Kerajinan Tangan Boyolali
Terdampak Kenaikan Dolar, Perajin Tembaga Tumang di Boyolali 'Putar Otak' Pertahankan 15 Karyawan
Ketebalan bahan baku yang biasanya menggunakan ukuran 0,8 mm kini dikurangi menjadi 0,7 mm hingga 0,6 mm.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Rifatun Nadhiroh
Ringkasan Berita:• Melemahnya rupiah terhadap dolar AS membuat harga bahan baku tembaga impor di sentra kerajinan Tumang, Cepogo, naik hingga 45 persen, dari sekitar Rp220 ribu menjadi hampir Rp300 ribu per kg.• Kenaikan biaya produksi memaksa perajin menaikkan harga jual. Akibatnya, sebagian konsumen menunda atau membatalkan pesanan.• Untuk bertahan, perajin mengurangi margin keuntungan, menawarkan bahan alternatif seperti kuningan dan aluminium, serta menurunkan ketebalan pelat tembaga/
Laporan wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat berdampak pada para perajin tembaga di Tumang, Kecamatan Cepogo. Tumang sendiri merupakan sentra industri kerajinan tembaga yang produknya telah menembus pasar mancanegara.
Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS jelas berdampak pada kenaikan harga bahan baku kerajinan tersebut. Pasalnya, bahan baku tembaga masih diimpor dari luar negeri.
Muhammad Rigan Kadaffi, salah satu pemilik workshop Daffi Art Studio, mengungkapkan bahwa harga bahan baku naik hingga 45 persen.
“Sekarang harga bahan baku hampir Rp300 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp220 ribu,” ujarnya.
Kenaikan harga bahan baku ini membuatnya tak bisa berbuat banyak selain menaikkan harga produk.
Namun, kenaikan harga tersebut membuat sebagian konsumen berpikir ulang hingga membatalkan pesanan.
Baca juga: Perajin Tembaga Tumang Boyolali Terjepit Kenaikan Dolar, Harga Bahan Baku Tembus Rp 300 Ribu per Kg
“Kalau customer mau, kita kasih bahan lain, seperti kuningan atau aluminium,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Mimi Sri Ningsih, pemilik Galeri Nuansa Art.
Ia harus pintar memutar otak agar proses produksi tetap berjalan. Apalagi, ia memiliki 15 karyawan yang harus tetap bekerja.
Mimi menjelaskan bahwa penyesuaian harga jual murni dilakukan untuk menutupi kenaikan harga bahan baku.
Sementara itu, upah pekerja dan margin keuntungan sengaja tidak dinaikkan demi menjaga kelangsungan usaha.
“Pasti. Cuma kalau tukangnya enggak, ya. Kita naiknya itu dari bahan saja. Jadi, biaya tukang enggak naik, keuntungan juga enggak naik. Jadi, kita menaikkan harga hanya dari kenaikan bahan baku saja,” ujarnya.
Ia merinci, harga bahan baku tembaga jenis limbah (lokal) melambung dari Rp190 ribu menjadi Rp280 ribu per kilogram.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Perajin-tembaga-Tumang-tengah-membuat-kerajinan-tangan-Jumat-562026.jpg)