Sejarah di Kota Solo
Mengenal Jarik, Kain Tradisional Solo Sejak Era Majapahit : Serba Guna dan Sarat Filosofis
Lebih dari sekadar kain bermotif batik, jarik adalah simbol budaya, identitas, dan filosofi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Jarik adalah kain tradisional Jawa penuh filosofi, berasal dari era Majapahit, dan melambangkan nilai seperti “Aja Gampang Sirik”.
- Dulu dipakai sehari-hari untuk berbagai fungsi, dari pakaian, gendongan bayi, hingga upacara adat, serta mencerminkan status sosial melalui motif.
- Di era modern, jarik bangkit sebagai tren fashion dan terus dilestarikan lewat motif khas, karya desainer, dan dukungan budaya.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bagi warga Solo Raya, Jawa Tengah, pasti familiar dengan kain jarik.
Jarik merupakan salah satu kain tradisional Indonesia yang memiliki kedekatan mendalam dengan kehidupan masyarakat Jawa, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Lebih dari sekadar kain bermotif batik, jarik adalah simbol budaya, identitas, dan filosofi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Kenapa Tidak Boleh Pakai Batik Parang di Keraton Solo dan Mangkunegaran? Ternyata Ini Sejarahnya
Kehadiran jarik tidak hanya terlihat dalam upacara adat dan acara resmi, tetapi juga pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.
Makna Filosofis di Balik Nama “Jarik”
Dalam bahasa Jawa, jarik merupakan singkatan dari ungkapan “Aja Gampang Sirik” yang berarti jangan mudah iri hati.
Filosofi ini mengingatkan pemakainya untuk selalu bersikap rendah hati dan bijaksana.
Ketika dikenakan, jarik membuat seseorang berjalan lebih hati-hati, anggun, dan lemah lembut, mencerminkan karakter ideal masyarakat Jawa yang penuh tata krama.
Di masa lalu, jarik menjadi pakaian utama perempuan Jawa.
Gerak tubuh yang lembut saat mengenakannya dianggap mencerminkan kehalusan budi dan kesopanan.
Kini, meski jarik tidak lagi digunakan sehari-hari, kain ini tetap hadir dalam upacara adat, prosesi pernikahan, meditasi budaya keraton, dan kegiatan yang sarat nilai tradisi.
Baca juga: Sejarah Bakwan, Gorengan Klasik yang Populer di Solo, Lahir dari Kisah Haru Anak Berbakti
Peran Jarik dalam Kehidupan Sehari-Hari Masyarakat Jawa
Sebelum era modern, jarik memiliki fungsi sangat luas.
Kain ini dipakai sebagai bawahan sehari-hari, penggendong bayi, alas tidur bayi, penutup jenazah, hingga pembungkus tubuh saat mandi di sungai yang disebut telesan atau basahan.
Bahkan hingga sekarang, sebagian perempuan masih memilih menggendong bayi menggunakan jarik karena dianggap lebih nyaman dan fleksibel dibandingkan alat gendong modern.
Bagi perempuan Jawa yang baru melahirkan, jarik juga dianjurkan untuk membantu menjaga postur tubuh dan mempercepat proses pemulihan.
| Perbedaan Gudeg Solo dan Jogja, Menu Sarapan Favorit yang Punya Sejarah Panjang |
|
|---|
| Sejarah Stadion Manahan Solo yang Dikritik Andre Rosiade Mirip Sawah, DIbangun di Era Soeharto |
|
|---|
| Asal-usul Panggung Songgo Buwono Keraton Solo, Kondisinya Pasca-revitalisasi Disorot Kubu Purboyo |
|
|---|
| Mengenal Honggowongso, Sosok Jenius Perancang Bangunan dan Infrastruktur Keraton Solo |
|
|---|
| Fakta Batik Solo: Warisan Keraton yang Mendunia, Tiap Motifnya Punya Filosofi Sendiri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/artis-pakai-jarik-di-Solo.jpg)