UMK Jawa Tengah 2025

UMK Wonogiri 2026 Naik Rp155 Ribu, Buruh Nilai Masih Sulit Beli Rumah

Buruh di Wonogiri mengomentari UMK 2026, menurut mereka, UMK tersebut belum cukup memenuhi kebutuhan seperti membeli rumah.

TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti
ILUSTRASI. Buruh di Wonogiri sedang bekerja beberapa waktu lalu. UMK Wonogiri dinilai masih jauh untuk mensejahterakan buruh, mereka sulit membeli rumah. 
Ringkasan Berita:
  • UMK Wonogiri 2026 ditetapkan sebesar Rp2.335.126, naik Rp154.539 dari 2025. 
  • Meski demikian, UMK tersebut dinilai baru memenuhi sekitar 66 persen kebutuhan hidup layak versi BPS dan hanya cukup untuk kebutuhan primer pekerja.
  • SPSI Wonogiri menerima keputusan UMK 2026, namun menilai pekerja masih kesulitan memenuhi kebutuhan lain seperti membeli rumah dan akan terus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan.

Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Wonogiri buka suara soal besaran UMK Wonogiri 2026 yang telah ditetapkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Rabu (24/12/2025).

Besaran UMK Wonogiri 2026 yang ditetapkan adalah Rp2.335.126 atau lebih besar Rp154.539 dibandingkan UMK tahun 2025 sebesar Rp2.180.587.

Ketua SPSI Wonogiri, Seswanto, mengatakan pihaknya mensyukuri besaran UMK yang ditetapkan karena merupakan hitungan maksimal dengan menggunakan nilai alpha 0,9.

"(Kenaikannya) paling tinggi se-Solo Raya. Akan tetapi kalau kita mengacu kepada survei KHL (kebutuhan hidup layak) dari BPS, yakni sekitar Rp3,5 juta, baru sekitar 66 persennya," katanya.

Menurutnya, dengan besaran UMK tersebut, pekerja di Wonogiri baru mampu memenuhi kebutuhan fisik, belum kebutuhan lainnya.

"Baru primer, prihatin dan merana," sambungnya.

ILUSTRASI. Sebanyak 5.000 eks buruh PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menggelar doa bersama (istighosah) di halaman pabrik pada Jumat (27/12/2024). Di Wonogiri buruh menyebut UMK 2026 tak cukup untuk membeli rumah.
ILUSTRASI. Sebanyak 5.000 eks buruh PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menggelar doa bersama (istighosah) di halaman pabrik pada Jumat (27/12/2024). Di Wonogiri buruh menyebut UMK 2026 tak cukup untuk membeli rumah. (TribunSolo.com/ Anang Ma'ruf)

Kesulitan Beli Rumah

Seswanto mencontohkan, saat ini kebutuhan manusia semakin kompleks, seperti menabung untuk membeli rumah.

"Kalau sehari untuk makan Rp60 ribu, sebulan sudah Rp1,8 juta. Itu belum untuk beli bensin atau yang lain. Ibaratnya seperti itu, baru kebutuhan fisik, belum kebutuhan yang lain," katanya.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai pekerja di Wonogiri dengan gaji UMK akan kesulitan jika ingin membeli rumah, bahkan rumah subsidi.

Baca juga: Kecewa UMK Solo 2026, Buruh Ancam Keluar dari Dewan Pengupahan dan Turun ke Jalan

"Ya sulit, rumah subsidi paling kecil saja sekarang sekitar Rp900 ribu," kata Seswanto.

Pihaknya menerima keputusan besaran UMK tersebut.

Meski demikian, SPSI Wonogiri akan terus berjuang agar pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan pekerja.

"Se-Jateng masih terendah kedua, ajeg. Kami akan terus berjuang agar lebih diperhatikan pemerintah, untuk mendongkrak kesejahteraan, daya beli, agar ekonomi di daerah menggeliat," jelasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved