Fakta Menarik Tentang Solo
Asal-usul Stasiun Purwosari Solo, Dibangun atas Kemurahan Hati Mangkunegaran
Kehadiran Stasiun Purwosari ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah transportasi kereta api di Solo dan Indonesia.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Arsitektur dan Ciri Khas Bangunan
Stasiun Purwosari memiliki arsitektur khas yang mirip dengan stasiun-stasiun lain yang dibangun pada masa itu, seperti Stasiun Kedungjati dan Ambarawa.
Bangunan stasiun ini didominasi oleh struktur besi yang menopang atap dengan penutup seng gelombang.
Di bagian tengah stasiun terdapat ruang-ruang pelayanan dan ruang tunggu, sementara peron terletak di kedua sisi.
Saat ini, emplasemen selatan stasiun tidak lagi digunakan, dan pintu masuk utama beralih ke sisi utara.
Perkembangan Jalur Trem
Salah satu aspek menarik dari sejarah Stasiun Purwosari adalah keterkaitannya dengan jalur trem.
Pada 1897, Solosche Tramweg Maatschappij (STM) membuka jalur trem yang menghubungkan Solo dengan Boyolali, yang berawal dari Stasiun Purwosari.
Trem pertama yang beroperasi di Solo ini menggunakan tenaga kuda sebagai penariknya. Selain itu, terdapat jalur trem yang menghubungkan Solo dengan Wonogiri, yang dioperasikan oleh NISM dan resmi dibuka pada 1922.
Namun, jalur trem yang ada tidak bertahan lama.
Pada 1899, banyak unit kuda yang terjangkit penyakit, sehingga STM bekerja sama dengan NISM, yang akhirnya mengakuisisi perusahaan ini pada 1 Januari 1911. Meskipun jalur trem kuda ini telah berhenti beroperasi, warisan sejarahnya tetap terjaga hingga kini.
Stasiun Purwosari di Era Modern
Saat ini, Stasiun Purwosari tetap menjadi bagian penting dari jaringan kereta api di Solo.
Selain melayani kereta api jarak jauh yang menghubungkan Solo dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, stasiun ini juga melayani kereta jarak dekat seperti rute Solo-Wonogiri.
Uniknya, jalur kereta api ini melintas di pinggir Jl. Slamet Riyadi, sebuah rel yang berdampingan dengan moda transportasi lain di tengah kota, yang menjadikannya sebagai jalur kereta yang langka di Indonesia.
Tak hanya itu, Stasiun Purwosari juga menjadi titik pemberangkatan kereta wisata uap kuno atau sepur kluthuk Jaladara.
Kereta wisata ini menawarkan pengalaman perjalanan menggunakan kereta api uap yang bersejarah dan menarik bagi para wisatawan yang ingin merasakan sensasi transportasi zaman dahulu.
(*)
Asal-usul Stasiun Solo Kota, Stasiun Bersejarah di Solo yang jadi Jalur Kereta Bathara Kresna |
![]() |
---|
Asal-usul Nama Perempatan Panggung di Solo Jateng, Dulu jadi Tempat Mengintai Hewan Buruan |
![]() |
---|
Makna Batik Parang yang Pernah Dilarang di Pernikahan Kaesang dan Erina di Mangkunegaran Solo |
![]() |
---|
Kisah Slamet Riyadi Pahlawan Asal Solo Gugur di Ambon, Makamnya di Surakarta Hanya Gundukan Tanah |
![]() |
---|
Asal-usul Nama Kampung Baron di Solo Jateng, Dulu Tempat Tinggal Para Bangsawan Eropa |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.