Sejarah di Kota Solo

Kenapa Terompet Identik dengan Malam Tahun Baru di Solo Raya? Begini Sejarahnya

Meski hanya muncul setahun sekali, terompet tetap menjadi perlengkapan yang tak terpisahkan dari euforia malam pergantian tahun di Solo.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM/Erlangga Bima Sakti
PEDAGANG TEROMPET - Penjual terompet di Car Free Night perayaan pesta akhir tahun di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada Selasa (31/12/2024). Beginilah sejarah tradisi tiup terompet setiap pergantian malam Tahun Baru. 

Ringkasan Berita:
  • Menjelang Tahun Baru 2026, terompet kembali marak dijual di Solo, terutama di Jalan Slamet Riyadi, dengan harga Rp15.000–Rp30.000 sebagai perlengkapan khas perayaan.
  • Meniup terompet sudah menjadi ritual turun-temurun, simbol kegembiraan, kebersamaan, dan penanda resmi pergantian tahun.
  • Meski permintaan menurun akibat perubahan pola perayaan, terompet tetap bertahan sebagai ikon budaya malam Tahun Baru di Solo.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Menjelang perayaan malam Tahun Baru 2026, suasana Kota Solo, Jawa Tengah, mulai menunjukkan tanda-tanda khas pergantian tahun.

Di sejumlah titik strategis, terutama di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, pedagang musiman terlihat menata lapak berisi aneka terompet warna-warni.

Meski hanya muncul setahun sekali, terompet tetap menjadi perlengkapan yang tak terpisahkan dari euforia malam pergantian tahun di Kota Bengawan.

Baca juga: Kenapa Malam Tahun Baru di Solo Raya Identik dengan Tradisi Bakar-bakaran? Begini Sejarahnya

Harga terompet yang dijajakan relatif terjangkau, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp30.000 per buah, tergantung ukuran dan bentuk.

Dari terompet kertas sederhana hingga model lebih besar, semuanya menjadi daya tarik bagi warga yang ingin ikut memeriahkan malam Tahun Baru.

Tradisi yang Terlanjur Mengakar

Di Solo, seperti di banyak kota lain di Indonesia, meniup terompet saat detik-detik pergantian tahun telah menjadi semacam ritual kolektif.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 00.00, bunyi terompet bersahut-sahutan, menandai berakhirnya tahun lama dan dimulainya tahun baru yang penuh harapan.

Tradisi ini bukan sekadar hiburan.

Baca juga: Kenapa Banyak Warga Solo Raya Gelar Acara Nikah di Bulan Rajab? Ini Alasan dan Mitos-mitosnya

Terompet menjadi simbol kegembiraan, kebersamaan, dan luapan rasa syukur.

Suaranya yang nyaring seolah menjadi penanda resmi bahwa satu fase waktu telah berganti.

Inilah yang membuat terompet terus dipilih, meski bentuk perayaan Tahun Baru dari tahun ke tahun terus berubah.

Penjual terompet asal Kecamatan Bulukerto, Wonogiri bernama Giatmo di area Gladak, Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo, Sabtu (31/12/2022).
PEDAGANG TEROMPET - Penjual terompet asal Kecamatan Bulukerto, Wonogiri bernama Giatmo di area Gladak, Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo, Sabtu (31/12/2022). Beginilah sejarah tradisi tiup terompet setiap pergantian malam Tahun Baru. (TribunSolo.com)

Jejak Sejarah di Balik Bunyi Terompet

Secara historis, penggunaan terompet sebagai penanda momen penting sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu.

Awalnya, terompet dibuat dari benda-benda berongga seperti tanduk binatang atau cangkang keong.

Fungsinya bukan sebagai alat musik hiburan, melainkan alat isyarat untuk keperluan sipil, agama, hingga militer.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved