Berita Solo Terbaru
Duduk Perkara 13 KK Kandangdoro Solo Terancam Digusur, Imbas PT KAI Perluas Parkir Stasiun Balapan
Sebanyak 13 KK di Kampung Kandangdoro RT 02 RW 06, Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo terancam terkena gusur.
Penulis: Ilham Oktafian | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ilham Oktafian
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sebanyak 13 kepala keluarga (KK) di Kampung Kandangdoro RT 02 RW 06, Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo terancam terkena gusur.
Rumah mereka terancam rata dengan tanah imbas perluasan lahan parkir Stasiun Solo Balapan yang akan dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Salah seorang warga, Yulianto (48) menuturkan jika mereka sudah menempati lahan tersebut sejak puluhan tahun silam, sebelum PT KAI memberlakukan sistem sertifikat hak pakai.
"Sertifikat baru ada tahun 1996, sedangkan dari warga sudah menempati lahan ini jauh sebelum itu," katanya kepada TribunSolo.com, Rabu (13/1/2021).
Baca juga: Stasiun Balapan Sepi Penumpang, PT KAI DAOP 6: Puncak Arus Mudik Tanggal 23 Desember 2020
Baca juga: Air Mata Belum Kering Usai Kehilangan Bripka Slamet, Nurul Warga Timuran Kini Terancam Digusur
Kemudian, kata Yulianto di bulan September 2020 PT KAI tiba tiba mengklaim lahan tersebut untuk perluasan lahan parkir Stasiun Solo Balapan.
"Di bulan September 2020 kami diberitahu dan sosialisasi untuk perluasan lahan parkir di Kampung Kandangdoro," jelas dia.
"Hanya sekali sosialisasi lalu bulan Oktober 2020 PT KAI langsung melakukan pengukuran," keluhnya.
Satu bulan berikutnya, yakni di bulan November, warga kemudian menerima sejumlah transfer misterius tanpa nama pengirim.
Mereka menerima sejumlah uang dengan jumlah nominal yang berbeda beda.
"Jumlah uangnya sangat tidak manusiawi, ada yang Rp 8juta, Rp 11juta, dan paling tinggi Rp 85 juta," paparnya.
"Banyangkan rumah yang kami bangun dan kita bayar PBBnya hanya dihargai segitu," imbuhnya.
Warga sendiri lalu mengeluhkan kejadian tersebut pada Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo.
"Saya matur ke Pak Walikota sampai 5 kali, dan Pak Wali menjawab rumah harus dapat rumah," katanya.
"Yang kami keluhkan kenapa PT KAI tidak menunggu tindak lanjutnya," paparnya.
Semua warga yang terdampak proyek tersebut pun sepakat untuk bertahan sampai menunggu keputusan FX Rudy datang.
"Kami menunggu keputusan terbaik, jika memang pahit kami mau pindah asalkan nominalnya sesuai," tandasnya.
Aspol Digusur
Belum kering air mata Nurul Chairiyani seusai kehilangan suami tercinta, Bripka Slamet Mulyono (45) dalam insiden kejadian kecelakaan yang melibatkan kereta api dan mobil polisi di kawasan Kecematan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Minggu (13/12/2020).
Kini, Nurul terancam digusur dari rumahnya di Jalan Ronggowarsito No.166, Timuran, Kecamatan Banjarsari, Solo.
"Air mata saya belum kering mengingat kejadian suami saya meninggal tertabrak kereta api di Sragen beberapa waktu lalu," kata Nurul.
Baca juga: Bripka Slamet Mulyono Dikenal Disiplin, Pernah Dapat Hadiah Sepeda Motor Dinas dari Kapolres Sragen
Baca juga: Suasana Sedih Selimuti di Rumah Duka Keluarga Bripka Slamet : Syok dan Tangis Pecah Selama 2 Jam
Saat ini, Nurul harus merawat tiga buah hatinya dan harus menghadapi rumahnya yang akan digusur.
Menurut dia, mereka tidak tahu apa salah mereka harus digusur. Padalah selama ini mereka tidak melakukan kesalahan hukum.
"Suami saya itu dulu meninggal juga karena bertugas, patroli, tapi sekarang saya harus seperti ini terancam digusur," kata dia.
Tewas di Kalijambe Sragen
Sebelumnya, kecelakaan maut melibatkan mobil Polsek Kalijambe yang berisi tiga anggota polisi dan satu tentara tersambar kereta api pada Minggu (13/12/2020) tepatnya pukul 22.45 WIB.
Peristiwa tersebut terjadi di Dukuh Siboto, Desa Kalimacan, Kecamatan Kalijambe, Sragen.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, mobil patroli itu tersambar kereta api (KA) Brantas jurusan Pasarsenen-Blitar.
Kendaraan merek Mitsubishi Strada saat itu sedang berpatroli dan melintas di perlintasan sebidang tanpa palang.
"Perlintasan itu berada di JPL 159 yang tidak ada palangnya," ungkap Humas DAOP VI Yogyakarta, Supriyanto kepada Tribunsolo.com, Senin (14/12/2020).
Baca juga: Rencana Pengosongan Dikabarkan Mendadak, Warga Pemukiman di Timuran Bingung : Mau Tinggal Dimana?
Baca juga: Diminta Kosongkan Rumah, Warga Pemukiman di Timuran Resah, Mengadu ke Wali Kota FX Rudy
Supriyanto menjelaskan, diduga pengemudi mobil tidak tahu jika ada KA yang melintas.
"Sehingga kecelakaan tidak terhindarkan," paparnya.
Benturan keras antara mobil dan KA membuat mobil itu ringsek tidak berbentuk.
Akibat insiden tersebut satu dari empat penumpang belum ditemukan jenazahnya hingga berita ini diturunkan.
Identitas tiga orang penumpang yang tewas tersambar kereta api yakni Pelda Eka Budi (50) anggota TNI, warga Dukuh/Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe.
Korban kedua bernama Aipda Samsul Hadi (57), anggota Polsek Kalijambe, asal Kecamatan Gemolong.
Korban ketiga Bripka Slamet Mulyono (45), pekerjaan Polisi, asal Kota Solo.
Sebelumnya diberitakan, mobil Polsek Kalijambe berisi tiga anggota polisi dan satu tentara tersambar kereta api di Dukuh Siboto, Desa Kalimacan, Kecamatan Kalijambe, Sragen pada Minggu (13/12/2020) tepatnya pukul 22.45 WIB.
Baca juga: Pesan WA Terakhir Bripka Slamet Mulyono Sebelum Tewas Dihantam Kereta : Pamit Mau Patroli
Baca juga: Suasana Rumah Duka Bripka Slamet, Korban Laka KA vs Mobil di Sragen : Melayat dengan Prokes Ketat
Terpisah, Kepala Basarnas Semarang Nur Yahya mengatakan bahwa akibat insiden itu, dua penumpang di dalamnya harus meregang nyawa dan seorang lagi hilang diduga terlempar ke sungai Cemoro.
"Pelda Eka Budi diduga terlempar ke sungai Cemoro," jelasnya, Senin (14/12/2020).
Dijelaskannya, mobil patroli itu tertabrak kereta api di perlintasan rel kereta api jalan Solo- Purwodadi KM 13.
Diketahui mereka hendak melintasi rel kereta api dari Timur menuju ke Dukuh Siboto Desa Kalimacan.
"Saat melintas dari arah Utara melaju sebuah kereta api Brantas menuju Selatan sehingga terjadi kecelakaan," ujarnya.
Mobil Patroli terseret kereta api kurang lebih 100 meter dan tepat berhenti di jembatan kereta diatas sungai Cemoro.
"Saat di atas jembatan itu diduga anggota koramil terlempar kedalam sungai," katanya.
Saat ini tim SAR gabungan masih berusaha mencari keberadaan Pelda Eka Budi yang diduda terpental ke dalam sungai cemoro.
"Semoga korban segera ditemukan," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/warga-kampung-kandangdoro-rt-02-rw-06-kelurahan-kestalan.jpg)