Santri Ponpes Az Zayadiyy Tewas Dianiaya

Imbas Tewasnya Santri Ponpes Az Zayadiyy, Mantan Wali Murid Ikut Buka Suara

Mantan Wali Murid Ponpes Az-Zayadiyy Sukoharjo Jateng beberkan kasus perundungan lain di lingkungan pesantren.

Tayang: | Diperbarui:
TribunSolo.com/Anang Ma'ruf
Suasana Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidz Az-Zayadiyy, Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Seiring dengan mencuatnya kasus penganiayaan yang menyebabkan meninggalnya Abdul Karim Putra Wibowo, salah seorang santri SMP Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidz Az-Zayadiyy, seorang mantan wali murid pesantren tersebut membeberkan adanya kasus perundungan lain yang dialami anaknya di lingkungan yang sama.

Sebagai informasi, perundungan yang dialami oleh anaknya berinisial E (12) yang kala itu duduk di kelas VII sampai harus keluar dari sekolah tersebut.

E (12) keluar dari Pondok Pesantren Tahfidz Az-Zayadiyy, 2 bulan setelah mendaftar pada ajaran baru 2024/2025 atau tepatnya antara bulan Juni, Juli dan Agustus 2024.

Hal itu dikarenakan mendapat perundungan oleh kakak kelasnya yakni kelas IX.

Orang tua dari mantan santri, berinisial E (41), mengungkapkan bahwa anaknya pernah menjadi korban perundungan saat masih belajar di Ponpes Tahfidz Az-Zayadiyy.

"Yang dialami Anak saya itu setelah kurang lebih 2 minggu masuk di pondok pesantren itu, dia diminta oleh kelas 3 untuk melakukan pemalakan ke teman-temannya, minta makan sama Kakak itu tapi anak saya mengatakan tidak mau itu saya dipukul," ungkap E saat ditemui awak media, Rabu (18/9/2024).

Baca juga: Santri Tewas Dianiaya di Ponpes Az Zayadiyy Sukoharjo, Ini Imbauan Kemenag ke Yayasan & Ponpes Lain

Tidak hanya itu saja, pada hari kedua E mengatakan pelaku yang merupakan kakak kelas masih melakukan hal yang sama yakni pemukulan.

"Dipukuli lagi Terus akhirnya dia memberikan saku-saku, dan bekal dari rumah dia kasihkan untuk itu, belum selesai beberapa hari diminta terus karena anak saya sudah kehabisan bekal yang untuk setoran, akhirnya dia dalam bahasa Pondok sana itu babu," paparnya.

"Pembahasaan babu ini anak saya diminta untuk nyuci baju, diminta untuk pijitin kakak kelas, daripada anak saya di suruh ngambil ngambil makanan punya temen-temennya," lanjutnya

Perlakukan yang tak mengenakan yang dirasakan oleh putranya itu tidak hanya disitu saja.

Bahkan, putranya yang masih berusia 12 tahun sempat dimasukkan ke kamar dan dikunci di kamar lalu dipukuli oleh 3 sampai 4 orang Setelah dipukul jatuh pun masih ditendang kepalanya.

"Ada beberapa teman yang lain yang mengalami seperti itu, ada sampai mimisan, ada yang dimasukin kamar padahal dia sebelum masuk Pondok itu dia operasi hernia, itu ditendang kemaluannya seperti itu terus," ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan awal mula ketahuannya tersebut berawal setelah 40 hari setalah masuk pertama itu hari pertama sambangan.

Baca juga: Santri Tewas Dianiaya Senior di Ponpes Az-Zayadiyy Sukoharjo Jateng, Sanksi Apa yang Menanti?

"Pertama sambangan itu, anak saya enggak mau cerita sama sekali. itu ada keanehan yang kita rasakan, Tapi dia gak mau cerita, menjaga jarak dari kita terus setelah pulang. Tetapi sebelumnya dari sambangan mau pulang dia kelihatan takut tapi ya udah terus malah nangis dia masuk ke kamar," kata E.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved