Kenaikan Dolar

Industri Plastik di Solo Terdampak Rupiah Melemah, Pengusaha Sebut Separuh Mesin Lumpuh

Kenaikan dolar berdampak pada pengusaha. Ini diungkapkan pengusaha industri plastik. Dia mengungkapkan separuh lebih mesin lumpuh.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ILUSTRASI UANG. Gambar uang, Melemahnya rupiah berdampak pada industri plastik di Solo. 
Ringkasan Berita:
  • Pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat industri plastik terpukul. President Director Sinar Jaya Plastisindo, Whelly Sujono, menyebut hanya sekitar 50-60 persen mesin yang masih berproduksi.
  • Meski kondisi industri melemah, sejumlah perusahaan masih berupaya menghindari PHK dengan cara mengatur ulang jam kerja, meniadakan lembur, hingga memindahkan karyawan ke posisi lain.
  • Industri plastik kini menghadapi kenaikan bahan baku impor, biaya logistik, dan operasional. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Melemahnya rupiah berdampak pada pengusaha industri plastik. 

Ini diungkap President Director Sinar Jaya Plastisindo, Whelly Sujono.

Dia mengungkapkan kurs rupiah yang melemah terhadap dolar AS berdampak hingga membuat separuh lebih mesin lumpuh. 

Meski begitu, menurutnya sejumlah perusahaan masih belum mengambil opsi untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.

“Hari ini utilitas sekitar 50-60 mesin yang berproduksi. Tetapi apakah ada opsi? Menurut saya selalu ada opsi ketika titik itu harus ditempuh pengusaha. Tapi kadang pengusaha bisa menyiasati order yang berkurang dengan pengaturan ulang jam kerja,” tuturnya.

Sejumlah pelaku industri melakukan berbagai siasat agar tak ada karyawan yang di-PHK.

Salah satunya dengan pengaturan ulang jam kerja.

“Lembur ditiadakan, giliran masuk kerja, atau karyawan dialihkan ke pos pekerjaan lain yang sekiranya di perusahaan tersebut ada,” jelasnya.

Daya Beli Melemah

Industri plastik saat ini sangat bergantung pada bahan baku impor yang semakin tinggi.

Sementara itu, daya beli masyarakat justru melemah.

“Dengan kenaikan bahan baku, bahan penolong, biaya logistik, dan operasional yang terjadi di industri, masing-masing industri punya strategi tersendiri. Secara garis besar ujung-ujungnya efisiensi di sistem produksi, sistem biaya, yang paling pahit tentunya tenaga kerja. Kalau harga raw material tinggi, daya beli masyarakat tidak bisa mengadopsi kenaikan bahan baku itu, akhirnya perusahaan dituntut melakukan langkah supaya survive,” jelasnya.

Baca juga: Dampak Rupiah Melemah, Harga Material Naik 30 Persen, Bisnis Properti Diprediksi Lesu

Sejumlah upaya dilakukan agar produk yang dihasilkan tetap terjangkau oleh masyarakat. Mulai dari mengganti bahan baku alternatif yang lebih murah hingga mengurangi ukuran produk.

“Langkah yang diambil kalau bicara efisiensi bisa dilakukan dengan mencari sumber alternatif bahan baku. Kalaupun mengurangi kualitas produk, harapannya tidak mengganggu fungsi produk itu. Bisa juga menggunakan bahan baku daur ulang. Menurut saya bisa menjadi momentum bagi industri daur ulang. Bisa juga downsizing dari 50 mikron menjadi 30 mikron,” tuturnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved