Sragen
Cerita Gunung Kemukus Dulu Dikenal Mitos Ritual Seks, Kini Jadi Wisata Religi di Sragen Jateng
Dulunya, wisata Gunung Kemukus dikenal dengan konotasi negatif yakni sebagai tempat ritual seks dengan tujuan pesugihan.
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Gunung Kemukukus merupakan salah satu tempat wisata terkenal di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Kawasan wisata Gunung Kemukus ini berlokasi di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Pada tahun 2022, kawasan wisata Gunung Kemukus ditata ulang (revitalisasi) dan sejak itu memiliki wajah baru lebih rapi dan bersih.
Dulunya, wisata Gunung Kemukus dikenal dengan konotasi negatif yakni sebagai tempat ritual seks dengan tujuan pesugihan.
Baca juga: 3 Tempat Instagramable di Solo Jateng: Ada Rilassati di Colomadu, Bisa untuk Nongkrong hingga Arisan
Pemerintah Kabupaten Sragen lantas berupaya untuk mengubah citra negatif tersebut dan kini Gunung Kemukus lebih dikenal sebagai wisata religi dan keluarga.
Wisata religi yang dimaksud adalah masyarakat bisa ziarah ke makam Pangeran Samudra/Pangeran Samudro yang terletak di Kebayanan II, Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen.
Makam tersebut terletak di bukit dengan ketinggian sekitar 300 meter itu, masih satu kompleks di Gunung Kemukus.
Lantas mengapa dulu Gunung Kemukus justru terkenal dengan mitos ritual seks untuk pesugihan?
Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Profesor Bani Sudardi pernah menjelaskan adanya pergeseran makna di kalangan masyarakat.
Baca juga: Viral Kue Leker Gajahan Solo Jateng, Ternyata ini Asal Usul Leker Jajanan yang Tak Lekang oleh Waktu
Dikutip dari Kompas.com, Bani Sudari menyebut rumor ritual seks ini sebagai salah satu bentuk interpretasi dan pergeseran makna.
Pangeran Samudra semasa hidup, kabarnya pernah mengajarkan bahwa jika hendak mencari Tuhan, hendaklah seseorang datang seperti mengunjungi kekasihnya.
Namun orang-orang justru menginterpretasikan pesan itu dengan "berkasih-kasihan" (bermesraan).
Padahal maksud pangeran Samudra ialah, jika ingin bersatu dengan Tuhan, maka kita datang kepada Tuhan ini seperti mendatangi kekasih.
"Mendatangi kekasih itu harus dengan versi terbaik diri dengan perasaan yang gembira dan rindu," kata Bani.
Padahal, Pangeran Samudro berjasa melakukan syiar Agama Islam sampai di wilayah tersebut.
Menurut cerita, Pangeran Samudro adalah putra Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit dari seorang ibu selir.
Pangeran Samudro hidup pada masa-masa akhir kerajaan Hindu, seiring menguatnya pengaruh Kesultanan Demak Bintoro yang bercorak Islam.
Baca juga: Tempat Instagramable di Solo Jateng: The Heritage Palace yang Kini Ganti Nama Jadi Rasamadu Heritage
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.