Pemilu 2024

Disebut Sudah Tidak Prospek, Perusahaan Tambang Nikel Tetap Optimis

Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Nicolas D. Kanter optimis penggunaan nickel manganese cobalt oxide (NMC) sebagai bahan baku baku baterai.

Penulis: Tribun Network | Editor: Ahmad Syarifudin
Tangkap layar YouTube KPU RI
Cawapres 2024 Mahfud MD dan Cawapres 2024 Gibran di debat ke-2 Cawapres 2024, Minggu (21/1/2024) 

TRIBUNSOLO.COM - Nikel menjadi perbincangan hangat saat disinggung oleh Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka dalam debat Pilpres keempat pada Minggu (21/1/2024). Ia menanggapi perkataan Timnas Amin, yakni Co-Captain Amin, Thomas Lembong yang menyebut Tesla sudah tidak pakai bahan baku nikel untuk baterai kendaraan listrik.

Gibran menuding ia melakukan kebohongan kepada publik karena menyebut mobil listrik asal Amerika Serikat (AS), Tesla, tak lagi menggunakan nikel sebagai bahan baku baterai listrik, melainkan LFP.

"Bicara LFP, dan bilang Tesla enggak pakai nikel, ini kan kebohongan publik. Mohon maaf, Tesla itu pakai Nikel, Pak," kata Gibran.

Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Nicolas D. Kanter optimis penggunaan nikel atau nickel manganese cobalt oxide (NMC) sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik tetap memiliki nilai di tengah tren penggunaan lithium ferro-phosphate (LFP).

Baca juga: Sebut Jateng Kunci Kemenangan, Timnas AMIN: Dapat Suara Imbang dengan Paslon Lain Sudah Pasti Menang

Ia mengakui, saat ini sebagian besar baterai listrik menggunakan LFP ketimbang nikel. Namun, pengembangan ekosistem hilirisasi nikel diyakini akan meningkatkan permintaan nikel di industri baterai kendaraan listrik.

Antam sendiri pada akhir 2023 lalu telah menandatangani kerja sama dengan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), anak usaha Hongkong CBL Limited (HKCBL) untuk proyek hilirisasi nikel di RI dengan nilai investasi Rp 7 triliun.

"(Kerja sama hilirisasi nikel) itu adalah satu yang kita harus syukuri dan kita harus kawal. Karena ekosistem EV (electric vehicle) yang ada di Indonesia itu adalah yang pertama di dunia," ujarnya saat ditemui di Gedung Ombudsman RI, Jakarta, Selasa (23/1/2024).

Baca juga: Disinggung Gibran, Pajak Karbon Hanya Rp 30 per kg Hanya Gimik?

Nico Kanter, sapaan akrabnya, mengatakan negara lain tak bisa membentuk ekosistem hilirisasi nikel karena tak memiliki sumber daya alam (SDA) yang besar seperti Indonesia. Maka RI berpeluang besar untuk mengembangkan nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.

"Kita punya sumber daya alamnya, kita bisa monetize, kita akan bangun nickel sulfat-nya, kita akan bangun precursor, kita akan bangun electric vehicle battery-nya, bahkan recycling-nya juga akan dibikin. Jadi, this is going to be the first in the world," papar dia.

Dengan potensi yang besar tersebut, kata Nico, Antam pun meyakini nikel masih menjanjikan untuk dikembangkan. Ia bilang, nikel tentu memiliki kelebihan tersendiri dari LFP yang membuat investasi penghiliran bijih nikel hingga menjadi baterai listrik masuk ke RI.

Dia menyebut, CBL sendiri merupakan produsen LFP dan NCM, sehingga pihaknya memang bermitra dengan perusahaan yang menguasai industri baterai kendaraan listrik.

Baca juga: Sindir Program Paslon Nomor Urut 2, Ganjar : Seperti Pepatah, Tidak Ada Makan Siang Gratis

"Saya bilang lebih pede (kembangkan nikel), karena nikel mempunyai kelebihan-kelebihan. Untuk jangka panjangnya daripada baterai, itu baterai lebih baik, katanya dari sisi safety-nya juga lebih baik. Jadi saya pikir semua masing-masing punya kelebihan," jelasnya.

"Jadi enggak mungkin juga, dia (CBL) investasi di Indonesia kalau dia lihat LFP adalah terbaik," imbuh Nico.

Meski begitu, ia menekankan, bukan berarti Indonesia bisa menjadi terlena bahwa NCM akan menjadi menguasai pasar dunia. Sebab, ada banyak faktor lain yang perlu diperhatikan agar pengembangan ekosistem hilirisasi nikel bisa optimal.

Dia menuturkan, perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah, untuk membuat harga komoditi NCM menjadi lebih terjangkau, infrastruktur yang memadai, hingga aturan yang mendukung pengembangan hilirisasi nikel.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved