Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Brem Khas Nguntoronadi Wonogiri yang Legendaris, Ini Bedanya dengan Brem dari Madiun

Lebih dari sekadar makanan, brem membawa cerita budaya serta memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di Wonogiri.

|
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
KULINER KHAS WONOGIRI - Pekerja menjemur makanan tradisional brem yang telah selesai dicetak di Desa Gebang, Nguntoronadi, Wonogiri, Jawa Tengah, Selasa (10/9/2019). Saat ini terdapat puluhan pembuat brem di desa tersebut dan regenerasi profesi pembuat makanan tradisional itu terus berlangsung. 

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Manis, asam, dan sensasi dingin menjadi ciri khas brem, camilan tradisional asal Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Terbuat dari sari pati ketan, brem merupakan hasil fermentasi khas Dusun Tenggar, Desa Gebang, Kecamatan

Nguntoronadi yang sudah diwariskan secara turun-temurun sejak sekitar tahun 1950-an.

Baca juga: Sejarah Wedang Dongo Pak Untung di Solo: Kuliner Legendaris Sejak 1955, Dulu jadi Sajian Kerajaaan

Lebih dari sekadar makanan, brem membawa cerita budaya serta memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat setempat.

Sejarah Brem Wonogiri

Brem bukan hanya makanan, melainkan bagian penting dari budaya dan identitas masyarakat Wonogiri.

Produk fermentasi ketan ini dipercaya telah menjadi sarana berbagi antara manusia dan hewan ternak, seperti sapi dan kambing, sebagai wujud harmoni dan kearifan lokal.

Makanan ini memiliki nilai sejarah yang melekat erat pada perkembangan wilayah Wonogiri.

Menurut laman Institut Pertanian Bogor, brem adalah produk fermentasi yang menghasilkan alkohol jenis etanol.

Baca juga: Sejarah Masjid Ar Riyadh Pasar Kliwon Solo, Titik Pertemuan Tradisi Islam dan Budaya Arab

Di Indonesia, ada tiga jenis brem utama: brem Madiun berwarna putih kekuningan dan rasa asam-manis, brem Wonogiri berwarna putih dengan rasa manis dan tekstur mudah larut, serta brem Bali yang terkenal sebagai minuman keras khas Bali.

KULINER WONOGIRI - Foto Brem Asli Wonogiri merek Mekar Sari yang dijual di Shopee, dengan harga Rp 7 ribu per bungkus.
KULINER WONOGIRI - Foto Brem Asli Wonogiri merek Mekar Sari yang dijual di Shopee, dengan harga Rp 7 ribu per bungkus. (Shopee)

Proses Pembuatan Tradisional

Pembuatan brem Wonogiri melibatkan proses yang cukup panjang dan tradisional.

Ketan terbaik dipilih, direndam selama 30 menit untuk mengembang, kemudian dikukus setengah matang dan dicuci bersih.

Setelah dikukus matang, ketan didinginkan dan ditaburi ragi seperti Amylomyces rouxii dan Endomycopsis burtonii untuk mengubah pati menjadi gula maltosa dan glukosa.

Cairan sari pati ketan ini lalu dimasak hingga mengental dan dicetak menggunakan alat sederhana berupa kawat berbentuk lingkaran atau triplek berlubang, kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kering.

Baca juga: Sejarah Roti Krumpul Khas Solo : Dibawa Bangsa Eropa, Kini jadi Kuliner Hajatan yang Melegenda

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved