Berita Karanganyar

Sambat Petani Karanganyar Saat Hari Tani, Sumardi: Sulit Cari Air 10 Tahun 

Sejumlah petani yang ikut dalam aksi protes di depan kantor DPRD Karanganyar mengaku kesulitan mencari air dalam 10 tahun belakangan.

TribunSolo.com/Mardon Widiyanto
Suasana Demonstrasi Aliansi Perjuangan Rakyat (APERA) Soloraya di Gedung DPRD Karanganyar, Selasa (24/9/2024) pagi. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto 

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Petani di Kabupaten Karanganyar melakukan demonstrasi di Kantor DPRD Karanganyar, Selasa (24/9/2024) pagi.

Mereka mengeluhkan kesulitan air untuk irigasi pertanian yang sumber air itu disedot PUDAM Tirta Lawu .

Sumardi (72) seorang petani dan juga Ketua Serikat Tani Bumi Intapari Karangpandan  mengatakan, petani sudah kesulitan air sejak 10 tahun terakhir.

"Kami kesulitan mencari air untuk pertanian terutama dalam 10 tahun terakhir ini , banyak diambil PDAM, jadi sumber daya air dari lereng Lawu banyak yang habis terus terang banyak sekali sumber air yang diambil jadi untuk pertanian sangat ringkas dengan kekurangan air tersebut sehingga banyak tanah sawah yang tidak bisa tergarap," kata Sumardi, Selasa (24/9/2024).

Sumardi mengatakan, para petani hanya mendapat bocoran sisa mata air di Kabupaten Karanganyar.

Ia menjelaskan bocoran itu hanya tinggal sedikit untuk mengaliri irigasi sawah petani.

"Ya hanya tinggal bocoran sedikit, banyak mata air yang besar banyak diambil  tinggal sumber-sumber kecil yang tercecer yang dikumpulkan untuk pengairan pertanian dan debitnya juga kecil juga," ucap dia.

Dalam demo tersebut, Serikat Tani Bumi Intanpari melebur dengan masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Rakyat (APERA) Soloraya.

Baca juga: Temui Anggota DPRD Karanganyar, Massa Demo Hari Tani Sambat Sulit Cari Sumber Air

Selain Serikat Tani Bimo Intanpari, APERA juga terdiri dari Aliansi Gerakan Reforma Agraria (Sertabumi - AGRA), Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) Karanganyar, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surakarta, Front Mahasiswa Nasional (FMN) UNS, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) FP UNS, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FP, dan League of Social Studies & Research (LSSR).

Koordinator Aksi Yosef Heriyanto  mengatakan petani Karanganyar mengalami krisis dengan masalah kesulitan air karena dimonopoli, harga komoditas tani panen yang tidak pasti dan cenderung rendah, dan pupuk yang langka dan mahal.

"Hari tani nasional 2024, digunakan kami sebagai momentum untuk menyuarakan permasalahan kaum tani di Karanganyar," kata Yosef, Selasa (24/9/2024).

Yosef mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, para petani menghadapi tantangan yang semakin memperburuk kesejahteraan mereka. 

Kondisi ini tidak lepas dari berbagai kebijakan pemerintah yang sering kali dianggap tidak berpihak pada petani kecil seperti mengenai air, jaminan harga, dan pupuk.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved