Penderita Diabetes Tetap Bisa Berpuasa Ramadan Lho, Tapi Perhatikan Risiko-risiko Berikut ini!
Soal makanan yang dikonsumsi penderita diabetes setelah berbuka, sebaiknya tidak langsung mengkonsumsi makanan yang manis berlebihan.
Penulis: Rifatun Nadhiroh | Editor: Rifatun Nadhiroh
TRIBUNSOLO.COM - Umat islam kini sedang melaksanakan puasa ramadan selama satu bulan lamanya.
Namun bagi penderita diabetes apakah bisa menjalankan ibadah tersebut?
Pada penderita diabetes, untuk kondisi-kondisi tertentu jika ingin berpuasa, harus memiliki persiapan.
Yakni dengan cara kontrol atau berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu, sebulan sebelum berpuasa.
Baca juga: Simak Manfaat Puasa Bagi Penderita Hipertensi, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS JIH Solo Beri Tips
Hal tersebut diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit JIH Solo, dr. Yulia Sekarsari, Sp. PD.
"Pasien-pasien diabetes yang ingin berpuasa di bulan ramadan, sebaiknya dipersiapkan kurang lebih satu hingga 2 bulan sebelum datangnya bulan ramadan. Gunanya supaya kita bisa mengklasifikasikan risiko pada pasien, apakah pasien diabetes berada pada risiko tinggi, risiko sedang atau rendah,"
"Biasanya pada pasien diabetes risiko sangat tinggi, kita sarankan untuk hati-hati atau bahkan tidak diperbolehkan untuk berpuasa. Kemudian untuk yang risiko tinggi, biasanya diperbolehkan puasa tapi dengan pengawasan yang ketat. Untuk pasien yang risiko rendah, bisa berpuasa tapi dengan pengawasan. Jadi mereka tetap mengontrol gula darah selama puasa ramadan," urai dr. Yulia Sekarsari, Sp. PD.
Lantas pasien diabetes seperti apa yang masuk dalam risiko tinggi, sedang atau rendah?
Baca juga: Puasa Ternyata Bermanfaat untuk Kesehatan Mulut dan Gigi Lho, Simak Penjelasan Dokter RS JIH Solo
"Pasien yang dikatakan risiko tinggi kondisinya hipoglikemia berat dalam 3 bulan terakhir, yaitu jelang ramadan riwayat hipoglikemia berulang, kemudian pasien diabetes tipe 1 yang sangat membutuhkan insulin, jika tidak mendapat insulin akan jatuh dalam kondisi kegawatdarurat yang disebut dalam kondisi KAD (Ketoasidosis diabetik),"
"Kemudian pasien-pasien yang dalam kondisi sakit akut, hamil, atau yang menjalani cuci darah, itu masuk dalam pasien risiko sangat tinggi. Lalu pasien risiko tinggi, yaitu pasien dengan hipoglikemia atau gulah darahnya masih cukup tinggi dan biasanya belum terkontrol dengan obat-obatan, jadi dia bisa sampai 300 gula darahnya, dan HBA1C bisa sampai 7,5 persen hingga 9 persen, lalu pasien yang mulai ada gangguan ginjal, pasien yang hidup sendiri dengan bantuan insulin maupun obat-obatan, pasien yang memiliki gangguan saraf seperti demensia mudah lupa juga harus hati-hati,"
"Lanjut dengan pasien yang termasuk risiko sedang, yaitu pasien yang sudah terkendali dengan obat-obatan. Sedangkan pasien risiko rendah biasanya sudah mengetahui mempunyai pola, saat kontrol biasanya gula darahnya stabil, obat-obatannya tidak memerlukan pengawasan tinggi,"
"Jadi ketika pasien sudah kita klasifikasikan seperti itu nanti pasien diedukasi, apakah nanti di bulan ramadan aman berpuasa sebulan penuh, kalau ada yang risiko tinggi dan tetap berpuasa itu ngga papa, tapi dengan syarat-syarat tertentu, biasanya kita edukasi tanda-tanda bahaya seperti akan mengalami hipoglikemia ketika gula darah kurang dari 80 70, biasanya pasien seperti itu rawan itu jatuh, tidak sadarkan diri. Karena gejala hipoglikemia biasanya lapar, keringat dingin, kalau terjadi seperti itu langsung cek gula darah," jelas dr. Yulia Sekarsari, Sp. PD.
dr. Yulia Sekarsari, Sp. PD mengingatkan pasien diebates saat berpuasa juga rawan dehidrasi yang bisa membuat lemas dan tak sadarkan diri, sehingga kebutuhan minum juga harus dikonsultasikan dengan dokter, butuh berapa liter dalam sehari.
Baca juga: Hukum Suntik di Siang Hari saat Puasa Ramadhan, Apakah Membatalkan Puasa? Begini Penjelasan Ulama
Jadi disarankan para pasien diabetes untuk memiliki alat cek gula darah sendiri, agar bisa mengteahui apa masih layak untuk melanjutkan puasa, atau mengetahui harus segera periksa ke dokter atau tidak.
Sementara itu, soal makanan yang dikonsumsi penderita diabetes setelah berbuka, sebaiknya tidak langsung mengkonsumsi makanan yang manis berlebihan.
Saat berbuka juga sebaiknya tak langsung makan makanan berat, bisa dimulai dengan makanan ringan terlebih dulu baru makanan berat.
(*/adv)
| Daftar 10 Rumah Sakit di Solo Lengkap dengan Fasilitasnya, Bisa Jadi Referensi Sebelum Berobat |
|
|---|
| Dari Boyolali untuk Timnas, Dony Tri Pamungkas Bongkar Cara Shin Tae-yong Asah Mental |
|
|---|
| Kontras! Penjualan Tiket Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari Solo : Puasa Sepi, Lebaran Full Penonton |
|
|---|
| Warga Solo Raya Rayakan Idulfitri dengan Suka Cita, Ini Doa Agar Dipertemukan Ramadan Berikutnya |
|
|---|
| Benarkah Makan 3 Butir Kue Nastar Setara dengan Seporsi Nasi? Simak Penjelasan Ahli Gizi RS JIH Solo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/diabetes_20160407_094945.jpg)