Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Lumpia, Kuliner Tionghoa-Jawa yang Bertransformasi Jadi Ikon Kuliner Khas Klaten

Umumnya lumpia digoreng hingga renyah, meski ada pula jenis lumpia basah yang disajikan tanpa proses penggorengan.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Mardon Widiyanto
SEJARAH KULINER LEGENDARIS - Lumpia Duleg berisi potongan kecambah dengan campuran pati ogok ini menjadi ciri khas Dukuh Lemburejo, Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Sabtu (16/1/2021). Beginilah sejarah lumpia hingga jadi lumpia duleg, kuliner khas Klaten, Jawa Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Lumpia adalah jajanan populer berbentuk gulungan dengan isian beragam, identik dengan Semarang dan merupakan hasil perpaduan budaya Tionghoa–Jawa sejak abad ke-19.
  • Lumpia Semarang bermula dari usaha Tjoa Thay Joe dan Wasih, lalu berkembang luas hingga dikenal sebagai spring roll khas Indonesia.
  • Di Klaten, lumpia beradaptasi menjadi lumpia duleg berisi taoge dan pati onggok, disajikan dengan kuah manis juruh, dan kini menjadi ikon kuliner Desa Gatak.

 

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Lumpia merupakan salah satu makanan ringan populer di Indonesia yang dikenal berbentuk gulungan panjang dengan isian beragam.

Kuliner ini terbuat dari lembaran tipis tepung gandum atau kulit tahu yang membungkus isian seperti rebung, telur, sayuran, daging, maupun makanan laut.

Umumnya lumpia digoreng hingga renyah, meski ada pula jenis lumpia basah yang disajikan tanpa proses penggorengan.

Baca juga: Sejarah Molen, Adaptasi Roti Khas Belanda yang Menjelma jadi Oleh-oleh Khas Tawangmangu Karanganyar

Di Indonesia, lumpia identik sebagai jajanan khas Semarang dan Makassar, dengan resep dan bahan yang telah disesuaikan dengan budaya lokal.

Khusus Lumpia Semarang, makanan ini merupakan warisan kuliner hasil perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa yang telah dikenal sejak abad ke-19.

Sejarah Lumpia

Sejarah Lumpia Semarang berawal dari seorang perantau Tionghoa bernama Tjoa Thay Joe yang menetap di Semarang.

Ia membuka usaha makanan khas Tionghoa berupa hidangan pelengkap berisi daging babi dan rebung.

Dalam perjalanannya, Tjoa Thay Joe bertemu Wasih, perempuan Jawa yang juga berjualan makanan serupa namun bercita rasa manis dengan isian kentang dan udang.

Baca juga: Sejarah Tumpeng, Kuliner Khas Syukuran di Solo Raya, Dulu Simbol Memuliakan Gunung

Keduanya kemudian menikah dan memadukan resep masing-masing.

Dari perpaduan itulah lahir lumpia dengan isian rebung manis yang dipadukan udang atau daging ayam.

Jajanan ini mulai dijual di Olympia Park, pasar malam era Belanda, dan perlahan menjadi primadona masyarakat.

Usaha lumpia tersebut terus berkembang dan diwariskan kepada anak-anak mereka hingga dikenal luas sebagai Lumpia Semarang.

Resep Lumpia Jagung Enak, Camilan Tradisional yang Selalu Sukses Bikin Ketagihan
KULINER LEGENDARIS - Ilustrasi lumpia isi rebung yang  (Sajian Sedap)

Asal-usul Nama Lumpia

Nama lumpia berasal dari dialek Hokkian, yakni lun pia, yang berarti kue lunak.

Awalnya, lumpia memang disajikan tanpa digoreng sehingga teksturnya lembut.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved