Harga Plastik Naik
Jeritan Produsen Pakaian Dalam Rumahan di Klaten : Sepi Pesanan Sampai Harus Kurangi 6 Karyawan!
Permintaan pasar yang menurun makin diperparah dengan kenaikan harga bahan baku. Ongkos produksi pun otomatis merangkak naik.
Penulis: Zharfan Muhana | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Ringkasan Berita:
- Produsen pakaian dalam rumahan di Desa Tempursari, Ngawen, Klaten, terdampak kenaikan harga bahan baku sejak Lebaran lalu, mulai dari kain polyester, benang, hingga plastik kemasan.
- Pemilik Nafisa Konveksi, Fakhrudin (58), mengaku kenaikan ongkos produksi terjadi di tengah kondisi daya beli masyarakat yang sedang menurun.
- Kondisi tersebut membuat keuntungan usaha turun drastis hingga 50 persen. Keuntungan per lusin yang sebelumnya Rp10 ribu kini hanya sekitar Rp5 ribu.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Produsen pakaian dalam rumahan di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten, mengeluhkan sepinya pesanan.
Permintaan pasar yang menurun makin diperparah dengan kenaikan harga bahan baku.
Di saat ongkos produksi terus merangkak naik, keuntungan usahapun ikut terpangkas drastis.
Kondisi itu dirasakan pelaku usaha konveksi rumahan, salah satunya Nafisa Konveksi milik Fakhrudin (58).
Keuntungan Turun Drastis
Ia mengaku usaha yang dijalankannya kini tidak lagi menghasilkan keuntungan seperti sebelumnya.
Menurut Fakhrudin, penurunan keuntungan bahkan mencapai hingga 50 persen dibanding kondisi normal.
"Ya paling bisa 50 persen lah (keuntungan sekarang). Kalau harganya untung per dosen itu Rp10.000, sekarang Rp5.000," ujarnya, Rabu (3/6).
Dalam sehari, Nafisa Konveksi mampu menghasilkan sekitar 40 hingga 50 lusin pakaian dalam dengan berbagai jenis.
Produk yang dibuat pun cukup beragam, mulai pakaian dalam wanita, pria hingga anak-anak.
Baca juga: Industri Plastik di Solo Tertekan, Jam Kerja Karyawan Mulai Dikurangi, PHK Mulai Mengintai
Harga jual produk bervariasi, mulai Rp 30 ribu per lusin hingga Rp 90 ribu per lusin tergantung jenis dan kualitas barang.
Namun dengan kondisi bahan baku yang terus naik, ruang keuntungan pelaku usaha semakin sempit.
Di sisi lain, mereka juga kesulitan menaikkan harga jual karena khawatir pembeli semakin berkurang.
Biaya Produksi Naik
Kenaikan biaya produksi disebut terjadi pada sejumlah bahan baku utama, mulai dari kain polyester (PE), benang hingga plastik pembungkus produk. Dari seluruh bahan baku tersebut, kenaikan paling tinggi terjadi pada harga plastik kemasan.
"Terutama bahan bakunya plastik ini. Tinggi sekali kenaikannya. Kemarin sebelum lebaran Rp 30 ribu, sekarang Rp 52.000 per kg," jelasnya.
Baca juga: Kantong Plastik Mahal Imbas Dolar Naik, Pedagang Pasar Jungke Karanganyar Ubah Cara Layani Pembeli
| Belum Naik! Harga Es Batu PUDAM Karanganyar Masih Tunggu Evaluasi Meski Harga Plastik Melonjak |
|
|---|
| Biaya Produksi Melejit, Harga Es Teh Jumbo di Solo Ikut Naik, Tambah Rp 1000 per Cup |
|
|---|
| Harga Plastik di Solo Raya Naik, Salah Satu Penyebabnya Karena Penutupan Selat Hormuz |
|
|---|
| Penyebab Harga Plastik Naik Ugal-ugalan di Solo Raya, Diprediksi Bakal Bertahan Lama |
|
|---|
| Harga Cup dan Plastik di Sukoharjo Melonjak Sejak Ramadhan, Daya Beli Konsumen Menurun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/produsen-pakaian-dalam-rumahan-di-Desa-Tempursari-Klaten-tengah-menjahit-Rabu-362026.jpg)