TPA Putri Cempo Solo

Pembangkit Listrik Gagal Penuhi Target, TPA Putri Cempo Solo Overload

Timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin meningkat dan kondisi lahan disebut sudah overload.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Putradi Pamungkas
TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
PUTRI CEMPO - Lokasi TPA Putri Cempo Solo, belum lama ini. Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) saat ini masih gagal memenuhi target. Akibatnya, sampah semakin menumpuk sehingga membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) overload. 

Salah satu kendala utama terletak pada proses penyiapan bahan baku sebelum masuk ke mesin gasifier.

Sampah harus terlebih dahulu diolah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF).

Proses ini sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama dalam tahap pengeringan.

“Logikanya kan bisa dibagi dalam 2 sektoral ya, sektoral istilahnya preparasi penyiapan bahan bakunya yang untuk dipasokkan dalam gasifier itu ya bentuknya RDF gitu kan ya itu ya memang apa namanya masih banyak kendala. Apalagi ditambah hujan ya kalau hujan itu kan pengeringannya kan mungkin butuh waktu ya kan ya. Sehingga ya mesinnya gasifier itu kalau seandainya inputnya memang ya bermasalah ya mereka enggak akan berjalan karena sekali berjalan itu logika mesinnya itu memang ya harus kontinyu,” tuturnya.

Ia menegaskan, mesin gasifier dirancang untuk beroperasi secara kontinu.

Jika pasokan RDF bermasalah, maka mesin tidak dapat berjalan optimal.

Baca juga: Kisah Petugas Sampah di TPA Putri Cempo Solo, Tunggu Berjam-jam hingga Gelesotan di Jalan

Setahun Berjalan, Belum Ada Perubahan Signifikan

Proyek PSEL Putri Cempo telah berjalan lebih dari satu tahun.

Namun hingga kini, menurut Prof. Prabang, belum terlihat peningkatan signifikan dalam kinerja pengolahan sampah.

“Yang jelas belum ada peningkatan secara signifikan. Karena ditambah jeda itu ya jadi ditambah jeda itu sehingga membuat sampah jadi menumpuk kan begitu kan ya ada sampahnya itu hitungannya per harinya itu kan 370 sampai 380 ton,” tuturnya.

Dengan produksi sampah harian mencapai 370–380 ton dan kapasitas pengolahan yang terbatas, timbunan sampah pun terus bertambah.

Tumpukan Sampah dan Antrean Truk

Kegagalan memenuhi target pengolahan berdampak langsung pada kondisi TPA.

Sampah yang tidak terolah akhirnya menumpuk melalui sistem open dumping.

“Tiap hari hanya ya taruhlah sepertiganya lah kurang gitu kan ya ya memang yang bisa terolah kan berarti kan tiga perempatnya ini ketumpuk ya di open dumping itu ini kan jadi masalah kemarin itu kan juga. Banyak berjejer jujur itu ya kendaraan ya ya memang tempat untuk bisa yang terjangkau untuk bisa meloadingnya sama jadi terhambat,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan antrean panjang truk sampah karena keterbatasan ruang dan hambatan proses bongkar muat di lokasi TPA.

Dengan kondisi lahan yang sudah penuh dan kinerja PSEL yang belum optimal, persoalan pengelolaan sampah di Solo masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved