Kerajinan Tangan Boyolali
Terdampak Kenaikan Dolar, Perajin Tembaga Tumang di Boyolali 'Putar Otak' Pertahankan 15 Karyawan
Ketebalan bahan baku yang biasanya menggunakan ukuran 0,8 mm kini dikurangi menjadi 0,7 mm hingga 0,6 mm.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Rifatun Nadhiroh
Sementara itu, tembaga lembaran impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp200 ribuan kini menembus Rp300 ribu hingga Rp320 ribu per kilogram.
Alhasil, lonjakan harga yang drastis ini membuat proses negosiasi kontrak dengan pembeli, terutama dari luar negeri, berjalan sangat alot.
Bahkan, sebuah pesanan dari Malaysia terpaksa ditangguhkan karena pemesan keberatan saat diminta melakukan penyesuaian harga minimal.
“Oh, untuk penyesuaiannya otomatis kita sama-sama, ya. Kemarin ada order dari Malaysia yang sampai sekarang belum jadi karena saya minta kenaikan 10 persen saja dia enggak mau. Jadi, sementara dipending dulu,"
"Tapi kalau yang memang serius order, mereka menyadari kondisi ini. Jadi, kita sama-sama. Mereka naik sedikit, kita mengurangi keuntungan. Jadi, sama-sama jalan,” beber Mimi.
Baca juga: Hidden Gem Rica Mentok di Boyolali, Rempah Pekat ala Yu Sar Menggoda Lidah, Cuma Rp20 Ribu/porsi
Selain memangkas margin keuntungan, siasat lain yang ditempuh para perajin agar harga produk tetap kompetitif di pasar adalah dengan menurunkan spesifikasi ketebalan pelat tembaga.
Ketebalan bahan baku yang biasanya menggunakan ukuran 0,8 mm kini dikurangi menjadi 0,7 mm hingga 0,6 mm.
Mimi menegaskan bahwa langkah ini tidak menurunkan kualitas ketahanan jangka panjang produknya, melainkan hanya berdampak pada aspek estetika pahatan.
“Kalau kualitas enggak. Cuma pengaruhnya itu pada tekstur ketokannya. Kalau lebih tebal, hasil ketokannya lebih dalam. Tapi kalau tipis, ketokannya jadi lebih samar,” pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Perajin-tembaga-Tumang-tengah-membuat-kerajinan-tangan-Jumat-562026.jpg)