Berita Wonogiri Terbaru
Penyakit LSD Mewabah, Pemkab Wonogiri Tak Tutup Pasar Hewan, Imbau Warga Waspadai Penyebaran LSD
Pasar hewan yang cenderung sepi jadi alasan dibalik tak ditutupnya pasar hewan meski penyakit LSD mewabah di Wonogiri
Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima Sakti
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Kasus lumpy skin disease (LSD) juga ditemukan menjangkit ternak sapi di Wonogiri sejak beberapa waktu lalu.
Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, mengatakan pihaknya memastikan belum akan menutup pasar hewan.
Menurut dia, pasar hewan cenderung sepi.
"Kita belum menginstruksikan penutupan pasar hewan. Kita lebih sepakat ini menjadi ruang pemahaman dan edukasi pada publik," kata dia, kepada TribunSolo.com, Minggu (19/3/2023).
Jekek begitu juga dia disapa, mengatakan penanganan sapi yang terpapar LSD sudah dikoordinasikan dengan dinas terkait.
Meskipun tidak ada penutupan pasar hewan, ujar Jekek, secara otomatis masyarakat diimbau untuk tidak membawa sapi sakit ke pasar hewan.
"Tidak ada, tidak ada penutupan pasar hewan," tegas Jekek.
Pihaknya mengimbau masyarakat mengamankan sapi miliknya.
Sebab penularan LSD cenderung cepat.
Dia menilai masyarakat takut membawa ternak ke pasar hewan.
Baca juga: Penyakit LSD di Sragen Hampir Tembus Seribu Kasus, Sapi yang Dinyatakan Sembuh Ada 163 Ekor
Baca juga: Inilah Sirup Herbal Sapi, Jamu Karya Mahasiswa UBY : Berkhasiat Tangkal LSD, Petani Merapi Sumringah
Kepala Dislapernak Wonogiri Sutardi mengatakan LSD adalah penyakit kulit pada ternak.
Cirinya seperti muncul bentol-bentol.
Berdasarkan data Dislapernak Wonogiri hingga Jumat (17/3/2023) tercatat 406 kasus LSD yang tersebar di Wonogiri.
Di periode waktu yang sama terdapat 397 kasus aktif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/LSD-Kondisi-sapi-milik-warga-Desa-Bedoro.jpg)