TPA Putri Cempo Solo
Cuaca Jadi Kendala, PSEL Putri Cempo Solo Belum Optimal Hasilkan Energi Listrik
Persoalan cuaca menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi operasional pembangkit Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Putradi Pamungkas
Ringkasan Berita:
- Hujan menghambat pengeringan sampah menjadi RDF di PSEL Putri Cempo, sehingga pasokan bahan baku ke gasifier terganggu dan produksi listrik tidak konsisten
- Gasifier belum optimal dan sering jeda, padahal ditargetkan mampu menghasilkan hingga 5 megawatt listrik
- Dari target 545 ton, baru 130 ton sampah terolah per hari, sementara produksi mencapai 370–380 ton, membuat TPA overload dan truk mengantre
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Kondisi hujan yang kerap terjadi belakangan ini menghambat proses pengeringan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo.
Dampaknya, sampah kesulitan diolah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan baku Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Akibatnya, produksi listrik tidak dapat berjalan konsisten dan kinerja fasilitas belum optimal.
Tim Ahli PSEL Putri Cempo, Prof. Prabang Setyono, mengungkapkan bahwa persoalan cuaca menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi operasional pembangkit.
Menurut Prof. Prabang, proses pengolahan sampah menjadi energi listrik terbagi dalam dua tahap besar, yakni preparasi bahan baku dan proses gasifikasi. Pada tahap awal, sampah harus dikeringkan dan diolah menjadi RDF sebelum dimasukkan ke mesin gasifier.
“Logikanya kan bisa dibagi dalam 2 sektoral ya, sektoral istilahnya preparasi penyiapan bahan bakunya yang untuk dipasokkan dalam gasifier itu ya bentuknya RDF gitu kan ya itu ya memang apa namanya masih banyak kendala. Apalagi ditambah hujan ya kalau hujan itu kan pengeringannya kan mungkin butuh waktu ya kan ya. Sehingga ya mesinnya gasifier itu kalau seandainya inputnya memang ya bermasalah ya mereka enggak akan berjalan karena sekali berjalan itu logika mesinnya itu memang ya harus kontinyu,” tuturnya, Rabu (11/2/2026).
Prof. Prabang menjelaskan, mesin gasifier dirancang untuk beroperasi secara terus-menerus.
Jika pasokan RDF tidak stabil akibat proses pengeringan yang terhambat, maka mesin tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Produksi Listrik Sering Mengalami Jeda
Belum optimalnya pasokan bahan baku berdampak langsung pada produksi listrik. Prof. Prabang menyebut kinerja gasifier masih jauh dari target.
“Kalau saya mengatakan ya kinerjanya belum membaik lah bahasannya kan gitu karena memang gasifier-nya belum optimal ya.
Optimalnya kan bisa sampai 5 megawatt ya itu tapi kenyataan sering apa namanya jeda gitu, jeda itu artinya nanti berhenti,” terangnya.
Secara kapasitas, PSEL Putri Cempo ditargetkan mampu menghasilkan listrik hingga 5 megawatt. Namun dalam praktiknya, operasional kerap terhenti sehingga daya yang dihasilkan tidak konsisten.
Baca juga: Pembangkit Listrik Gagal Penuhi Target, TPA Putri Cempo Solo Overload
Kapasitas Pengolahan Belum Maksimal
Selain persoalan teknis akibat cuaca, capaian pengolahan sampah juga masih jauh dari target.
Dari kapasitas ideal 545 ton per hari, PSEL saat ini baru mampu memproses sekitar 130 ton.
Padahal, produksi sampah Kota Solo mencapai 370–380 ton per hari.
| Viral Hujan Bikin Sampah TPA Putri Cempo Solo Meluap hingga Permukiman, Warga Ungkap Kronologinya |
|
|---|
| TPA Putri Cempo Overload, Pemkot Solo Lempar Ide Ajak Masyarakat Pilah Sampah di Tingkat RT-RW |
|
|---|
| Sudah Didatangkan Alat Berat, Warga Sekitar TPA Putri Cempo Solo Masih Rasakan Bau Menyengat |
|
|---|
| Pembangkit Listrik Gagal Penuhi Target, TPA Putri Cempo Solo Overload |
|
|---|
| Truk Sampah Antre di TPA Putri Cempo Solo, Respati Pastikan Tak Hambat Pengambilan di Rumah Warga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/TPA-Putri-Cempo-2024.jpg)