Kenaikan Dolar

Rupiah Anjlok, REI Solo Raya Sebut Pengembang Pusing Lihat Harga Material Pipa Plastik yang Melonjak

Kenaikan paling terasa terjadi pada material berbahan plastik seperti pipa yang harganya melonjak cukup tajam.

Tayang:
Tribunnews.com
PROPERTI TERDAMPAK - Ilustrasi properti. Melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS hingga menyentuh Rp 17.676 pada Kamis (21/5/2026) mulai berdampak pada sektor properti di Solo Raya. 
Ringkasan Berita:
  • Pelemahan rupiah hingga Rp17.676 membuat harga material bangunan naik, terutama pipa plastik yang melonjak hampir 30 persen.
  • Ketua REI Soloraya menyebut kondisi tersebut membuat bisnis properti diprediksi semakin lesu karena daya beli masyarakat turun.
  • Pelaku usaha memilih berhemat dan menahan ekspansi karena perlambatan ekonomi juga dirasakan sektor perbankan dan bisnis lainnya.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh Rp 17.676 pada Kamis (21/5/2026) mulai berdampak pada sektor properti.

Ketua REI Komisariat Soloraya, Oma Nuryanto, menyebut kenaikan harga material bangunan hingga 30 persen membuat bisnis properti diprediksi semakin lesu.

Menurut Oma, kenaikan paling terasa terjadi pada material berbahan plastik seperti pipa yang harganya melonjak cukup tajam.

PROPERTI TERDAMPAK - Ilustrasi properti. Melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS hingga menyentuh Rp 17.676 pada Kamis (21/5/2026) mulai berdampak pada sektor properti di Soloraya.
PROPERTI TERDAMPAK - Ilustrasi properti. Melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS hingga menyentuh Rp 17.676 pada Kamis (21/5/2026) mulai berdampak pada sektor properti di Soloraya. (TribunSolo.com / Kompas.com / Kementerian PUPR)

“Terutama yang plastik pipa naik luar biasa hampir 30 persen. Memang ini dampak daya beli hampir semua mengalami. Semua sektor mengalami. Daya beli otomatis penjualan akan berkurang,” ungkapnya.

Tak hanya material bangunan, pelemahan rupiah juga disebut berdampak pada daya beli masyarakat yang semakin tertekan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha properti harus memutar strategi agar bisnis tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.

Baca juga: Kantong Plastik Mahal Imbas Dolar Naik, Pedagang Pasar Jungke Karanganyar Ubah Cara Layani Pembeli

Pengembang Pilih Penghematan

Oma mengatakan saat ini para pengembang memilih melakukan penghematan dan memaksimalkan potensi yang ada untuk menjaga keseimbangan antara harga properti dan kemampuan beli masyarakat.

“Ini menyikapi kondisi ini kita ya semua berat ya. Semua menahan. Semua berhemat. Istilahnya penghematan juga kita lakukan. Memaksimalkan yang ada,” tuturnya.

Ia menilai perlambatan ekonomi tidak hanya dirasakan sektor properti, tetapi hampir seluruh bidang usaha ikut terdampak akibat melemahnya kondisi makro ekonomi.

Baca juga: Warga Tuntut Semua Outlet Miras di Solo Ditutup, Respati Tak Sependapat : Izinkan dengan Pembatasan

Menurutnya, sektor perbankan pun mulai merasakan tekanan yang sama seiring lesunya aktivitas bisnis dan menurunnya daya beli masyarakat.

“Kalau melambat makro semua mengalami. Hampir semua bisnis mengalami semua. Teman-teman perbankan juga mengalami,” jelasnya.

Pelaku usaha kini berharap kondisi nilai tukar rupiah segera stabil agar harga material tidak terus melonjak dan pasar properti dapat kembali bergerak normal.

 

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved