PTLSa Putri Cempo Solo

Sosok Pamuji, Penggerak Pengolahan Sampah di Gajahan Solo

Solo makin genjar untuk melakukan pengolahan sampah. Sejumlah langkah sudah disiapkan, ini untuk dimanfaatkan untuk tingkat rumah tangga.

Tayang:
TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
PEDULI LINGKUNGAN. Anggota Tim Ngreksa Uwuh Pamuji memperagakan pengolahan sampah menjadi pupuk kompos pada Minggu (17/5/2026). Dia sudah memulai kegiatan ini sejak setahun lalu. 

Ringkasan Berita:
  • Kelurahan Gajahan, Solo, mulai mengolah sampah lewat komunitas Ngreksa Uwuh. Setiap hari sekitar 80-100 kg sampah organik berhasil dimanfaatkan menjadi pakan maggot, lele, mentok, hingga pupuk kompos.
  • Sejak sanksi open dumping TPA Putri Cempo diberlakukan, warga diminta memilah sampah
  • Meski masih ada warga yang belum sadar memilah sampah, petugas memilih pendekatan persuasif dengan mendatangi dan mengedukasi masyarakat secara langsung.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sejak TPA Putri Cempo makin sesak oleh sampah, Pemerintah Kota Solo menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi limpahan sampah.

Berbagai upaya dilakukan agar sampah bisa dimanfaatkan kembali di tingkat rumah tangga hingga kelurahan.

Salah satu kelurahan yang telah memulai langkah ini yakni Kelurahan Gajahan.

Berkat Tim Ngreksa Uwuh, sampah berhasil diserap hingga 100 kg per hari.

Anggota Tim Ngreksa Uwuh, Pamuji, menjelaskan pihaknya telah menginisiasi program pengolahan sampah sejak tahun lalu.

“Sementara ini kita fokuskan di satu pengolahan. Kita rancang 2025 teman-teman berkumpul bagaimana kita olah. Bagaimana sampah ini lebih berguna. Ke depannya profit yang kita harapkan,” terangnya.

Sejak sanksi dijatuhkan pada 30 Maret 2026, pengolahan sampah mulai digencarkan.

Baca juga: Mahasiswa KKN UNS Kenalkan Inovasi Pengelolaan Sampah Organik menjadi Pupuk Kompos Ramah Lingkungan

Sebagian sampah organik basah yang telah dipilah oleh warga dimanfaatkan untuk pakan maggot, lele, hingga mentok. 

Sedangkan sampah organik kering dijadikan pupuk kompos.

“April ada instruksi pilah sampah, tinggal kita kencangin aja. Di Kelurahan Gajahan bentuk komunitas Ngreksa Uwuh,” jelasnya.

Ia mengakui sejumlah warga masih belum memiliki kesadaran untuk memilah sampah.

Ia pun memilih cara persuasif agar kesadaran tumbuh.

“Kita komunikasikan siapa aja yang belum memilah kita beri tahu. Kita datangi, kita edukasi,” tuturnya.

Olah Dedaunan Jadi Kompos

Pupuk kompos dari dedaunan kering diolah dengan bantuan Effective Microorganism (EM) 4.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved