Sejarah di Kota Solo
Kenapa Janur Kuning Identik dengan Tradisi Pernikahan di Solo Raya? Ini Sejarah dan Filosofinya
Janur ini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari tarub, kembar mayang, hingga hiasan di pintu masuk rumah atau lokasi resepsi.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Janur kuning hampir selalu hadir dalam pernikahan adat Jawa di Solo Raya–DIY, digunakan pada tarub, kembar mayang, hingga pintu masuk, dan diwariskan turun-temurun selama sekitar 600 tahun.
- Janur bermakna “cahaya sejati” (jan = sejati, nur = cahaya Ilahi), melambangkan doa, tuntunan Tuhan, kejayaan, kemenangan, serta harapan rumah tangga harmonis dan suci.
- Meski dekorasi modern kini didominasi bunga, janur tetap dipertahankan dalam prosesi penting seperti kembar mayang dan pasang bleketepe.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pernahkah Tribuners bertanya-tanya, ketika menghadiri acara pernikahan di Solo Raya, Jawa Tengah, hampir pasti ada ornamen janur kuning.
Ya, dalam adat dan tradisi budaya masyarakat Jawa, janur merupakan elemen yang nyaris tak terpisahkan dari pelaksanaan acara atau resepsi pernikahan.
Kehadirannya dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari tarub, kembar mayang, hingga hiasan di pintu masuk rumah atau lokasi resepsi.
Baca juga: Kenapa Tugu Lilin jadi Lambang Kota Solo dan Persis Solo? Ini Sejarahnya
Janur telah menjadi simbol khas yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang dan tetap lestari hingga masa kini, meskipun zaman terus mengalami perubahan.
Penggunaan janur dalam pernikahan adat Jawa bukan sekadar hiasan dekoratif, melainkan mengandung makna filosofis, religius, dan simbolik yang sangat dalam.
Tak heran jika hingga abad modern ini, janur masih tetap eksis dan dipertahankan oleh masyarakat Jawa, termasuk di Surakarta (Solo) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa.
Sejarah Janur dalam Tradisi Pernikahan Jawa
Konon, penggunaan janur manten di Solo-DIY masih bertahan hingga saat ini karena memiliki akar sejarah yang sangat kuat.
Solo dan DIY sama-sama merupakan trah Mataram, yang sejak masa lampau telah melestarikan berbagai tradisi budaya, termasuk penggunaan janur dalam upacara pernikahan.
Menurut catatan sejarah, penggunaan janur dalam prosesi pernikahan bermula dari kisah Ki Ageng Tarub, seorang tokoh penting dalam sejarah Jawa.
Baca juga: Kenapa The Spirit Of Java jadi Slogan Kota Solo? Ini Sejarah dan Maknanya
Ki Ageng Tarub merupakan putra dari Syekh Maulana Maghribi dan dikenal sebagai sahabat dekat Kanjeng Sunan Kalijaga.
Ketika Ki Ageng Tarub menikahkan putranya di Dusun Tarub, ia meminta Sunan Kalijaga untuk membuatkan tarub sebagai bagian dari prosesi pernikahan.
Tarub inilah yang kemudian menggunakan janur sebagai salah satu unsur utamanya.
Janur, yang merupakan daun kelapa muda berwarna kuning, sejak saat itu menjadi simbol yang terus digunakan dalam pernikahan adat Jawa.
Tarub tersebut diperkirakan telah ada sejak sekitar tahun 1365.
Baca juga: Kenapa Terompet Identik dengan Malam Tahun Baru di Solo Raya? Begini Sejarahnya
| Sejarah Stadion Manahan Solo yang Dikritik Andre Rosiade Mirip Sawah, DIbangun di Era Soeharto |
|
|---|
| Asal-usul Panggung Songgo Buwono Keraton Solo, Kondisinya Pasca-revitalisasi Disorot Kubu Purboyo |
|
|---|
| Mengenal Honggowongso, Sosok Jenius Perancang Bangunan dan Infrastruktur Keraton Solo |
|
|---|
| Fakta Batik Solo: Warisan Keraton yang Mendunia, Tiap Motifnya Punya Filosofi Sendiri |
|
|---|
| Misteri dan Sejarah Sungai Bengawan Solo: dari Legenda Air Mata Ibu hingga Jejak Sungai Purba |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Janur-kuning-yang-menghiasi-kawasan-Mangkunegaran.jpg)