Fakta Menarik Tentang Solo
Asal-usul Pasar Kliwon Solo hingga Bisa Jadi Tempat Perkampungan Warga Keturunan Arab-Indonesia
Wilayah Pasar Kliwon saat ini terkenal sebagai tempat perkampungan warga keturunan Arab-Indonesia.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLOM, SOLO - Pasar Kliwon adalah sebuah kecamatan yang terletak di tenggara Kota Surakarta.
Wilayah Pasar Kliwon saat ini terkenal sebagai tempat perkampungan warga keturunan Arab-Indonesia.
Mereka biasa hidup dari penjualan tekstil dan di sini pulalah terdapat Pasar Klewer, pasar batik terbesar di Indonesia.
Baca juga: Asal-usul Kampung Batik Kauman Solo, Dulu Kawasan Tempat Tinggal Para Santri dan Ulama
Kampung Kauman, yang disebut sebagai Kampung Wisata Batik, terletak di kecamatan ini, yaitu di sebelah Pasar Klewer
Kawasan Kampung Arab di Solo
Dikutip dari Surakarta.go.id, Pasar Kliwon dulunya adalah pasar untuk jual beli hewan ternak yang diadakan setiap hari pasaran Kliwon.
Pasar itu berada di kawasan Kampung Arab yang menjadi tempat tinggal khusus bagi orang Arab di masa penjajahan Belanda.
Melalui kebijakan wijken stelsel, orang Arab dikategorikan penduduk timur asing dalam struktur masyarakat kolonial.
Baca juga: Asal-usul Kelurahan Jajar di Solo, Diambil dari Nama Abdi Dalem Keraton Surakarta
Karena itu mereka diwajibkan tinggal di tempat khusus yang telah ditentukan oleh pimpinan yang disebut kapiten.
Lantaran dihuni mayoritas keturunan Arab, maka Pasar Kliwon juga dikenal dengan dikenal dengan nama Kampung Arab.
Tak hanya di Pasar Kliwon, Kampung Arab di Solo juga ada di Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Kedung Lumbu.
Di Pasar Kliwon berdiri Rumah Sakit Kustati.
Disebutkan tanah untuk bangunan rumah sakit tersebut merupakan hadiah dari Pakubuwono X kepada seorang keturunan Arab yang pernah menjadi guru mengaji.
Baca juga: Asal-usul Trucuk yang Kini Jadi Kecamatan di Klaten, Diambil dari Nama Tanaman Lokal
Sang guru tersebut diceritakan menyembuhkan putri Sang Sunan yang bernama Kustati.
Untuk mengenang kisah tersebut, rumah sakit itu diberi nama Kustati.
| Makna Batik Parang yang Dilarang Dikenakan di Keraton Solo dan Mangkunegaran |
|
|---|
| Tempe Gembus Mudah Dijumpai di Angkringan Solo, Ternyata Pernah Jadi Penyelamat Saat Krisis Pangan |
|
|---|
| Kisah Menarik Kelurahan Gajahan di Solo, Ternyata Dulu Tempat Kandang Gajah Milik Keraton Surakarta |
|
|---|
| Contohnya Selat, Ini Sejarah Panjang Kenapa Kuliner di Solo Kebanyakan Bercitarasa Manis |
|
|---|
| Cerita Misteri di Ndalem Kalitan Solo Rumah Soeharto, Konon Gamelan di Sana Berbunyi Tiap Malam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Benteng-Vastenburg-yang-bakal-menjadi-venue-Puncak-Harlah-ke-63-PMII.jpg)