Sejarah Kuliner Legendaris
Sejarah Arum Manis, Kuliner Khas Pasar Malam di Solo Raya, Ternyata Diciptakan Dokter Gigi
Jajanan tradisional berwarna lembut seperti kapas ini seolah menjadi simbol kegembiraan masa kecil dan kenangan malam minggu tempo dulu.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di antara deretan lampu warna-warni, suara komidi putar, dan tawa anak-anak di pasar malam Solo Raya, satu aroma khas selalu menggoda indera penciuman: arum manis.
Jajanan tradisional berwarna lembut seperti kapas ini seolah menjadi simbol kegembiraan masa kecil dan kenangan malam minggu tempo dulu.
Arum manis yang juga dikenal dengan nama rambut nenek atau arbanat merupakan salah satu kuliner tradisional Indonesia yang sampai kini masih eksis di momen-momen tertentu.
Baca juga: Sejarah Es Puter yang jadi Kuliner Hajatan di Solo : Kreativitas Rakyat saat Tak Mampu Beli Es Krim
Teksturnya lembut menyerupai helaian rambut, dengan rasa manis yang langsung lumer di mulut.
Biasanya dijual di keramaian seperti pasar malam, karnaval, atau festival rakyat, jajanan ini kerap dikaitkan dengan suasana riang khas hiburan rakyat di Solo dan sekitarnya.
Asal Usul dan Jejak Nusantara
Meski dikenal luas di berbagai daerah Indonesia, asal usul arum manis masih menyisakan perdebatan.
Banyak yang meyakini jajanan ini berasal dari Jawa Timur, terutama Kota Malang dan Desa Kesambi, Kabupaten Lamongan.
Di desa tersebut, sebagian besar warganya bahkan menggantungkan hidup dari produksi arum manis tradisional.
Dulu, pedagang arum manis berkeliling kampung sambil membawa rebab, alat musik petik, sebagai penanda kehadiran mereka.
Suaranya yang khas membuat anak-anak segera berlarian keluar rumah untuk membeli jajanan manis yang dibungkus dalam plastik atau dimasukkan ke dalam roti tipis berbentuk kerucut.
Dibawa dari Italia ke Indonesia
Namun ternyata, jika ditelusuri lebih jauh, konsep arum manis memiliki akar sejarah panjang di dunia.
Dikutip dari The Daily Meal, makanan sejenis arum manis telah dikenal sejak abad ke-15 di Italia, ketika para koki bangsawan menciptakan serat gula leleh dengan garpu.
Saat itu, hanya kalangan kaya yang mampu menikmatinya.
| Sejarah Es Gabus, Kuliner Jadul yang Mulai Langka di Solo, Pernah Populer di Tahun 80-90an |
|
|---|
| Rekomendasi Kuliner Unik di Klaten : Cicipi Soto Garing Tanpa Kuah, Menu Sarapan Sejak Tahun 1973 |
|
|---|
| Sejarah Semur Daging, Hidangan Khas Lebaran di Solo Raya yang Aslinya dari Belanda |
|
|---|
| Mengenal Sosis Bedug, Kuliner Legendaris Pengging Boyolali yang Disambangi Jokowi dan Iriana |
|
|---|
| Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo: Kue Mandarijn Made In Toko Roti Orion yang Legendaris & Jadi Buruan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Arum-Manis-berkarakter-dari-Gulaley.jpg)