Pilkada Sukoharjo 2020
Pengamat Kesehatan UNS Solo Beri Saran, Pilkada Boleh Jalan Tapi Cara Diubah Agar Tak Timbul Klaster
"Pilkada jalan terus monggo, tapi caranya kita ubah," kata dia kepada TribunSolo.com.
Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Pro dan kontra terkait pelaksanaan Pilkada 2020 masih saja mengemuka di tengah masyarakat meskipun pemerintah dan DPR sudah sepakat 9 Desember.
Pada Pilkada 2020 ini dilaksanakan di tengah pandemi virus corona, sehingga dikhawatirkan akan mengakibatkan klaster baru.
Dosen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UNS Solo, dr. Tonang Dwi Ardyanto menjelaskan, jika Pilkada ini terus berjalan, maka harus ada perubahan pelaksanaannya sesuai protokol kesehatan.
• Kenali Efek Samping Konsumsi Air Lemon Terlalu banyak bagi Kesehatan, Sakit Perut hingga Erosi Gigi
• Hotman Paris Unggah Videonya Bersama Prabowo, Canggung saat Berbincang soal Latar Belakang Keluarga
• Angka Kesembuhan Covid-19 di Klaten Meningkat, Total Ada 489 Pasien Terbebas dari Virus Corona
"Pilkada jalan terus monggo, tapi caranya kita ubah," kata dia kepada TribunSolo.com, Jumat (25/9/2020).
"Tidak zaman lagi kampanye kumpul-kumpul, 3M dan penerapan protokol kesehatan harus tetap dilakukan," imbuhnya.
Dia menyesalkan masih adanya kerumumnan massa yang dilakukan simpatisan salah satu pendukung paslon saat tahapan Pilkada.
Padahal, saat ini di Solo Raya sendiri kasus Covid-19 masih terus bertambah.
"Dari sisi gejala masih sama, didominasi OTG, dan gejala ringan, meski ada juga yang mengalami gejala sedang maupun berat," katanya.
"Tapi kalau dari jumlah, di Solo Raya ada peningkatan, meski sedikit-sedikit," ucapnya.
Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit (RS) UNS itu meminta para paslon juga harus mencerdaskan simpatisannya dalam penerapan protokol kesehatan.
• Gibran Punya Harta Rp 21,1 M Tapi Miliki Hutang, Bagyo Hanya Berharta Rp 1,9 M Tapi Tak Punya Hutang
• Hartanya Bikin Geleng-geleng Rp 21,1 M, Ini Daftar Bisnis Gibran Sebelum Nyemplung ke Dunia Politik
Sebab, dalam tahapan Pilkada ini, ada sejumlah tahapan yang berpotensi akan mengumpulkan massa.
Seperti pada tahapan pendaftaran Bakal Paslon, pengambilan nomor urut paslon, kampanye, hingga saat pencoblosan 9 Desember nanti.
"Paslon juga harus bisa mengarahkan dan mengedukasi simpatisannya agar tetap menaati protokol kesehatan," kata dia.
"Meski ada stigma masyarakat jika Pilkada gak kumpul-kumpul gak gayeng, tapi ini kan situasinya sedang pandemi," imbuhnya.