Berita Wonogiri Terbaru

Asal-usul Branjang Apung di Waduk Gajah Mungkur : Ditularkan Nelayan dan Pembeli Ikan dari Luar

Wakil Ketua DPRD Wonogiri, Sugeng Ahmady, menyebut branjang apung yang saat inir, mulanya bukanlah alat tangkap ikan yang digunakan nelayan Wonogiri.

TribunSolo.com/Erlangga Bima
Branjang apung ilegal yang berada di perairan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Branjang itu semakin marak itu dikhawatirkan dapat mengganggu dan merusak ekosistem di perairan tersebut. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima Sakti

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Ternyata ada asal usul branjang yang marak di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri.

Wakil Ketua DPRD Wonogiri, Sugeng Ahmady, menyebut branjang apung yang saat inir, mulanya bukanlah alat tangkap ikan yang digunakan nelayan Wonogiri.

Sugeng mengatakan, nelayan Wonogiri diajarkan membikin pembuatan alat tangkap ikan itu oleh nelayan atau pembeli dari luar Wonogiri.

Menurutnya, nelayan Wonogiri dulunya menangkap ikan di hanya menggunakan jaring biasa. Inisiatif branjang apung datang dari orang luar daerah yang mencari ikan disana.

"Sekitar tahun 2006 atau 2007, banyak orang luar daerah yang hijrah mencari ikan di WGM. Akhirnya ada ilmu yang ditinggalkan seperti branjang dan penangkapan udang," kata dia, kepada TribunSolo.com, Rabu (21/9/2022).

Dia menilai, faktor kesenjangan lah yang membuat branjang apung makin marak di WGM. Sebab, nelayan yang menggunakan branjang mendapat hasil yang lebih banyak.

Tokoh masyarakat Nguntoronadi itu mengatakan, awalnya tidak ada nelayan di sana yang menggunakan branjang.

Karena jumlahnya makin banyak, nelayan di sana ikut memasang branjang.

"Nelayan mau pasang jaring zonanya habis karena ada branjang. Akhirnya juga ikut-ikutan," jelasnya.

Baca juga: Ancaman Bagi Pemasang Branjang Apung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri : Dilarang, Pasti Diberangus

Baca juga: Siap-siap, Petugas Sensus di Karanganyar Akan Datangi Rumah Mulai 15 Oktober hingga 14 November 2022

Terkait permasalahan itu, Sugeng mengusulkan agar dilakukan sosialisasi dan pemberian warning terlebih dulu karena pemasangan branjang ada yang merupakan warga Wonogiri.

"Nyuwun sewu, mereka kan juga masyarakat kita. Kalau sudah disosialisasi, di-warning tanggal sekian tidak dicopot nanti dioperasi. Kan kasian juga mereka, bikin branjang itu bisa habis Rp 3-4 juta," pungkasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved