Fakta Menarik Tentang Solo
Sejarah Tradisi Nyekar di Solo Raya Jelang Ramadhan, Ternyata Ada Makna di Balik Bunga Tabur
Bagi masyarakat Solo Raya, nyekar kerap dimaknai sebagai bentuk silaturahmi antara yang masih hidup dengan yang telah wafat.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Tradisi nyekar jelang Ramadhan telah lama dilakukan masyarakat Solo Raya sebagai bentuk penghormatan leluhur dan silaturahmi dengan orang yang telah wafat.
- Nyekar dilakukan dengan ziarah kubur, membersihkan makam, menabur bunga, menyiram air, dan ditutup doa sebagai refleksi kematian serta persiapan amal kebaikan.
- Bunga tabur seperti kamboja, mawar, kenanga, melati, hingga asoka dipilih karena makna filosofisnya sebagai simbol doa, ketenangan, penghormatan, dan kasih sayang.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tradisi nyekar menjelang Ramadhan telah lama dilakukan masyarakat Solo Raya secara turun-temurun.
Bahkan di Solo Raya, biasanya harga bunga tabur melonjak jelang Ramadhan.
Lantas bagaimana sejarah tradisi nyekar ini? Kenapa nyekar di Solo Raya identik dengan bunga tabur?
Baca juga: Nyadran Bawa Berkah, Penjual Bunga Tabur di Karanganyar Laris Manis, Setiap Hari Layani 25 Pembeli
Sejarah Tradisi Nyekar
Nyekar sejatinya bukan tradisi yang berasal langsung dari ajaran Islam, melainkan kebiasaan universal yang ditemukan di berbagai kebudayaan dunia sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur atau orang yang telah meninggal dunia.
Ketika Islam masuk dan berkembang di Nusantara, tradisi ini kemudian mengalami proses akulturasi.
Nilai-nilai Islam membingkai praktik nyekar dengan doa, zikir, selawat, wirid, atau ratib.
Dengan demikian, nyekar menjadi sarana spiritual yang memadukan budaya lokal dan ajaran agama.
Baca juga: Warga Solo Raya Siap-siap Nyekar, Bunga Tabur Jelang Ramadan Harganya Melonjak, Ini Penyebabnya
Bagi masyarakat Solo Raya, nyekar kerap dimaknai sebagai bentuk silaturahmi antara yang masih hidup dengan yang telah wafat.
Melalui doa dan ziarah kubur, keluarga yang ditinggalkan berharap agar arwah mendapatkan ampunan serta ketenangan di sisi Allah Swt.
Tata Cara dan Perlengkapan Nyekar
Dalam pelaksanaannya, tradisi nyekar umumnya dilakukan dengan mendatangi makam keluarga atau leluhur.
Peziarah biasanya membersihkan makam dari rumput liar dan ilalang sebagai bentuk penghormatan.
Perlengkapan yang sering dibawa antara lain air, bunga, dan minyak wangi.
Bunga kemudian ditaburkan di atas makam, sementara air disiramkan sebagai simbol penyucian.
Ziarah biasanya ditutup dengan doa bersama, yang bacaan dan tata caranya dapat berbeda tergantung kebiasaan daerah atau kelompok peziarah.
Lebih dari sekadar ritual, nyekar juga menjadi sarana refleksi diri bahwa setiap makhluk hidup pada akhirnya akan kembali menghadap Allah Swt.
Tradisi ini mengajarkan kesadaran akan kematian dan pentingnya mempersiapkan diri dengan amal kebaikan.
Baca juga: Petani Mawar Boyolali Sumringah Jelang Ramadan 2026, Panen Bisa Tembus Rp1,5 Juta
Jenis-jenis Bunga untuk Nyekar
Pemilihan bunga dalam tradisi nyekar tidak dilakukan secara sembarangan.
Setiap jenis bunga memiliki makna simbolis tersendiri.
1. Bunga Kamboja
Bunga kamboja sangat lekat dengan suasana pemakaman.
Bunga ini melambangkan kesucian dan ketenangan, serta menjadi simbol doa dan penghormatan bagi yang telah meninggal.
2. Bunga Mawar
Mawar, khususnya mawar merah, melambangkan cinta dan penghormatan terakhir.
Bunga ini dapat dibawa dalam bentuk utuh, tabur, maupun air kembang untuk disiramkan di atas makam.
3. Bunga Kenanga
Kenanga dikenal dengan aroma harumnya yang khas.
Bunga ini melambangkan kesetiaan dan keabadian, sehingga sering digunakan dalam ziarah kubur.
4. Bunga Kantil
Bunga kantil memiliki bentuk unik dan aroma wangi yang lembut.
Secara filosofis, bunga ini melambangkan kesucian, ketenangan, dan keberanian.
5. Bunga Sedap Malam
Sedap malam memiliki aroma kuat yang menenangkan.
Bunga ini sering digunakan saat pemakaman karena dipercaya mampu memberikan ketenangan bagi keluarga yang berduka.
6. Bunga Melati
Melati melambangkan kemurnian dan kesucian.
Aromanya yang harum menjadikannya salah satu bunga favorit untuk nyekar dan ziarah kubur.
7. Bunga Asoka
Bunga asoka melambangkan kasih sayang, keabadian, dan kedamaian.
Dalam beberapa kepercayaan, bunga ini memiliki makna spiritual yang mendalam dan sering digunakan dalam upacara penghormatan.
Baca juga: 5 Rekomendasi Wisata Candi di Karanganyar Jateng : Cocok untuk Tenangkan Diri Sambil Belajar Sejarah
Makna Filosofis di Balik Bunga Ziarah
Penggunaan bunga dalam tradisi nyekar tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga sarat makna filosofis.
Bunga melambangkan kehidupan, keindahan, dan kesegaran, seolah membawa simbol kehidupan bagi mereka yang telah berpulang.
Selain itu, bunga menjadi ungkapan duka cita dan belasungkawa.
Warna dan aroma bunga dipercaya mampu menghadirkan ketenangan batin, sekaligus menjadi pengingat untuk senantiasa mendoakan orang yang telah meninggal.
Lebih jauh, membawa bunga ke makam merupakan bentuk penghormatan dan bukti bahwa ikatan batin tidak terputus oleh kematian.
Tradisi ini juga menjadi warisan budaya yang terus dijaga, menegaskan bahwa nilai penghormatan kepada leluhur tetap hidup di tengah masyarakat modern.
(*)
| Asal-usul Nama Kelurahan Bumi di Laweyan Solo : Dulu Tempat Tinggal Abdi Dalem Keraton Surakarta |
|
|---|
| Filosofi Kulonuwun yang Biasa Diucapkan Masyarakat Solo Raya saat Bertamu, Ternyata Ini Artinya |
|
|---|
| Dipercaya Masyarakat Solo Raya, Ini Keutamaan Menikah di Bulan Besar atau Dzulhijjah |
|
|---|
| Mengenal 12 Musim Pranata Mangsa Jawa, Pedoman Bertani Warisan Leluhur di Solo Raya |
|
|---|
| Kenapa Banyak Orang Solo Gemar Sarapan Lauk Olahan Kambing? Ternyata Ini Awal-mulanya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Bunga-tabur-yang-dijual-di-sepanjang-Jalan-Honggowongso.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.