Breaking News:

Berita Karanganyar Terbaru

Larangan Mudik 2021, Nasib Perusahaan Otobus Makin Terpuruk, Masih Pertimbangkan Jalankan Armada

Perusahaan otobus kembali harus memupuskan angan mereka seusai larangan mudik Idul Fitri kembali diberlakukan.

TribunSolo.com/Adi Surya
Kondisi garasi bus Langsung Jaya di Desa Dagen, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Selasa (27/4/2021). 

Misalnya, transportasi darat, seperti bus antar kota dalam provinsi (AKDP) dan antar kota antar provinsi (AKAP) tidak boleh beroperasi.

Seorang pedagang makanan Terminal Tipe A Tirtonadi Solo yang enggan disebutkan namanya mengatakan aturan itu membikin omzet menjelang Lebaran terjun bebas.

Baca juga: Mencekiknya Pandemi, Sopir di Solo Balapan Curhat Sepi Penumpang,Agen Bus di Tirtonadi Mengeluh Sewa

Baca juga: Nelangsa, Penjual Tiket AKAP di Terminal Tirtonadi Solo Harus Libur, Ada Aturan Larangan Mudik

"Jadi langsung terjun bebas, bukan terjun payung. Kalau terjun payung kadang masih di atas, ini sudah terjun bebas," katanya kepada TribunSolo.com, Senin (26/4/2021).

Padahal, Lebaran menjadi momen yang ditunggu para pedagang untuk mendongkrak omzet saat pandemi Covid-19.

Ia mengungkapkan dirinya biasanya bisa meraup omzet setidaknya Rp 5 juta sampai Rp 7 juta mulai H-3 Lebaran.

Jumlah omzet tersebut didapatkan sebelum pandemi Covid-19 menerjang.

"Itu malam saja. Belum siangnya. Kalau h-3, waktu siang biasa, saat h+ itu siangnya baru bisa dapat omzet sebesar itu," ungkapnya.

Namun, omzet tersebut kini hanya sekedar angan. Larangan mudik membuat terminal berpotensi sepi pembeli.

Apalagi, semenjak Covid-19, para pedagang makanan harus merangkak pelan guna mendapat pemasukan.

"Kita mau Rp 100 ribu sehari itu sulit sekali. Pas Sabtu-Minggu baru tercapai Rp 100 ribu, Rp 300 ribu lebih," ucapnya.

Iapun kini hanya bisa merelakan Lebaran tahun ini tidak bisa memberikan baju lebaran untuk ketiga anaknya.

"Tahun-tahun lalu masih bisa beli. Malah bisa beli yang lain. Tapi tahun ini tidak bisa," katanya.

Pedagangpun kini masih mikir-mikir tetap membuka lapaknya atau tidak. Itu lantaran sepinya pembeli selama masa itu masih mengintai.

"Masih lihat situasi kondisinya," ujarnya.

Curhatan Sopir

Dampak pandemi yang sudah setahun lebih benar-benar membuat sopir taksi dan agen bus terpuruk minta ampun di Kota Solo.

Di antaranya sopir taksi di kawasan Stasiun Solo Balapan resah adanya larangan mudik yang sudah diputuskan pemerintah terlebih setahun kena pandemi

Sopir Taksi Paguyuban Sahabat, Waskito (48) mengatakan, sepinya penumpang taksi karena dampak larangan mudik 2021 yang sudah terasa.

"Sebenarnya udah mulai normal, tapi karena ada larangan mudik ini jadi sepi lagi," ungkap dia kepada TribunSolo.com, Sabtu (17/4/2021).

Waskito hanya bisa pasrah dan berharap ada pemudik sebelum pelarangan.

Baca juga: Imbas Perawat Dipukul dan Ditendang di Palembang, PPNI Solo : Ancaman, Hukum Harus Jalan Terus

Baca juga: Wapadai Pemudik Curi Start, Stasiun Solo Balapan Perketat Prokes, Penjualan Tiket Maksimal 5 Mei

"Biasanya ada yang nekat, tapi ini belum ada tanda-tanda," ungkapnya.

Ia mengaku sehari-hari gara-gara pandemi hanya bisa mengakut 1-3 penumpang.

"Mentok tiga penumpang dari satu hari full sampai malam," ungkapnya.

Dengan tarif Rp 5000 setiap per kilometernya, biasanya sekali perjalanan mendapat uang Rp 150 ribu dengan jarak tempuh 30 kilometer.

Tapi karena adanya pembatasan ini, Waskito mengangkut penumpang di dalam Kota Solo dengan tarif paling jauh sekitar RP 40 ribu.

"Saya narik sejak 2017, tapi baru kali ini sepinya minta ampun," aku dia.

"Semua itu buat keluarga, punya anak dua masih sekolah, mau engak mau harus bertahan," jelasnya.

Agen Tuntut Sewa Murah

Terpisah, sekitar 60 agen bus yang tergabung dalam Paguyupan Agen Bus Terninal Tirtonadi, tuntut penurunan tarif sewa blok.

Ketua Pageyupan Agen Bus Terminal Tirtonadi Ibnu mengatakan, tuntutan ini berkaitan akan habisnya masa sewa blok agen pada bulan April ini.

"Masa pademi sepi pembeli tiket, ditambah lagi biaya sewa mau habis bulan ini," aku dia.

Ibnu mengaku biaya sewa belum pernah ada keringganan dari pihak terminal.

"Dari dulu biaya sewa per blog Rp 2 juta satu tahunnya. Tapi kan ini sepi pembeli mau di bayar pakai apa?," kata dia.

Baca juga: Pilunya Pria Sukoharjo Dadanya Tertembus Besi, Kini Terbaring Lemah,Padahal Tulang Punggung Keluarga

Baca juga: Kronologi Kecelakaan Maut di Prambanan Klaten : Sopir Avanza Silver Banting Kiri, Menghantam Pemotor

Terkait upaya tuntutan pengurangan biaya sewa ini, Ibnu sudah mencoba berkoordinasi dengan pihak Terminal Tirtonadi.

Akan tetapi, menurut pengakuan Ibnu, proses pengajuannya belum berjalan.

"Kemarin sempat koordinasi, pihak terminal bilang harus ada persetujuan dari Dinas perhubungan, bisanya cuma pasrah," ungkapnya.

"Kami hanya bisa berharap, setahun ini ekonomi sulit," harap dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved