka, pihak yang mengeklaim melakukan hal tersebut, menjual data-data itu di forum Breached. 

Hal itu ia ungkapkan dalam sebuah thread berjudul "Transactions of Letters and Documents to the President of Indonesia 679K" yang diunggah pada Jumat (9/9) pukul 20.21 WIB.

Ia pun mengeklaim data yang ia bocorkan kali ini "berisi transaksi surat tahun 2019 - 2021 serta dokumen yang dikirimkan kepada Presiden".

Selain itu, dalam file sebesar 40 mb atau 189 mb belum dikompres, Bjorka juga menyebut ada pula 
"kumpulan surat yang dikirim oleh Badan Intelijen Negara yang diberi label rahasia".

Dalam unggahan di akun Twitter itu disebutkan bahwa surat dan dokumen untuk Presiden Indonesia, termasuk surat yang dikirimkan BIN dengan label rahasia telah bocor. 

Ini bukanlah kali pertama Bjorka mengobrak-abrik data pengguna internet di Indonesia.

Sebelumnya ia jugamengeklaim telah meretas data-data terkait kependudukan Indonesia, seperti data registrasi "SIM Card Prabayar" dan data milik salah satu provider telekomunikasi.

(*)

Sumber: Kompas TV
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved