Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Sate Kambing yang Populer di Solo Raya, Menu Favorit saat Idul Adha

Tidak hanya menjadi menu favorit keluarga, sate kambing juga telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner khas Solo dan sekitarnya.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM
KULINER LEGENDARIS - Satu porsi sate kambing Sadono yang sudah ada sejak tahun 1998 di Sragen, Jawa Tengah. Beginilah sejarah sate kambing yang legendaris. 

Interaksi budaya antara penjajah dan masyarakat lokal membuat sate tidak lagi eksklusif.

Warung-warung dan pasar mulai menjajakan sate berbahan ayam, kambing, maupun sapi, hingga akhirnya menjadi makanan rakyat yang mudah dijumpai.

Memasuki abad ke-19 dan 20, sate menjelma menjadi salah satu ikon kuliner kaki lima Indonesia yang digemari semua lapisan masyarakat.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Solo Hari Ini Kamis 28 Mei 2026 : BMKG Prediksi Cerah di Semua Kecamatan

Menjelma Jadi Kuliner Khas Solo

Di antara banyak daerah di Indonesia, Kota Solo (Surakarta) dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan kuliner berbahan kambing.

Hampir di setiap sudut kota, terutama di kawasan Pasar Kliwon, mudah ditemui penjual sate kambing, tengkleng, hingga tongseng.

Cita rasa sate kambing khas Solo dikenal sederhana namun kuat, dengan perpaduan kecap manis, irisan bawang merah, dan cabai.

Rasa inilah yang membuat sate kambing Solo menjadi incaran wisatawan.

Menurut berbagai sumber, kuatnya tradisi kuliner kambing di Solo dipengaruhi oleh keberadaan komunitas Timur Tengah, khususnya pedagang Arab, yang telah lama bermukim di wilayah Pasar Kliwon.

Konon, daging kambing dahulu kerap disajikan oleh pedagang Arab kepada bangsawan Solo, hingga akhirnya digemari oleh kalangan keraton.

Baca juga: Satpol PP Solo Amankan Waria Ngamuk Tampar Pengunjung Rumah Makan, Diminta Buat Pernyataan

Dari Sate hingga Tengkleng

Tak hanya sate kambing, kreativitas wong Solo juga melahirkan tengkleng, olahan tulang dan jeroan kambing berkuah gurih.

Tengkleng lahir pada masa penjajahan Jepang, saat kondisi ekonomi sulit dan masyarakat harus memanfaatkan bagian kambing yang tersisa.

Seiring waktu, tengkleng yang awalnya identik dengan rakyat kecil justru digemari kalangan priyayi.

Hal ini, menurut sejarawan kuliner Heri Priyatmoko, membuktikan bahwa tengkleng mampu menunjukkan jati diri dan nilai tinggi sebagai kuliner khas Solo.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved