Sejarah Kuliner Legendaris
Sejarah Brem Khas Nguntoronadi Wonogiri yang Legendaris, Ini Bedanya dengan Brem dari Madiun
Lebih dari sekadar makanan, brem membawa cerita budaya serta memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di Wonogiri.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Manis, asam, dan sensasi dingin menjadi ciri khas brem, camilan tradisional asal Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Terbuat dari sari pati ketan, brem merupakan hasil fermentasi khas Dusun Tenggar, Desa Gebang, Kecamatan
Nguntoronadi yang sudah diwariskan secara turun-temurun sejak sekitar tahun 1950-an.
Baca juga: Sejarah Wedang Dongo Pak Untung di Solo: Kuliner Legendaris Sejak 1955, Dulu jadi Sajian Kerajaaan
Lebih dari sekadar makanan, brem membawa cerita budaya serta memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Sejarah Brem Wonogiri
Brem bukan hanya makanan, melainkan bagian penting dari budaya dan identitas masyarakat Wonogiri.
Produk fermentasi ketan ini dipercaya telah menjadi sarana berbagi antara manusia dan hewan ternak, seperti sapi dan kambing, sebagai wujud harmoni dan kearifan lokal.
Makanan ini memiliki nilai sejarah yang melekat erat pada perkembangan wilayah Wonogiri.
Menurut laman Institut Pertanian Bogor, brem adalah produk fermentasi yang menghasilkan alkohol jenis etanol.
Baca juga: Sejarah Masjid Ar Riyadh Pasar Kliwon Solo, Titik Pertemuan Tradisi Islam dan Budaya Arab
Di Indonesia, ada tiga jenis brem utama: brem Madiun berwarna putih kekuningan dan rasa asam-manis, brem Wonogiri berwarna putih dengan rasa manis dan tekstur mudah larut, serta brem Bali yang terkenal sebagai minuman keras khas Bali.
Proses Pembuatan Tradisional
Pembuatan brem Wonogiri melibatkan proses yang cukup panjang dan tradisional.
Ketan terbaik dipilih, direndam selama 30 menit untuk mengembang, kemudian dikukus setengah matang dan dicuci bersih.
Setelah dikukus matang, ketan didinginkan dan ditaburi ragi seperti Amylomyces rouxii dan Endomycopsis burtonii untuk mengubah pati menjadi gula maltosa dan glukosa.
Cairan sari pati ketan ini lalu dimasak hingga mengental dan dicetak menggunakan alat sederhana berupa kawat berbentuk lingkaran atau triplek berlubang, kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kering.
Baca juga: Sejarah Roti Krumpul Khas Solo : Dibawa Bangsa Eropa, Kini jadi Kuliner Hajatan yang Melegenda
| Rekomendasi Kuliner Solo : Cicipi Nasi Liwet Bu Wongso Lemu yang Legendaris Sejak 1950-an |
|
|---|
| Dulu Penyelamat saat Krisis Pangan, Inilah Tempe Gembus, Cikal Bakal Kuliner Legendaris Khas Solo |
|
|---|
| Rekomendasi Kuliner Legendaris Solo : Cicipi Roti Kecik Ganep yang Sudah Ada Sejak Tahun 1881 |
|
|---|
| Sejarah Es Gabus, Kuliner Jadul yang Mulai Langka di Solo, Pernah Populer di Tahun 80-90an |
|
|---|
| Rekomendasi Kuliner Unik di Klaten : Cicipi Soto Garing Tanpa Kuah, Menu Sarapan Sejak Tahun 1973 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Pekerja-menjemur-makanan-tradisional-brem-yang-telah-selesai-dicetak.jpg)