Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Pemilu 2024

Pengamat Politik Ungkap Peluang Anies Baswedan Menang Meski Hasil Survei Rendah, Singgung Ucapan JK

Jusuf Kalla sempat menyinggung elektabilitas Anies Baswedan yang kerap terseok jika dibandingkan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com / Tribunnews.com / Irwan Rismawan
Bakal Calon Presiden dari Koalisi Perubahan Anies Baswedan memberi pidato politik saat Apel Siaga Perubahan Partai Nasdem di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (16/7/2023). Partai Nasdem menggelar Apel Siaga Perubahan yang dihadiri ribuan kader dengan agenda pidato politik oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Anies Baswedan selaku bakal capres dari Koalisi Perubahan. Cawapres Anies Baswedan disebut sudah mengerukut satu nama dan ada di tangan Anies tapi tak kunjung diumumkan hingga pertemuan tim 8 dengan Anies batal digelar. 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga memberikan analisisnya soal peluang Anies Baswedan memenangi Pemilu 2024.

Hal itu juga sebagai respons atas ucapan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) terkait tingkat elektabilitas bakal capres dari Koalisi Perubahan, Anies Baswedan.

Diberitakan TribunSolo.com sebelumnya, Jusuf Kalla sempat menyinggung elektabilitas Anies Baswedan yang kerap terseok jika dibandingkan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

Baca juga: PKB Ingatkan Gerindra soal Kejelasan Cawapres : Lu Enggak Jelas, Gue Lepas

Dia lantas membandingkan kemenangan mantan Presiden AS Donald Trump.

Soal pernyataan Jusuf Kalla tersebut, Jamiluddin menilai kalau apa yang dinyatakan mantan wakil presiden itu memiliki alasan kuat.

Salah satunya adalah hasil survei yang tidak melulu harus dijadikan patokan.

"Optimisme JK beralasan karena hasil survei kerap sekali meleset. Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di banyak negara lain," kata Jamiluddin dalam keterangannya, Selasa (1/8/2023).

Baca juga: Jusuf Kalla Sebut Pemerintahan Jokowi Semakin Mirip Era Soeharto : Awalnya Baik, Lalu Otoriter

Jamiluddin lantas menilai jika hasil survei hanya bisa digunakan saat beberapa waktu usai periode penelitiannya dilakukan.

Artinya, tidak wajar jika digunakan untuk memprediksi hasilnya ke depan.

"Hal itu terjadi karena pendapat umum itu sangat dinamis. Pendapat seseorang dapat berubah-ubah tergantung isu yang menerpa objek atau sosok yang dinilai," kata dia.

Tak hanya itu, penilaian survei juga kerap kali diberikan oleh responden yang hanya melihat pada sisi objek yang dinilai.

Jamiluddin menjelaskan, apabila ada satu objek yang pada saat dilakukannya survei sedang diterpa suatu isu, maka hasil surveinya akan berpengaruh pada tingkat elektabilitas.

Baca juga: Hasil Survei, Elektabilitas Anies di Bawah Ganjar & Prabowo, JK Singgung Kemenangan Donald Trump

"Kalau isu megenai objek atau sosok yang dinilai cenderung positif, maka elektabilitasnya akan berpeluang tinggi. Sebaliknya, kalau isu menerpa objek atau sosok banyak negatifnya, maka elektabilitas berpeluang akan turun," beber dia.

Atas dasar itu, Jamiluddin menilai wajar jika Jusuf Kalla tak menggunakan hasil survei dalam memenangkan Pilpres.

Pada hasil survei juga kata Jamiluddin, kerap mengalami kesalahan dalam penetapan sampel atau contoh penelitian.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved