Kasus PMK di Boyolali
Kasus PMK di Boyolali hingga Mei 2026, Serang Tujuh Kecamatan, Tiga Ekor Sapi Dilaporkan Mati
Sepanjang tahun 2026 hingga Mei, tercatat 51 ekor sapi tersebar di tujuh kecamatan Boyolali terpapar PMK.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Putradi Pamungkas
Ringkasan Berita:
- Kasus PMK di Boyolali kembali meningkat dengan total 51 sapi terdampak hingga Mei 2026 yang tersebar di 7 kecamatan, namun sebagian besar sudah dinyatakan sembuh.
- Tiga sapi dilaporkan mati, tetapi Disnakkan menyebut kematian dipicu infeksi lain sehingga imunitas turun, bukan murni akibat PMK.
- Lonjakan kasus dipicu tingginya mobilitas dan perdagangan ternak menjelang Idul Adha 2026 yang meningkatkan risiko penyebaran PMK.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.C0M, BOYOLALI - Penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali merebak di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Sepanjang tahun 2026 hingga Mei, tercatat 51 ekor sapi tersebar di tujuh kecamatan terpapar penyakit tersebut.
Kasus PMK ini ditemukan di wilayah Mojosongo, Andong, Sambi, Wonosegoro, Nogosari, Karanggede, dan Tamansari.
Meski demikian, sebagian besar hewan ternak yang terpapar dilaporkan telah sembuh.
3 Sapi Mati, Disnakkan Jelaskan Penyebab Tidak Murni PMK
Dari total kasus yang tercatat, terdapat tiga ekor sapi yang dilaporkan mati.
Namun, pihak Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali menegaskan kematian tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh PMK.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakkan Boyolali, Afiany Rifdania, menjelaskan bahwa kondisi ternak yang lemah akibat infeksi lain turut memperparah keadaan.
“Mati ini karena ada infeksi parasit darah juga yang menyebabkan imun turun. Jadi kena serangan PMK dia tidak kuat,” jelas Afiany.
Lonjakan Kasus Dipicu Mobilitas Ternak Jelang Idul Adha
Plt Kepala Disnakkan Boyolali, Ahmad Gojali, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus PMK terjadi seiring tingginya aktivitas perdagangan ternak menjelang Idul Adha 2026.
Tercatat, lonjakan aktivitas terjadi pada awal tahun hingga mendekati puncak musim perdagangan ternak untuk kebutuhan kurban.
“Awal tahun 2026 di Kabupaten Boyolali merupakan puncak musim bagi para peternak untuk mempersiapkan ternak yang akan dijual pada musim haji. Hewan yang diperjualbelikan di pasar hewan maupun secara online COD menjadi sangat padat,” ujar Gojali.
Menurutnya, tingginya lalu lintas ternak dalam beberapa bulan menjelang Hari Raya Kurban berbanding lurus dengan meningkatnya potensi penyebaran penyakit.
“Hal tersebut menyebabkan peningkatan kejadian kasus PMK,” jelasnya.
Baca juga: Perawatan Sapi Kurban Prabowo di Soloraya, Makan Comboran, Biaya Pakan Tembus Rp 50 Ribu Sehari
Disnakkan Lakukan Pemantauan dan Edukasi
Untuk menekan penyebaran, Disnakkan Boyolali terus melakukan pemantauan di lapangan serta memberikan edukasi kepada peternak.
Masyarakat juga diimbau segera melapor jika menemukan gejala PMK pada hewan ternaknya.
(*)
| Imbas PMK di Boyolali, Pedagang Kuliner Sapi Alami Kekurangan Pasokan hingga Pilih Libur |
|
|---|
| Kondisi Ekonomi Pedagang Kuliner Sapi Terdampak PMK, Warung di Boyolali Kekurangan Pasokan |
|
|---|
| Imbas Kasus PMK Merebak di Boyolali, Warung Iga Sapi Kekurangan Pasokan, Sampai Pilih Libur |
|
|---|
| PMK di Boyolali Kian Meluas, 538 Ekor Sapi Terpapar, 38 Ekor Mati |
|
|---|
| Kasus PMK Merebak Lagi, Disnakkan Boyolali Geber Vaksinasi Sapi, Target Rampung Pekan Depan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Ilustrasi-pengecekan-sapi-terkena-virus-PMK-atau-tidak.jpg)