Keraton Solo Ricuh
Kronologi Bentrok Keraton Solo Versi Kubu PB XIII, KP Dani : Orang-orang Tak Dikenal Berseliweran
Kubu Raja Keraton Solo, SISKS Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi menyampaikan kronologi kenapa kericuhan dengan Lembaga Dewan Adat (LDA) bisa terjadi.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kubu Raja Keraton Solo, SISKS Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi menyampaikan kronologi kenapa kericuhan dengan Lembaga Dewan Adat (LDA) bisa terjadi.
Terlebih ada kelompok dari Sasonoputro yang mengatasnamakan PB XIII.
Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Solo, KP H. Dani Nur Adiningrat membenarkan jika kelompok yang bentrok dengan Gusti Moeng dkk adalah kubu PB XIII.
Ada beberapa catatan kenapa kemudian kericuhan dengan LDA terjadi.
"Pertama mereka masuk satu minggu ini mencari pencuri dengan cara tidak benar. Membawa orang-orang tidak dikenal," ungkap dia kepada TribunSolo.com, Senin (26/12/2022).
"Kedua ketika hari Sabtu pencuri tidak ketemu terus kita dari keamanan keraton ditugasi Sinuhun untuk mengamankan pintu ternyata tidak diperbolehkan (LDA) dan menduduki sampai sekarang," jelasnya.
Lalu kata KP Dani, pada Selasa (19/12/2022) kelompok LDA menggelar latihan menari Bedhaya Ketawang.
Menurutnya, kubu LDA tidak berhak mengadakan tarian ini.
"Ketika ajaran Bedhaya Ketawang ternyata dari utusannya Sinuhun tim penari siap, yogo siap, sinden siap, ternyata mereka mengadakan dulu di Sasono Semoko," jelasnya.
Baca juga: Keraton Solo Diserbu Wisatawan, PKL Pun Ikut Ketiban Rezeki, Bisa Kantongi Rp 400 Ribu Per Hari
Baca juga: Dua Cucu PB XIII Terluka & Ditodong Pistol di Keraton Solo, Eddy Wirabhumi : Kami Tetap Lapor Polisi
Tarian Bedhaya Ketawang hanya boleh ditampilkan atas perintah Sinuhun.
"Padahal ajaran Bedhoyo Ketawang itu adalah otoritas raja. Yang melaksanakan itu harus atas dhawuh raja penguasa Kasunanan Surakarta," tuturnya.
Terakhir, terjadilah bentrok saat para petugas melakukan pengamanan di beberapa titik.
"Berlanjut ketika ada lagi petugas Sentono, Kanjeng Adit, berusaha mengamankan pintu. Ternyata mendapat perlakuan fisik oleh oknum Gustin Moeng," jelasnya.
Pihaknya melakukan pengamanan karena banyak orang yang tidak dikenal berseliweran di dalam area Keraton Solo.
"Di keraton banyak yang tidak memakai samir tidak teregister sebagai abdi dalem Kasunanan Surakarta," tuturnya.
Kronologi Versi LDA
Sebelumnya, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo memanas.
Informasi TribunSolo.com, mamanasnya di Keraton Solo sampai-sampai terjadi kericuhan pada Jumat (23/12/2022) malam.
Kericuhan itu melibatkan kubu Sasonoputro yang mengatasnamakan Raja Keraton Solo, SISKS Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi dan Lembaga Dewan Adat (LDA).
Untuk diketahui, LDA adalah mereka kerabat keraton yang berisi para adik dan anak raja.
Kapolresta Solo, Kombes Pol Iwan Saktiadi turun ke lokasi untuk mendinginkan lokasi yang memanas.
Polisi juga berjaga-jaga di kawasan keraton.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 19.00 WIB yang membuat kawasan tersebut memanas hingga sejumlah orang dilarikan ke Rumah Sakit Kustati.
Menurut kuasa hukum KRA Christophorus Aditiyas Suryo Admojonegoro, Agung Susilo, ada empat orang di pihaknya yang terluka.
"Iya. Dari satgas 4 orang luka bocor di kepala," jelasnya kepada TribunSolo.com.
Di sisi lain, Ketua LDA, Gusti Kanjeng Ratu Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng mengaku diusir oleh kubu Sasonoputro.
Menurut Gusti Moeng, pihak Sasonoputro membawa sekitar 50 orang untuk mengusir Gusti Moeng sekeluarga.
"Mereka ingin mengususir kita," terang dia.
Baca juga: BREAKING NEWS : Keraton Solo Ricuh, Cucu Pakubuwono XIII Mengaku Diserang dan Ditodong Pistol
Baca juga: Proses Olah TKP Kasus Dugaan Pencurian di Keraton Solo : Lemari hingga Kamar Mandi Dicek
Bahkan, cucu Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, BRM Suryo Mulyo mengaku ditodong senjata api.
Suryo mengatakan, orang yang menodongnya dengan senpi itu menyebut dirinya sebagai anggota Polri.
"Saya diginiin (mengisyaratkan tangan seperti ditodongi senjata api) 'Isoh meneng ra mas?' Ditodong didorong. 'Ojo peh aku nganggo klambi biasa terus kowe nyepelekke aparat'," tuturnya mengikuti perkataan oknum tersebut.
Cucu PB XIII lain, BRM Yudhistira Rachmat Saputro, juga mengaku dipukul punggungnya.
Lalu GRAy Devi Lelyana Dewi dipukul tangannya memakai bambu.
Beberapa orang memaksa merangsek masuk.
Mereka barisan LDA berusaha mempertahankan area dalam keraton. (*)