Solo KLB Corona

Bepergian Wajib Kantongi Surat Uji PCR, Dokter RS UNS Sarankan dengan Rapid Test Antigen & Antibody

Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS Solo itu, meski sudah mengantongi surat PCR dari RS, orang tersebut belum tentu terbebas dari Covid-19.

TribunSolo.com/Adi Surya
ILUSTRASI : Seorang karyawan di Solo Paragon Mall mengikuti uji rapid test yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kota Solo, di Jalan Yosodipuro, Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Kamis (23/5/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Surat Edaran Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 5 Tahun 2020 yang menyebut pelaku perjalanan harus mengantongi tes PCR, mendapatkan komentar beragam.

Di antaranya dari Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dr Tonang Dwi Ardyanto.

Menurut Tonang yang juga Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS Solo itu, meski sudah mengantongi surat PCR dari RS, orang tersebut belum tentu terbebas dari Covid-19.

"Dalam surat PCR itu kan dikatakan ada batas waktunya selama 7 hari, lalu rapid test berlaku 3 hari, tapi kita harus hari-hati karena yang disebut masa berlaku itu adalah suratnya," katanya, Jumat (29/5/2020).

Jelang New Normal, Rutan Solo Perketat Penerimaan Tahanan Baru, Wajib Rapid Test dan Bebas Corona

Tak Perlu New Normal Hadapi Corona, Pengamat Kesehatan UNS : Asal Masyarakat Tertib

"Tapi kalau pemeriksaannya hanya berlaku hari itu, karena habis diperiksa, lalu tertular bisa saja terjadi," terangnya menekankan.

Tonang menyarankan, agar pemeriksaan tidak menggunakan PCR, namun rapid test antigen dan rapid test antibody pada saat masyarakat hendak melakukan perjalanan.

"Dengan rapid test antigen cara pengambilan semplenya sama seperti PCR, tapi lebih mudah dan cepat sekitar 15-20 menit saja," jelasnya.

Bila rapit test antigen itu menunjukan hasil reaktif berarti ada protein virus, yang bisa disebut ada virus dan bisa nular.

Sehingga pemeriksaan dengan menggunakan rapid rest antigen ini harus dilengkapi juga dengan pemeriksaan rapid test antibody.

"Kalau rapid test antigen reaktif berati ada virus, jika rapid test antibody yang reaktif berati antibodynya, sehingga keduanya akan memberikan keterangan." terangnya.

Ingin Rapid Test Mandiri? Ini Rincian Biaya di RSD Bagas Waras Klaten yang Buka Senin hingga Sabtu

Diklaim Lebih Murah daripada Impor, Seperti Inilah Ventilator Buatan Lab Optik FMIPA UNS Solo

"Jika rapid test antibody reaktif, dan rapid test antigennya tidak reaktif, berati virusnya sudah tidak ada, resiko menularnya kecil," jelasnya.

Tonang sendiri tengah mendorong syarat perjalanan untuk melakukan test secara simultan antara kedua rapid rest tersebut.

"Kalau perlu di bandara disediakan tempat khusus untuk pemeriksaan, biar hasilnya hari itu juga," ucapnya.

"Tapi dari pihak maskapai juga harus ada kebijakan, semisal calon penumpang yang reaktif dan terlanjur sudah beli tiket, harus ada kebijakan khusus yang tidak merugikan calon penumpang," tandasnya. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved