Ramadhan 2026

Penjelasan Hasil Negatif Hilal Observatorium Assalam Sukoharjo, Ijtimak Terjadi Jelang Isya

Hilal Syawal 1447 H tak terlihat di Sukoharjo, Ramadhan 2026 diprediksi 19 Februari.

Tayang:
TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar
PANTAU HILAL - Observatorium Pondok Pesantren Modern Assalam Sukoharjo melaksanakan pemantauan atau rukyat hilal untuk penentuan awal Syawal 1447 Hijriah pada Selasa (16/2/2026). Pemantauan rukyat hilal Syawal 1447 Hijriah di Observatorium Pondok Pesantren Modern Assalam, Sukoharjo, menunjukkan hasil hilal negatif 

Ringkasan Berita:
  • Rukyat hilal Syawal 1447 H di Observatorium Pondok Pesantren Modern Assalam Sukoharjo pada 16 Februari 2026 tidak membuahkan hasil
  • Secara astronomis, hilal negatif karena bulan terbenam sebelum matahari dan konjungsi terjadi pukul 19.03 WIB setelah Magrib
  • Awal Ramadhan 2026 diprediksi 19 Februari 2026, menunggu keputusan resmi sidang isbat pemerintah

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Rukyat hilal untuk penentuan awal Syawal 1447 Hijriah di Observatorium Pondok Pesantren Modern Assalam, Sukoharjo, Selasa (16/2/2026), tidak membuahkan hasil.

Selain cuaca mendung sejak siang, secara astronomis hilal memang dipastikan tidak mungkin terlihat karena posisi bulan sudah terbenam sebelum matahari dan konjungsi terjadi setelah Magrib.

Pengamatan Digelar di Observatorium Assalam

Pemantauan hilal berlangsung mulai pukul 17.00 WIB hingga 18.00 WIB di anjungan observatorium Assalam, Pabelan, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

Kegiatan ini dihadiri perwakilan Kementerian Agama Wonogiri serta jamaah masjid dari wilayah Solo dan sekitarnya.

Observatorium milik Pondok Pesantren Modern Assalam tersebut menjadi salah satu titik rukyat hilal di Indonesia.

Gunakan Empat Teleskop dan Theodolite Digital

Dalam pengamatan ini, tim menggunakan empat unit teleskop manual Sky Watcher, terdiri dari dua unit teleskop GoTo serta satu unit theodolite digital untuk mendukung akurasi pemantauan.

Meski peralatan memadai, faktor utama bukan hanya cuaca.

Secara data astronomis, posisi bulan memang tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal.

Koordinator tim rukyat, AR Sugeng Riyadi, menegaskan bahwa hasil ini sudah dapat diprediksi sejak awal.

“Kami menjadi salah satu tim pengamat hilal di Indonesia. Dari tadi siang hingga sore cuaca mendung. Namun berdasarkan data astronomis, hilal memang mustahil dilihat,” ujarnya, Selasa (16/2/2026).

PANTAU HILAL - Observatorium Pondok Pesantren Modern Assalam Sukoharjo melaksanakan pemantauan atau rukyat hilal untuk penentuan awal Syawal 1447 Hijriah pada Selasa (16/2/2026). Pemantauan rukyat hilal Syawal 1447 Hijriah di Observatorium Pondok Pesantren Modern Assalam, Sukoharjo, menunjukkan hasil hilal negatif
PANTAU HILAL - Observatorium Pondok Pesantren Modern Assalam Sukoharjo melaksanakan pemantauan atau rukyat hilal untuk penentuan awal Syawal 1447 Hijriah pada Selasa (16/2/2026). Pemantauan rukyat hilal Syawal 1447 Hijriah di Observatorium Pondok Pesantren Modern Assalam, Sukoharjo, menunjukkan hasil hilal negatif (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)

Konjungsi Terjadi Setelah Magrib

Sugeng menjelaskan, saat matahari terbenam, posisi bulan justru telah lebih dahulu terbenam di bawah ufuk.

Selain itu, konjungsi atau ijtimak belum terjadi ketika azan Magrib berkumandang.

“Konjungsi atau ijtimak terjadi sekitar pukul 19.03 WIB, menjelang azan Isya. Karena konjungsi terjadi setelah Magrib, maka hilal otomatis bernilai negatif. Artinya tidak mungkin terlihat,” jelasnya.

Ijtimak dapat dimaknai sebagai kondisi ketika bumi, bulan dan matahari berada pada posisi garis bujur yang sama.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved