Kenaikan Harga BBM
Dampak Kenaikan Harga Pertamax di Solo Raya, Peralihan ke Transum Hingga Antrean Pertalite Mengular
Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter diyakini bakal memengaruhi pola mobilitas masyarakat di Solo.
Penulis: Tribun Network | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter memicu antrean panjang Pertalite di sejumlah SPBU Solo Raya.
- Tarif Batik Solo Trans (BST) dipastikan belum naik dan dinilai berpotensi jadi alternatif transportasi masyarakat.
- Warga mengaku keberatan dengan lonjakan harga BBM, sementara pengamat meminta pemerintah mengantisipasi antrean dan memperluas layanan transportasi umum.
TRIBUNSOLO.COM - Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter diyakini bakal memengaruhi pola mobilitas masyarakat di Solo.
Di tengah lonjakan harga tersebut, tarif Batik Solo Trans (BST) dipastikan belum berubah, sementara antrean kendaraan untuk mendapatkan Pertalite justru mengular di sejumlah SPBU.
Kepala UPT Transportasi Dinas Perhubungan Kota Solo Agus Purnomo menegaskan hingga saat ini tarif BST masih tetap normal meski harga BBM naik tajam.
"Belum, (tarif BST masih) tetap," ungkap Agus, Kamis (11/6).
BST dinilai berpotensi menjadi alternatif transportasi masyarakat yang ingin mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Namun berdasarkan pantauan di sejumlah halte di Jalan Slamet Riyadi, Jalan Adi Sucipto, hingga Jalan Walter Monginsidi, jumlah penumpang BST belum mengalami lonjakan signifikan.
Meski begitu, BST tetap menjadi pilihan sejumlah warga, terutama mahasiswa, pelajar, dan masyarakat yang ingin menekan pengeluaran transportasi harian.
Baca juga: Alasan Warga Tetap Isi Pertamax di SPBU se-Solo Raya Walau Harga Naik : Cepat, Tak Perlu Antre
Salah satunya Widhi (22), mahasiswa UNS asal Semarang yang mengaku rutin menggunakan BST sejak 2024 karena tarifnya dinilai murah dan terjangkau.
"Saya baru menggunakan akhir tahun 2024 sampai sekarang. Kalau harga sih sesuai kantong mahasiswa dan warga sipil. Apalag ada harga pelajar, harga lansia dan disabilitas. Jadi mempermudah lagi yang jarang menggunakan kendaraan pribadi," kata Widhi.
Ia mengatakan tarif BST sebesar Rp3.700 masih cukup ringan bagi mahasiswa. Bahkan penumpang tidak dikenai biaya tambahan ketika berpindah rute dalam waktu kurang dari satu jam menggunakan kartu pembayaran.
"Sekali naik itu Rp 3.700 apalagi kalau mau pindah rute kalau belum ada satu jam, tidak dikenai biaya tambahan. Itu khusus pakai kartu, kalau Qris bayar lagi," lanjutnya.
Widhi berharap tarif BST tidak ikut naik di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil.
"Kalau diusahakan sih jangan naik dulu, soalnya melihat ekonomi sekarang belum stabil apalagi UMK Solo kan beda sama kota-kota lain, jadi menyesuaikan saja," terangnya.
Menurutnya, penumpang BST memang mulai bertambah, namun didominasi wisatawan maupun warga luar Solo yang memanfaatkan BST untuk berkeliling kota.
Baca juga: Kondisi SPBU Tempursari Boyolali, Hanya 3 Kendaraan Isi Pertamax dalam 30 Menit
"Kalau menurut saya sih iya, tapi malah dari turis atau wisatawan yang mau jalan-jalan muter Solo lebih memilih naik BST. Mereka soalnya lebih sering tanya rute terus bayarnya pakai apa dan rute," kata dia.
Widhi juga berharap ada penambahan informasi rute dan tarif di halte agar memudahkan pengguna baru.
"Mungkin fasilitas ya bisa ada penambahan rutenya, atau informasi yang jelas soalnya kadang penumpang baru masih bingung, terus tarifnya. Soalnya lebih mempermudah penumpang," tutupnya.
Hal senada disampaikan Heri (38), warga Kleco, yang menilai kenaikan harga BBM bisa menjadi momentum untuk meningkatkan penggunaan transportasi umum di Solo.
"Basic-nya saya suka jalan. Tapi memang saya juga suka naik BST kalau mau jalan agak jauh ke halte ya nggak masalah," sebutnya.
Menurut Heri, masyarakat masih terbiasa menggunakan kendaraan pribadi karena alasan kepraktisan. Namun kondisi kenaikan harga BBM bisa menjadi peluang bagi transportasi umum untuk menarik lebih banyak penumpang.
"Ya memang masyarakat masih suka sesuatu yang efektif seperti naik kendaraan sendiri untuk kemana-mana. Tapi kalau melihat penyediaan BST ya semoga makin banyak penggunanya setelah tarif BBM naik, sementara tarif BST kan masih sama. Semoga ya bisa dimanfaatkan masyarakat. Apalagi kan bisa ngurangi emisi," pungkasnya.
Potensi Peralihan ke Transum
Sementara itu, Komite Transportasi Center for Technology & Innovation Study (CTIS), Bambang Pujantiyo, menilai kenaikan harga Pertamax memang berpotensi mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan transportasi umum.
"Pastinya ada ya karena Pertamax jadi mahal, tapi untuk golongan tertentu," ujar Bambang.
Namun menurutnya, dampak paling cepat justru terlihat dari meningkatnya konsumsi Pertalite yang memicu antrean panjang di SPBU.
"Hanya saja penggunaan Pertalite akan lebih banyak, antreannya jadi lebih panjang. Yang perlu dikhawatirkan kuota untuk Solo mencukupi atau tidak, pemerintah harus memastikan itu," katanya.
Ia meminta pemerintah mengantisipasi lonjakan antrean agar tidak sampai mengganggu lalu lintas.
"Kalau langka sepertinya tidak, sudah ada pertimbangan harusnya. Hanya kuota per wilayah itu seperti apa, perlu antisipasi. Pemerintah tidak bisa diam saja. Jangan sampai antrean panjang dan sampai mengganggu lalu lintas," tegasnya.
Menurut Bambang, momentum kenaikan harga BBM juga bisa dimanfaatkan pemerintah untuk memperluas layanan transportasi umum.
"Sekalian mempromosikan penggunaan transportasi umum. Masyarakat diberikan kemudahan. Bahkan kalau perlu jemput bola, menambah rute agar trayek lebih panjang menjangkau ke tempat yang demand-nya tinggi, mungkin trayek sementara," ujarnya.
Antrean Pertalite Mengular
Di sisi lain, dampak kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu antrean panjang Pertalite di berbagai SPBU Solo Raya, mulai Solo, Klaten, Sukoharjo, Boyolali hingga Wonogiri.
Di SPBU Desa Danguran, Kecamatan Klaten Selatan, antrean sepeda motor untuk mengisi Pertalite tampak mengular sejak siang hari. Tiga baris kendaraan terlihat memenuhi area pengisian BBM subsidi, sementara jalur Pertamax justru relatif sepi.
Pengemudi ojek online, Rijal, mengaku kini memilih tetap mengantre Pertalite karena harga Pertamax dinilai terlalu berat.
"Ya biasa, kalau Pertalite kan antri. Tapi ya kalau saat ini kan Pertamax naik, jadi agak panjang," ujarnya.
Padahal sebelumnya ia sering memilih Pertamax ketika antrean Pertalite terlalu panjang.
"Wah kalau beli Pertamax ya berat, saya baru keluar belum banyak orderan," jelasnya.
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Jombor, Sukoharjo. Antrean kendaraan bahkan mengular hingga ratusan meter.
Supervisor SPBU Jombor Sukoharjo, Irwan Hermanto, mengatakan lonjakan antrean mulai terasa sejak hari pertama kenaikan harga diberlakukan.
"Kondisinya kondusif. Tetapi untuk antrean Pertalite bertambah. Biasanya memang ramai jam-jam segini, tetapi ini saya lihat semakin ramai," ujarnya.
Meski demikian, Irwan memastikan stok Pertalite di SPBU masih aman.
"Untuk kuota sendiri sebetulnya sudah ditentukan Pertamina. Jadi untuk per bulan sudah ada kuotanya masing-masing, penjualannya per hari itu berapa. Untuk Pertalite sendiri alhamdulillah sementara ini cukup stok," jelasnya.
Kenaikan harga Pertamax juga menuai banyak keluhan warga. Dimas Harjo (42), warga Pasar Kliwon Solo, mengaku terkejut dengan lonjakan harga hampir Rp4 ribu per liter tersebut.
“Cukup kaget soalnya kemarin saya ngisi masih harga segitu, terus hari ini ternyata sudah naik hampir Rp 4 ribu per liter,” ungkap Dimas.
Baca juga: Harga BBM Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Antrean Pertalite Mengular di SPBU se-Solo Raya
Menurutnya, kenaikan tersebut membuat masyarakat harus kembali menghitung pengeluaran harian untuk transportasi.
“Ya perlu dievaluasi juga karena akhir-akhir ini kondisi ekonomi di Indonesia secara luas memang belum stabil,” katanya.
Keluhan serupa datang dari warga Wonogiri bernama Yanto yang mengaku kenaikan harga Pertamax semakin memberatkan pengeluaran rumah tangga.
“Memberatkan, kalau motor pakai Pertamax. Bisanya pasrah, BBM itu termasuk kebutuhan pokok. Naiknya terlalu tinggi, hampir Rp4.000,” ujarnya.
Sementara Ani, warga lainnya, mengaku tetap memilih Pertamax karena tidak ingin terjebak antrean panjang Pertalite.
“Saya biasanya pakai Pertamax, biasanya beli Rp30 ribu. Nanti tetap pakai Pertamax, mau bagaimana lagi adanya itu. Kalau Pertalite dari dulu kan antrinya panjang terus, menghemat waktu makanya beli Pertamax,” katanya.
Namun menurut Ani, kenaikan harga kali ini terasa mendadak karena minim sosialisasi kepada masyarakat.
“Kenaikannya tanpa sosialisasi, mengagetkan. Jauh-jauh hari tidak ada kabar, jadi kaget,” imbuhnya.
Baca juga: Imbas Harga BBM Pertamax Naik, OPD Klaten Tak Lagi Pakai Mobil Dinas, Bakal Ganti Bus Sekolah
Ia juga menyoroti dampak yang lebih berat bagi masyarakat berpenghasilan harian.
“Mohon maaf, kalau saya alhamdulillah bekerja dan penghasilan tetap, bagaimana orang-orang lain yang penghasilannya tidak menentu. Misal buruh yang rumahnya jauh, kan semakin boros pengeluarannya,” ungkapnya.
Meski demikian, sebagian pengendara tetap membeli Pertamax karena alasan waktu dan menghindari antrean panjang Pertalite.
"Ya pilih ini karena gak antri, soalnya buru-buru ke tempat kerja. Kalau antri, ya waktunya habis ntar," ucap seorang pengendara di SPBU Danguran, Klaten.
Hal serupa disampaikan Yudi di SPBU Pabelan, Sukoharjo.
"Saya bukan pelanggan Pertamax, cuma malas antre saja karena keburu waktu ada keperluan. Biasanya tetap beli Pertalite," ujarnya.
Sementara di SPBU Tempursari, Kecamatan Sambi, Boyolali, antrean Pertalite juga tampak panjang sehingga sebagian pengendara terpaksa beralih ke Pertamax.
"Saya buru-buru mau kerja. Jadi dari pada telat saya isi Pertamax dulu," kata Burhanudin.
Pengendara Honda Scoopy asal Kaliwungu, Kabupaten Semarang itu mengaku memilih membeli Pertamax Rp30 ribu agar tetap bisa melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya di Colomadu, Karanganyar.
Pengendara lain, Widya, juga mengaku hanya sesekali membeli Pertamax ketika antrean Pertalite terlalu panjang.
"Isi Pertamax hanya kadang-kadang saja. Kalau pas antrian Pertalite panjang," imbuhnya. (amb/dre/zma/twd)
harga Pertamax naik
Pertamax
Kenaikan Harga BBM
Solo
Solo Raya
BST
Batik Solo Trans
Transportasi umum
Pertalite
| Harga BBM Naik, Tarif BST Solo Tetap Aman? Ini Penjelasan Dishub |
|
|---|
| Antrean di SPBU Sudimoro Boyolali Mengular hingga Jalan, Motor Buru Pertalite |
|
|---|
| Stok Terbatas, Pertalite Tetap Jadi Buruan Pengendara di Klaten |
|
|---|
| Petugas Jalur Pertalite Lebih Sibuk di SPBU Solo Usai Harga Pertamax Naik |
|
|---|
| Alasan Warga Tetap Isi Pertamax di SPBU se-Solo Raya Walau Harga Naik : Cepat, Tak Perlu Antre |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Pengguna-Batik-Solo-Trans-BST-saat-menunggu-di-salah-satu-halte-yang-berada-di-jalan-Slamet-Riyadi.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.