Berita Solo Terbaru
Potret Ritual Malam Imlek Klenteng Tien Kok Sie Solo : Prokes Diperketat, Cuma Dihadiri Pengurus
Ritual malam tahun baru Imlek di Kota Solo memiliki suasana yang berbeda dibanding tahun-tahun yang lalu.
Penulis: Ryantono Puji Santoso | Editor: Adi Surya Samodra
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ryantono Puji Santoso
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ritual malam tahun baru Imlek di Kota Solo memiliki suasana yang berbeda dibanding tahun-tahun yang lalu.
Pasalnya, ritual tahunan tersebut kini dirayakan di tengah pandemi Covid-19.
Termasuk, di Klenteng Tien Kok Sie, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Solo.
Ritual malam tahun baru Imlek yang dilakukan di klenteng tersebut tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat.
• Masih Corona, Ritual Imlek di Solo Digelar Terbatas, Hanya Diikuti Pengurus Klenteng Tien Kok Sie
• Jelang Imlek, Patung Dewa-Dewi di Klenteng Tien Kok Sie Solo Dibersihkan dengan Air Kembang
Berdasarkann pantauan TribunSolo.com, ada penjaga protokol kesehatan di depan pintu gerbang klenteng yang berada di kawasan Pasar Gede Solo itu, Kamis (11/2/2021).
Setiap orang yang masuk ke dalam klenteng, diwajibkan mengecek suhu tubuh dan cuci tangan.
Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya mengatakan, untuk ritual tahun ini ada perbedaan.
"Kalau biasa ritual mendatangkan pedeta atau biksu, kali ini tidak," aku dia.
Waluya mengatakan, yang melakukan doa adalah pengurus dari Klenteng sendiri.
Biasanya, dalam momentum ini banyak umat yang datang ke Klenteng.
Namun, karena situasi saat ini yang datang hanya pengurus saja.
"Kita batasi, tidak ingin berkumpul banyak orang dan menyebabkan dalam tanda kutip klaster tempat ibadah," kata dia.
Pelaksanaan ritual di Klenteng Tien Kok Sie ini menggunakan protokol kesehatan ketat.
"Kami mengikuti imbauan pemerintah," jelas dia.
Waluya menjelaskan, walaupun dibatasi, bila ada umat yang nekat datang akan diakomodasi.
"Kalau di dalam banyak orang kita minta tunggu," jelas dia.
"Tapi kami sudah menghimbau untuk tidak datang," papar dia.
Patung Dibersihkan
Sebelumnya sejumlah tradisi menjelang perayaan hari raya Imlek dilakukan di Klenteng Tien Kok Sie, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Solo.
Satu di antaranya tradis pembersihan kim shin atau patung dewa dewi.
Ritual tersebut dilakukan, Minggu (31/1/2021) dengan protokol kesehatan yang ketat.
Para petugas harus diukur suhu tubuh sebelum masuk ke kawasan Klenten Tien Kok Sie untuk membersihkan kim shin.
Ketua Yayasan Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluta mengatakan tradisi tersebut sudah dilakukan 4 ribu tahun lamanya saat menyambut perayaan Imlek.
"Seyogyanya bagi yang mampu membersihkan di dalam dan di luar rumah ataupun tempat ibadah saat menyambut tahun baru Imlek," kata Sumantri.
"Jadi semua kelihatan bersih dan baru. Baru di sini maksudnya catnya yang sudah kusam dicat lagi. Apa yang perlu dibersihkan, ya dibersihkan," tambahnya.
Baca juga: Tahun Ini, Perayaan Imlek di Solo Ditiadakan, Lampion Tak Hiasi Kawasan Pasar Gede Cegah Kerumunan
Baca juga: Masih Pandemi Covid-19, Pertunjukan Barongsai dan Wayang Potehi di Solo saat Imlek Ditiadakan
Baca juga: Imlek 2021 Ditengah Pandemi, Panitian Meminta Silaturahmi Lewat Media Sosial, Angpao Bisa Ditransfer
Baca juga: Banjir Bandang di Wonogiri Rendam 2 Kecamatan dan Ratusan Rumah, Disebabkan Luweng Tersumbat
Dari pantauan TribunSolo.com, sejumlah kim shin diturunkan dari lokasi peletekannya di Klenteng Tien Kok Sie.
Patung Dewi Kwan Im menjadi satu diantaranya.
Patung tersebut kemudian diletakkan di sebuah meja untuk dibersihkan pakai air sabun.
Sebanyak empat orang yang membantu pembersihan patung-patung tersebut.
Patung-patung sesekali diguyur menggunakan air kembang sebelum akhirnya disikat menggunakan air sabun beberapa kali.
Setelahnya, patung-patung kemudian dilap dan dikeringkan.
"Jumlah kim shin-nya kalau ditotal bisa lebih dari 25 buah tapi kalau dikelompokan ada 17," ucap Sumantri.
Sumantri mengatakan apabila patung-patung tersebut tidak dibersihkan, nanti akan nampak kusam.
Terlebih, abu dupa kerap menempel di badan patung.
"Kalau tidak makin lama, abu dupa membuat hitam," katanya.
Sumantri mengungkapkan sebelum patung-patung dibersihkan, para pengurus Klenteng Tien Kok Sie tetap meminta izin.
Termasuk, hari dan jam pelaksanaan pembersihan para kim shin.
Itu dilakukan dengan menggunakan tradisi Poa Pwe atau melempar dua potong kayu kecil.
Tradisi Poa Pwe sudah dilakukan para pengurus Klenteng Tien Kok Sie dua hari sebelumnya.
"Kalau tidak boleh itu nanti diganti harinya. Semisal hari ini boleh, maka langsung dilakukan hari ini," ungkapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/suasana-klenteng-tien-kok-sie-jelang-imlek-di-jalan-re-martadinata.jpg)