Fakta Menarik Tentang Solo
Solo Catat Angka Kelahiran Rendah Menurut Hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2025, Ini Penyebabnya
Data ini terungkap dalam Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Jateng 2025, yang menunjukkan kedua kota tersebut memiliki TFR sebesar 1,77.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Kota Semarang dan Solo mencatat Total Fertility Rate (TFR) terendah di Jawa Tengah menurut SUPAS 2025, yakni 1,77. Sementara TFR Jateng turun menjadi 2,05 dari 2,09 pada 2020.
- Kabupaten Wonosobo menjadi wilayah dengan TFR tertinggi sebesar 2,21. Perbedaan angka kelahiran dipengaruhi faktor sosial, budaya, ekonomi, dan akses kesehatan reproduksi.
- Fertilitas usia muda 15–19 tahun turun tajam dari 38,60 menjadi 15,01 per 1.000 perempuan. Namun puncak kelahiran masih terjadi pada usia 25–29 tahun.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Semarang dan Solo tercatat sebagai wilayah dengan angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) terendah di Jawa Tengah (Jateng).
Data ini terungkap dalam Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Jateng 2025, yang menunjukkan kedua kota tersebut memiliki TFR sebesar 1,77.
TFR merupakan indikator yang menggambarkan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh seorang perempuan selama masa reproduksi, yaitu usia 15–49 tahun.
Baca juga: Jadwal Lokasi Samsat Keliling Solo Rabu 20 Mei 2026 : Hari Ini Ada di Pusat Oleh-oleh Jongke
Angka ini menjadi salah satu ukuran penting untuk memahami tren fertilitas dan dinamika kependudukan di suatu wilayah.
Menurut SUPAS 2025, TFR Jawa Tengah berada di angka 2,05, sedikit menurun dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (LF SP2020) yang mencatat 2,09.
Penurunan TFR di Jateng juga terlihat dalam jangka panjang. Sejak Sensus Penduduk 2010 (SP2010) yang mencatat TFR 2,20, angka fertilitas di provinsi ini terus mengalami penurunan.
Meski penurunan saat ini tidak secepat periode sebelumnya, tren tersebut menunjukkan Jateng telah mencapai level penggantian penduduk (replacement level), yaitu kondisi di mana setiap generasi cukup menggantikan generasi sebelumnya.
Baca juga: Daftar Angka Kelahiran Tertinggi di Jawa Tengah Menurut SUPAS 2025 : Solo Justru Rendah, Ada Apa?
Perbedaan Fertilitas Antarwilayah
Meskipun tren penurunan fertilitas terlihat secara umum, perbedaan antarwilayah di Jateng masih cukup signifikan.
Selain Kota Semarang dan Solo yang mencatat TFR terendah, Kabupaten Wonosobo justru mencatat TFR tertinggi, yakni 2,21.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi sosial, budaya, ekonomi, serta akses terhadap layanan kesehatan reproduksi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi pembangunan kependudukan perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.
Penurunan Fertilitas pada Kelompok Usia Muda
Selain TFR, BPS Jateng juga memantau Age Specific Fertility Rate (ASFR), yaitu jumlah kelahiran per 1.000 perempuan pada kelompok usia tertentu. Data SUPAS 2025 menunjukkan penurunan signifikan pada kelompok usia muda, khususnya 15–24 tahun.
Pada kelompok usia 15–19 tahun, ASFR turun tajam dari 38,60 kelahiran per 1.000 perempuan pada SP2010 menjadi 15,01 pada SUPAS 2025.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Solo Hari Ini Rabu 20 Mei 2026 : Potensi Hujan Ringan Menurut BMKG
Meski demikian, puncak fertilitas tetap berada pada kelompok usia 25–29 tahun, yang justru meningkat dari 122,30 menjadi 128,58 kelahiran per 1.000 perempuan.
| Daftar Angka Kelahiran Tertinggi di Jawa Tengah Menurut SUPAS 2025 : Solo Justru Rendah, Ada Apa? |
|
|---|
| Kelihatannya Mirip Tapi Ternyata Tak Sama, Ini Perbedaan Keris Solo dan Keris Yogyakarta |
|
|---|
| Cerita di Balik Kebiasaan Pria Solo Pakai Keris di Belakang saat Acara Penting, Punya Makna Mendalam |
|
|---|
| Pusat Barang Bekas Populer di Kota Solo ini Dulunya Kompleks Prostitusi |
|
|---|
| Kisah Asal Muasal Pasar Triwindu Solo yang Berdiri Tahun 1939, Ternyata Dulunya Kandang Kuda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Ilustrasi-ibu-bayi.jpg)