Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Fenomena OM Lorenza

OM Lorenza Jadi Penyegar untuk Pasar yang Jenuh dengan Dangdut Koplo

Musik dangdut irama melayu era 70-an memberi nuansa baru untuk yang bosan dengan dangdut arus utama ini.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Putradi Pamungkas
TribunSolo.com / Ahmad Syarifudin
SODIQ BERSAMA LORENZA - Sodiq Monata kala tampil bersama OM Lorenza di Polokarto, Sukoharjo, belum lama ini. Kehadiran OM Lorenza mengingatkan kembali kenangan masa lalu sekaligus menunjukkan bagaimana musik dangdut berevolusi sedemikian jauh. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di tengah dangdut koplo yang menjadi arus utama belantika musik dangdut, Pengamat Etnomusikologi ISI Surakarta Denis Setiaji mengungkapkan kemunculan OM Lorenza seakan membawa kesegaran di tengah pasar yang sedemikian jenuh.

Musik dangdut irama melayu era 70-an memberi nuansa baru untuk yang bosan dengan dangdut arus utama ini.

“Ada memang rasa jenuh itu. Ini agak refresh walaupun ini sudah ada di masa lalu,” jelasnya.

Ia melihat dengan dangdut koplo yang terus berevolusi, kini aransemen musik disuguhkan dengan campur aduk berbagai genre demi tetap eksis.

Sebut saja Denny Caknan hingga Ndarboy Genk yang berusaha memasukkan berbagai elemen dalam musik mereka.

OM Lorenza dengan aransemen era 70-an yang sangat bersahaja memunculkan kembali dangdut klasik yang belum banyak tercampur unsur-unsur dalam genre musik lain.

“Muncul kelompok musik dengan fanbase mereproduksi ulang musik dangdut era 70-an. Salah satu faktornya ketika dangdut jaman sekarang didominasi koplo dengan Denny Caknan, Ndarboy dalam satu dekade mereka menjadi spotlight. Ada satu kelompok ini yang mencoba merasakan aura dangdut klasik. Sudah sengkarut gaya dangdut koplo ada jazz, blues, semua tercampur aduk. Sepertinya seolah-olah mendengar dangdut yang murni,” jelasnya.

SODIQ BERSAMA LORENZA - Sodiq Monata kala tampil bersama OM Lorenza di Polokarto, Sukoharjo, belum lama ini. Kehadiran OM Lorenza mengingatkan kembali kenangan masa lalu sekaligus menunjukkan bagaimana musik dangdut berevolusi sedemikian jauh.
SODIQ BERSAMA LORENZA - Sodiq Monata kala tampil bersama OM Lorenza di Polokarto, Sukoharjo, belum lama ini. Kehadiran OM Lorenza mengingatkan kembali kenangan masa lalu sekaligus menunjukkan bagaimana musik dangdut berevolusi sedemikian jauh. (TribunSolo.com / Ahmad Syarifudin)

Apalagi gaya berjoget yang lebih santai membuat musik dangdut era 70-an makin diminati.

Ini seakan menjadi antitesis dari joget ala dangdut koplo yang penuh hentakan dan menguras tenaga. 

“Ditambah lagi cara mereka joget yang tidak terlalu dinamis tidak hiperaktif. Saya kira itu gejala di semua genre musik. Beberapa kelompok menyukai merecall cita rasa musikal era 70-an seperti Diskoria. Sekarang dinikmati, dimunculkan dengan gaya sekarang,” tuturnya.

Dangdut koplo baru muncul sekitar tahun 90-an.

Subgenre ini memadukan musik melayu dengan berbagai instrumen etnik di Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Ada era dangdut irama melayu, era rhoma irama, romantik, sampai etnik. Etnik ada koplo, Banyuwangi ada kendang kempul, Sunda ada Jaipong Dangdut, saluang dangdut di Sumatera Barat. Cukup terkenal koplo di era sekarang mempengaruhi pasar dan segala macam kolaborasi dengan genre lain. Kalau dangdut koplo di sisi historis Jawa Timur 1990-an. Awalnya membawakan lagu dangdut klasik. Ada sedikit pola kendang. Dulu kendangnya irama Melayu terinspirasi kendang Sunda. Kemudian ada irama koplo mengimitasi kendang Sunda, Banyuwangi. Inul Daratista momentum munculnya Dangdut Koplo sprint over ke nasional. Waktu itu marak VCD Bajakan. Itu mempengaruhi dangdut koplo ke daerah,” paparnya.

Baca juga: Awal Mula Fenomena OM Lorenza, Berkah Tak Terduga Gegara Nganggur Dilanda Covid-19

Menurutnya, aransemen musik yang paling khas dangdut era 70-an yakni instrumen mandolin dan suling bambu yang sudah hampir punah dalam aransemen musik dangdut modern.

“Elemen yang paling kerasa instrumen mandolin. Bagaimana misalnya penggunaan suling bambu kembali lagi. Di era sekarang saxophone jarang sekali suling bambu,” jelasnya.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved