Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Fakta Menarik Tentang Sukoharjo

Asal-usul Nama Begajah yang jadi Kelurahan di Sukoharjo: Kisah Tragis 2 Ekor Gajah Keraton Surakarta

Begajah diyakini memiliki kaitan erat dengan seekor gajah yang menjadi tunggangan dua utusan Keraton Kasunanan Surakarta.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
WIKIPEDIA/Ary Prasetyo
KANTOR DESA BEGAJAH - Tampak dari depan Kantor Kelurahan Begajah di Sukoharjo, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu. Begini asal-usul nama Begajah hingga jadi kelurahan. (WIKIPEDIA/Ary Prasetyo) 

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Begajah adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia.

Kelurahan Begajah berbatasan langsung dengan Kecamatan Nguter.

Lokasinya tidak jauh dari Terminal Sukoharjo.

Baca juga: Asal-usul Nama Mayang yang Kini Jadi Desa di Sukoharjo, Ada Kisah Terkenal Tumenggung Mayang

Asal-usul Begajah

Nama “Begajah” ternyata tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari cerita turun-temurun yang hingga kini masih diingat dan dijaga oleh warga setempat.

Menurut kisah yang berkembang sejak abad ke-18, tepatnya sekitar tahun 1780-an, Begajah diyakini memiliki kaitan erat dengan seekor gajah yang menjadi tunggangan dua utusan Keraton Kasunanan Surakarta.

Salah satu dari dua utusan tersebut dikenal dengan nama Rana Menggala.

Keduanya mendapat tugas penting untuk menyampaikan surat ke wilayah Wonogiri.

Dalam perjalanannya, gajah yang mereka tunggangi bersama dua orang srati (pawang gajah) terperosok ke dalam lumpur rawa-rawa, peristiwa yang dalam istilah Jawa disebut mbeg.

Gajah tersebut tidak dapat diselamatkan, begitu pula dua srati yang ikut mendampinginya.

Baca juga: Asal-usul Nama Sangkrah yang Kini Jadi Kecamatan di Solo, Ada Legenda Jenazah Kyai Bathang

Sejak saat itu, wilayah tersebut dikenal sebagai "Begajah" — gabungan dari kata mbeg (terjebak lumpur) dan gajah.

Gajah dan dua srati tersebut lantas dikuburkan di lokasi tersebut dan menjadi cikal bakal penanda wilayah Begajah.

Meski kedua utusan kerajaan selamat dan melanjutkan perjalanan mereka ke Wonogiri dengan berjalan kaki, peristiwa tragis tersebut meninggalkan warisan sejarah yang abadi.

ingga kini, makam gajah dan dua srati masih dirawat dengan baik oleh warga setempat.

Lokasinya berada di RT 02/RW IV, dalam sebuah kompleks permakaman yang telah dipugar dan diberi pagar pelindung.

Uniknya, makam sang gajah dibuat lebih besar dan dilengkapi rumah pelindung di atasnya.

Makam ini terletak persis di tengah kompleks, sementara dua makam para srati berada di sisi kanan dan kiri makam utama.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved